Oleh : Abdul Wafi Hasan, SH.*)
Ada hadis yang tidak hanya memberi harapan, tetapi juga mengguncang kesadaran. Ia bukan sekadar kabar gembira, melainkan peringatan yang membuat hati terdiam.
رَغْمَ أَنْفِ امْرِئٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ (رواه الطبراني)
“Celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramadan tetapi tidak diampuni dosa-dosanya.” (HR. At-Thabrani)
Betapa berat kalimat itu. Celaka. Sebuah kata yang tidak ringan. Ia bukan sekadar kehilangan kesempatan, tetapi kegagalan di tengah limpahan rahmat.
Ramadan adalah bulan yang pintu-pintu rahmatnya dibuka lebar. Ampunan mengalir, doa-doa diijabah, pahala dilipatgandakan. Setiap malam ada kesempatan untuk kembali. Setiap siang ada ruang untuk membersihkan diri. Seolah-olah Allah mendekatkan surga dan menjauhkan neraka, agar hamba-Nya mudah melangkah menuju keselamatan.
Namun hadis ini bertanya dengan jujur: bagaimana mungkin seseorang melewati bulan semulia ini, tetapi tetap pulang tanpa ampunan?
Baca Juga
Apakah karena dosanya terlalu besar? Tidak. Rahmat Allah jauh lebih besar.
Apakah karena pintu taubat tertutup? Tidak. Ramadan justru membukanya selebar-lebarnya.
Lalu apa sebabnya?
Mungkin karena hati yang tidak sungguh-sungguh. Mungkin karena puasa hanya sebatas rutinitas. Mungkin karena lisan tetap sibuk dengan kelalaian, sementara air mata taubat tak pernah jatuh. Mungkin karena kita sibuk menyiapkan hidangan berbuka, tetapi lupa menyiapkan hati untuk kembali kepada-Nya.
Ramadan bukan sekadar hadir untuk dirayakan. Ia hadir untuk dimanfaatkan.
Bayangkan seseorang berdiri di bawah hujan deras, tetapi tetap merasa haus karena enggan membuka mulutnya. Begitulah orang yang melewati Ramadan tanpa ampunan. Rahmat turun, tetapi ia tidak menengadah. Pintu dibuka, tetapi ia tidak melangkah.
Hadis ini bukan untuk membuat kita takut tanpa harapan. Justru ia adalah panggilan agar kita tidak lalai. Ia adalah alarm yang membangunkan jiwa sebelum bulan suci itu benar-benar pergi.
Setiap rakaat tarawih adalah kesempatan.
Setiap istighfar adalah penghapus noda.
Setiap sedekah adalah penebus kesalahan.
Setiap doa di sepertiga malam adalah pintu yang diketuk.
Jangan biarkan Ramadan hanya menjadi kenangan suasana. Jangan biarkan ia berlalu tanpa perubahan. Karena kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih diberi kesempatan yang sama.
Jika Allah masih mempertemukan kita dengan Ramadan, itu tanda cinta. Dan cinta itu terlalu berharga untuk disia-siakan.
Semoga kita tidak termasuk orang yang disebut dalam peringatan ini. Semoga ketika Ramadan berakhir, kita bukan hanya merasa lega karena telah menahan lapar, tetapi benar-benar ringan karena dosa telah diampuni.
Karena sungguh, kerugian terbesar bukanlah kehilangan harta atau kesempatan dunia—tetapi melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan dari Allah.
*) Guru MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


