logo_mts192
0%
Loading ...

Ketika Ramadan Mengajarkan Kita Memberi

Share the Post:
Ketika Ramadan Mengajarkan Kita Memberi

Oleh: Abdul Hamid, S.Pd. *)

Ramadan bukan hanya bulan menahan diri. Ia juga bulan melapangkan hati. Dalam bulan ini, bukan hanya ibadah yang ditingkatkan, tetapi juga kepedulian kepada sesama.

Rasulullah ﷺ adalah teladan paling sempurna dalam hal ini. Dalam sebuah hadis disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

Nabi ﷺ adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan.” (HR. al-Bukhari)

Hadis ini menggambarkan satu sifat yang sangat menonjol dari Rasulullah ﷺ: kemurahan hati. Sejak sebelum Ramadan pun beliau sudah dikenal sebagai orang yang paling pemurah. Namun ketika Ramadan datang, kemurahan itu menjadi lebih besar, lebih luas, dan lebih terasa oleh banyak orang.

Para ulama menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ di bulan Ramadan memberi dengan begitu cepat dan ringan, seperti angin yang berhembus membawa kesejukan ke mana-mana. Tidak memilih siapa yang akan menerima. Tidak menunda ketika ada yang membutuhkan. Tidak pula khawatir hartanya akan berkurang.

Baca Juga

Pahala yang Mengalir dari Sepiring Berbuka

Di bulan ini, hati beliau benar-benar terbuka.

Ramadan memang memiliki kekuatan yang unik. Ia melembutkan hati manusia. Orang yang biasanya biasa-biasa saja dalam memberi, tiba-tiba merasa ingin berbagi. Yang biasanya menahan hartanya, tiba-tiba merasa ringan mengeluarkannya. Yang sebelumnya sibuk dengan diri sendiri, mulai memperhatikan orang lain di sekitarnya.

Masjid menjadi ramai dengan hidangan berbuka. Tangan-tangan terbuka membantu fakir dan miskin. Sedekah mengalir dalam berbagai bentuk: makanan, pakaian, bantuan, bahkan sekadar senyum dan perhatian.

Inilah ruh Ramadan yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Karena hakikat puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang kekurangan. Ketika perut kita lapar, kita lebih mudah memahami lapar yang selama ini dirasakan orang lain.

Dari rasa itu lahirlah empati.
Dari empati lahirlah kedermawanan.

Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin luas pula kasih sayangnya kepada manusia.

Ramadan bukan sekadar bulan ibadah pribadi. Ia juga bulan kepedulian sosial. Bulan di mana iman dan kemanusiaan berjalan beriringan.

Maka ketika Ramadan datang, jangan biarkan ia berlalu hanya dengan ibadah yang bersifat pribadi. Jadikan ia juga sebagai waktu untuk memberi. Memberi dari apa yang kita miliki, memberi dari apa yang kita mampu, bahkan memberi dari ketulusan hati.

Karena bisa jadi, kebaikan kecil yang kita berikan di bulan ini menjadi sebab turunnya rahmat Allah kepada kita.

Dan mungkin, melalui tangan-tangan yang memberi itulah, kita sedang belajar meneladani kemurahan hati Rasulullah Saw.

*) Guru MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter