logo_mts192
0%
Loading ...
Dunia
0
Jalan Sunyi Menuju Ketakwaan
0
Reuni atau Kompetisi? Refleksi Atas Budaya Pamer di Hari Raya Idul Fitri
0
Ketupat: Anyaman Tradisi, Anyaman Hati
0
Syawal: Saat Cinta Itu Dilanjutkan, Bukan Ditinggalkan
0
Hari Raya: Antara Ibadah dan Keceriaan
0
Pesan Rasulullah saw tentang Silahturrahim
0
Agar Silaturrahim Bernilai Ibadah
0
Melanjutkan Cahaya Ramadan
0
Makna Hakiki dari Hari Raya Idul Fitri
0
Agar Hati Tetap Hidup di Hari Raya
0
Puasa : Terapi Sehat Jiwa dan Raga
0

Category: Puisi

untukmu ayah

For You, Dad

Karya: Almira Tungga Dewi Kristiawan *) Ayah…Kau bagai lenteraMenyinari gelap gulitakuMenerangi malam-malamkuMalam yang dinginMalam yang penuh ketakutan Ayah…Kau seperti pahlawan

Pahlawan Bangsa Indonesia

Pahlawan Indonesia

Karya: Weggy Chelsa Olivia | Kelas 9 Darah merahmu menetes,Membasahi seluruh tubuhmu.Senjatamu hanya bambu runcing,Namun tekadmu sebesar langit.Kau korbankan keluarga

Itukah Merdeka?

Itukah Merdeka?

Oleh: Fathur Rahman, S.Pd.I *) Kokok ayam jantan mengakhiri keheningan malam.Fajar pun di ufuk timur mulai menyingsing.Kumandang adzan meramaikan toa-toa

Indonesia Merdeka

Indonesia Merdeka

Karya: Lisa | Siswi Kelas 9 Indonesia, negeri yang kaya,Penuh budaya, penuh warna.Negeri yang selalu jaya,Di setiap masa, di tiap

Merah Darahmu, Semangat Kami

Merah Darahmu, Semangat Kami

Karya: Devita Merah darahmu menggelora,Semangat juangmu takkan sirna.Meski nyawa jadi taruhan,Meski derita jadi kawan. Kau tegakkan kemerdekaan,Dengan peluh dan pengorbanan.Tanpa

Perpisahan dengan Guru

Perpisahan

Karya: Dini Fitria Royhana Adibah *) Perpisahan telah tiba,Hari yang dulu terasa jauhKini datang tanpa bisa ditundaMeninggalkan sejuta rasaAntara haru

Persahabatan

Sahabat

Karya: Saidatul Fatimah *) Kesalahan mungkin paling banyak darikuYang tak kunjung sadar akan sikapmuMenunggu bukan sekadar harapTapi jebakan rasa nyaman

andai aku jadi presiden

Andai Aku Jadi Presiden

Karya: Reva Yuni Ningsih *) Bangkitlah…..Bangkitlah wahai pemudaLupakan sudah kaum belandaYang lalu biarlah laluMasa lalu jadikan ilmu Musuh besarmu bukanlah

PPMU Bakid Pesantrenku

Pesantrenku

Karya : Nuril Maulidya Ariska *) Di balik tembok nan sederhana dan sunyi,Pesantren berdiri, teduh berseri.Cahaya ilmu menari di pelita