Oleh : Akh. Farid, S.Kom *)
Selama ini, diskursus tentang Isra’ Mi’raj sering terjebak dalam perdebatan biner yang berulang: antara “ini adalah mukjizat” yang harus diterima tanpa pertanyaan, atau “ini mustahil” karena tidak sesuai dengan hukum fisika klasik. Pola pikir hitam–putih semacam ini mungkin relevan pada masa lalu, tetapi menjadi kurang memadai ketika dihadapkan pada cara berpikir Generasi Z—generasi yang tumbuh dalam ekosistem big data, kecerdasan buatan, simulasi digital, dan realitas virtual.
Bagi Generasi Z, realitas tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang sepenuhnya kasat mata dan linier. Informasi dapat berpindah lintas benua dalam sepersekian detik, identitas dapat hadir dalam ruang virtual, dan pengalaman dapat disimulasikan tanpa kehadiran fisik. Dalam konteks ini, anggapan bahwa sesuatu “mustahil” hanya karena melampaui pengalaman inderawi sehari-hari menjadi pandangan yang usang.
Oleh karena itu, Isra’ Mi’raj perlu dibedah ulang—bukan sebagai dongeng kuno yang terpisah dari nalar modern, melainkan sebagai peristiwa interselar-spiritual, yakni peristiwa yang melampaui dimensi ruang dan waktu konvensional, namun tetap memiliki koherensi jika dibaca melalui kacamata sains informasi. Dalam perspektif ini, perjalanan Nabi Muhammad SAW dapat dipahami sebagai perpindahan kesadaran, informasi, dan pengalaman spiritual pada tingkat realitas yang lebih tinggi, bukan sekadar perjalanan fisik dalam pengertian mekanistik.
Baca Juga
Dengan pendekatan ini, iman dan nalar tidak lagi saling meniadakan. Mukjizat tidak diposisikan sebagai “anti-ilmu”, melainkan sebagai isyarat bahwa realitas memiliki lapisan-lapisan yang belum sepenuhnya terjangkau oleh sains saat ini. Justru di sinilah Isra’ Mi’raj menjadi relevan bagi generasi digital: ia mengajarkan bahwa batas pengetahuan manusia selalu dapat diperluas, dan bahwa spiritualitas serta sains dapat saling menerangi, bukan saling menegasikan.
Perjalanan Tanpa Jarak: Logika “Quantum Entanglement”
Dahulu, jarak Mekkah-Palestina-Sidratul Muntaha dianggap mustahil ditempuh semalam karena kita berpikir secara fisik-mekanik. Namun, dalam dunia Fisika Kuantum, ada fenomena bernama Quantum Entanglement.
Dua partikel bisa terhubung dan bereaksi secara instan meski terpisah jarak jutaan tahun cahaya. Jika alam semesta ini adalah satu sistem yang terhubung, maka Isra’ Mi’raj adalah momen di mana “partikel” tubuh Nabi Muhammad melakukan sinkronisasi instan dengan dimensi tertinggi. Ini bukan lagi soal kecepatan lari, tapi soal aksesibilitas dimensi.
Buraq: Bukan Sekadar Kendaraan, Tapi “Data Carrier”
Visualisasi Buraq sering digambarkan sebagai hewan bersayap. Namun secara etimologi (Barq = Cahaya), kita bisa melihatnya sebagai entitas Energi Murni.
Dalam dunia digital, informasi berpindah melalui foton (cahaya). Untuk menembus batas atmosfer dan hukum gravitasi, materi fisik harus “diterjemahkan” menjadi bentuk energi agar bisa bergerak tanpa hambatan gesekan. Isra’ Mi’raj adalah demonstrasi pertama di dunia tentang bagaimana biologi manusia bisa berinteraksi dengan kecepatan cahaya tanpa hancur—sebuah teknologi “enkripsi” Tuhan yang melampaui imajinasi Elon Musk.
Sidratul Muntaha sebagai “Mainframe” Alam Semesta
Gen Z sangat paham dengan istilah Cloud Storage atau Server Central. Bayangkan Sidratul Muntaha sebagai Mainframe atau Pusat Data dari seluruh realitas.
Nabi Muhammad dibawa ke sana bukan sekadar untuk “jalan-jalan”, melainkan untuk menerima “protokol” kehidupan (Shalat). Mengapa harus ke sana? Karena untuk mengubah sistem di tingkat bawah (Bumi), seseorang harus mengakses “Root” atau kode sumbernya di tingkat atas. Ini adalah perjalanan admin semesta untuk membawa instruksi baru bagi umat manusia.
Shalat: Teknik “Log-Out” dari Simulasi Dunia
Salah satu isu terbesar Gen Z adalah mental fatigue akibat scrolling tanpa henti. Isra’ Mi’raj memberikan solusi paling sistematis melalui Shalat 5 waktu.
Jika dunia ini adalah simulasi yang melelahkan, maka Shalat adalah momen “Force Close” dari aplikasi duniawi dan melakukan “Sync” kembali dengan server pusat (Tuhan). Secara rasional, shalat adalah jeda teknis agar sistem saraf manusia tidak overheat (stres). Lima kali sehari adalah frekuensi ideal untuk memastikan “firmware” jiwa kita tetap terupdate dan tidak terkena virus keputusasaan.
Verifikasi “Blockchain”: Kejujuran Tanpa Celah
Rasionalitas peristiwa ini ditutup dengan validasi data yang sangat ketat. Ketika Nabi kembali, beliau memberikan rincian geografis dan posisi kafilah dagang yang sedang bergerak.
Dalam logika Blockchain, data dianggap benar jika ada konsensus dan bukti yang tidak bisa dimanipulasi. Kesaksian Nabi tentang kafilah yang akan datang beberapa hari kemudian adalah “hash” atau bukti digital yang tidak bisa dipalsukan oleh siapapun pada masa itu.
Iman adalah Sains yang Belum Terpecahkan
Isra’ Mi’raj adalah pesan bagi Gen Z bahwa logika kita hanyalah sekoci kecil di tengah samudra realitas yang luas. Menolak Isra’ Mi’raj hanya karena belum ada teknologinya saat ini, sama seperti orang abad ke-15 yang menolak ide tentang internet.
Peristiwa ini bukan mengajak kita untuk tidak logis, melainkan mengajak logika kita untuk “melompat” lebih tinggi.
*) Guru TIK MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


