logo_mts192
0%
Loading ...

Jalan Sunyi Menuju Ketakwaan

Share the Post:
Jalan Sunyi Menuju Ketakwaan

Oleh: Husen, S.Pd.I *)

Ada satu jalan menuju ketakwaan yang tidak ramai dilalui. Jalan itu sunyi, halus, dan seringkali luput dari perhatian. Bukan jalan yang hanya menjauhi yang jelas haram, tetapi jalan yang lebih dalam—meninggalkan yang sebenarnya boleh, demi menjaga diri dari yang berbahaya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لا يبلغُ العبدُ أن يكون من المتَّقينَ، حتى يدعَ ما لا بأسَ به، حذرًا لما به بأسٌ (رواه الترمذي وابن ماجه)

Seorang hamba tidak akan mencapai derajat orang-orang bertakwa, hingga ia meninggalkan sesuatu yang sebenarnya tidak apa-apa, karena khawatir terjatuh pada sesuatu yang bermasalah.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kita sering berpikir bahwa ketakwaan cukup dengan menjauhi yang haram. Kita merasa aman selama tidak melanggar batas yang jelas. Namun, hadits ini mengajak kita melangkah lebih jauh—ke wilayah kehati-hatian, ke ruang di mana hati menjadi sangat peka terhadap dosa.

Orang bertakwa bukan hanya yang berkata, “Ini haram, aku tinggalkan.” Tetapi juga yang berkata, “Ini boleh, tapi aku khawatir ini mendekatkanku pada yang tidak baik, maka aku tinggalkan.”

Bayangkan seseorang yang berdiri di tepi jurang. Orang biasa mungkin akan berjalan sedekat mungkin selama belum jatuh. Tetapi orang bertakwa akan mundur beberapa langkah, menjaga jarak, bahkan dari sesuatu yang tampak aman.

Karena mereka tahu, jatuh ke dalam dosa seringkali tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia dimulai dari hal-hal kecil, dari yang dianggap sepele, dari yang awalnya “tidak apa-apa”.

Sedikit kelonggaran, lalu menjadi kebiasaan. Sedikit pembiaran, lalu menjadi keberanian. Hingga akhirnya, hati pun kehilangan sensitivitasnya.

Baca Juga

Syawal: Saat Cinta Itu Dilanjutkan, Bukan Ditinggalkan

Hadits ini bukan tentang mempersulit hidup, tetapi tentang menjaga hati tetap hidup.

Ada hal-hal yang mubah—tidak berdosa jika dilakukan. Namun jika ia berpotensi menyeret kepada kelalaian, kepada syahwat yang berlebihan, atau kepada dosa yang samar, maka meninggalkannya adalah bentuk kecerdasan iman.

Inilah yang disebut oleh para ulama sebagai wara’—sikap berhati-hati dalam perkara yang tidak jelas. Sebuah kualitas yang tidak dimiliki semua orang, tetapi menjadi ciri khas orang-orang yang benar-benar ingin dekat dengan Allah.

Orang yang memiliki wara’ tidak selalu terlihat mencolok. Ia mungkin meninggalkan hal-hal kecil yang tidak dipahami orang lain. Ia mungkin tampak “terlalu hati-hati” di mata sebagian orang. Namun di sisi Allah, ia sedang menjaga sesuatu yang sangat berharga: hatinya.

Sebab hati adalah pusat segalanya. Jika hati bersih, maka amal menjadi ringan. Jika hati peka, maka dosa terasa berat. Dan jika hati hidup, maka ia akan selalu memilih jalan yang paling selamat.

Di zaman sekarang, ketika batas antara halal dan haram seringkali kabur, hadits ini menjadi cahaya penuntun. Ia mengingatkan kita untuk tidak hanya bertanya, “Bolehkah ini?” tetapi juga, “Apakah ini mendekatkanku kepada Allah, atau justru menjauhkan?”

Meninggalkan yang mubah demi menjaga diri bukanlah kerugian. Justru itulah investasi terbesar dalam perjalanan menuju ketakwaan.

Karena pada akhirnya, ketakwaan bukan hanya tentang apa yang kita lakukan—tetapi juga tentang apa yang kita pilih untuk tinggalkan, demi Allah.

*) Kepala MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter