logo_mts192
0%
Loading ...

Awal Ramadlan, Kenapa Pemerintah, NU dan Muhammadiyah Berbeda?

Share the Post:
Awal Ramadlan, Kenapa Pemerintah, NU dan Muhammadiyah Berbeda?

Oleh : Fathur Rahman, S.Pd.I., M.Pd *)

Penetapan awal bulan Ramadan di Indonesia sering menimbulkan perbedaan antara pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag), Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah. Fenomena ini berakar pada perbedaan metodologi penentuan awal bulan qamariyah, yaitu rukyat (pengamatan hilal langsung) versus hisab (perhitungan astronomis), yang masing-masing memiliki dasar syar’i kuat.

Pemerintah dan Nahdlatul Ulama berprinsip pada AL Quran dan Hadits sebagai dasar dalam pengambilan keputusan, dalam hal ini seperti QS. Al-Baqarah (2): 189

 يَسـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْاَهِلَّةِۗ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّۗ

Artinya: Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, “Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.”

Dan Hadits Nabi

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ وَانْسُكُوا لَهَا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا ثَلَاثِينَ

Artinya: Berpuasalah kalian karena melihatnya, berbukalah kalian karena melihatnya dan sembelihlah kurban karena melihatnya pula. Jika -hilal- itu tertutup dari pandangan kalian, sempurnakanlah menjadi tiga puluh hari.”(HR. An Nasai no. 2116).

الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً ، فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِينَ

Artinya: Apabila bulan telah masuk kedua puluh sembilan malam (dari bulan Sya’ban, pen). Maka janganlah kalian berpuasa hingga melihat hilal. Dan apabila mendung, sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi tiga  puluh hari.” (HR. Bukhari no. 1907 dan Muslim no. 1080)

Muhammadiyah juga memiliki prinsip yang juga berdasarkan Al Qur’an dalam surat QS. Yunus (10): 5

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّۗ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ ۝٥

Artinya : Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Dialah pula yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu, kecuali dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada kaum yang mengetahui.

Baca Juga

Refleksi Isra’ Mi’raj Bagi Pendidik Generasi Penerus Bangsa

Perbedaan ini bukanlah hal baru, dalam 15 tahun terakhir, NU dan Muhammadiyah berbeda awal puasa hingga lima kali. Pemerintah dan NU mengadopsi pendekatan hybrid melalui Sidang Isbat, sedangkan Muhammadiyah ilmiah global. Perdebatan tentang hisab vs rukyat ini tentunya sangat mempengaruhi keseragaman dalam pelaksanaan ibadah seperti awal puasa Ramadan, Idul Fitri, dan Arafah, bahkan secara global. Di Indonesia, faktor sosial dan otoritas lembaga memperkuat dinamika ini, meski semua metode bertujuan kemaslahatan umat.

Berikut beberapa data Hilal pada Selasa 17 Februari 2026 dari berbagai sumber:

  • Nurul Anwar
Ijtimak / KonjungsiSelasa malam Rabu 17 Februari 2026
Jam Ijtimak/Kongjungsi07:40 WIS | 19:21 WIB
Ketinggian Hilal pada Selasa Malam Rabu-01° 25′
Elongasi1,61
Azimut Matahari011° 40′ Selatan
Azimut Hilal05° 59′ Selatan
  • Irsyadu al-Murid
Ijtimak / KonjungsiSelasa malam Rabu 17 Februari 2026
Jam Ijtimak/Kongjungsi07:51 WIS | 19:04 WIB
Ketinggian Hilal pada Selasa Malam Rabu-01° 52′
Elongasi1,16
Azimut Matahari012° 09′ Selatan
Azimut Hilal013° 18′ Selatan
  • Badi’atu al-Mitsal
Ijtimak / KonjungsiSelasa malam Rabu 17 Februari 2026
Jam Ijtimak/Kongjungsi07:22 WIS | 19:02 WIB
Ketinggian Hilal pada Selasa Malam Rabu-00° 23′
Elongasi1,66
Azimut Matahari011° 40′ Selatan
Azimut Hilal05° 49′ Utara
  • Ephemeris
Ijtimak / KonjungsiSelasa malam Rabu 17 Februari 2026
Jam Ijtimak/Kongjungsi07:17 WIS | 18:58 WIB
Ketinggian Hilal pada Selasa Malam Rabu-00° 35′
Elongasi1,5
Azimut Matahari012° 08′ Selatan
Azimut Hilal013° 21′ Selatan

Dari beberapa data Hilal di atas dapat disimpulkan bahwa pada hari selasa 17 Februari kemungkinan besar rukyat tidak akan berhasil dan hilal tidak akan terlihat karena masih ada di bawah ufuk, jadi bulan Sya’ban akan diistikmalkan atau digenapkan menjadi 30 hari dan 1 Ramadlan akan jatuh pada hari Kamis tanggal 19 Februari 2026.

Metode Pemerintah (Kemenag) dan Nahdlatul Ulama (NU)

Kemenag dan NU menggunakan kombinasi antara hasil hisab dan rukyatul hilal dengan kriteria MABIMS: ketinggian hilal minimal 3°, elongasi 6,4°. Keputusan diambil pasca Sidang Isbat berdasarkan laporan pengamatan nasional ( Pemerintah dengan seluruh Kemenagnya di kabupaten/kota di Indonesia dan NU dengan PCNU_nya di  seluruh wilayah kabupaten/kota di Indonesia) jika hilal tidak terlihat maka bulan diistikmalkan atau di genapkan menjadi 30 hari dengan artian awal bulan ditunda satu hari. Pendekatan ini menjamin legitimasi resmi tapi rentan cuaca, seperti sering terjadi di wilayah tropis Indonesia. Berdasarkan beberapa data hasil perhitungan hisab dari berbagai metode menunjukkan potensi ketinggian hilal malam 17 Februari 2026 negatif (-0.23° hingga -1.25° di berbagai hisab) hal ini menunjukkan bahwa pada hari selasa 17 Februari 2026 saat matahari terbenam hilal masih berada di bawah ufuk dan dapat dipastikan hilal tidak dapat di lihat.

Metode Muhammadiyah (KHGT)

Muhammadiyah menerapkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) via hisab hakiki wujudul hilal atau imkanur rukyat global dengan ketinggian ≥5°, elongasi ≥8°, sah jika terpenuhi di satu titik bumi sebelum 00:00 UTC.  Jadi Majelis Tarjih Muhammadiyah tanpa rukyatul hilal jauh hari sebelumnya telah memutuskan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada hari Rabu 18 Februari 2026.

            Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) adalah sistem penanggalan Islam yang diinisiasi oleh Muhammadiyah untuk menyatukan kalender Hijriah di seluruh dunia, menerapkan prinsip satu hari, satu tanggal, dan satu matlak (zona waktu). Tujuannya adalah menciptakan keseragaman hari ibadah (seperti 1 Ramadan/Syawal), mengakhiri perbedaan penanggalan, dan mempermudah peradaban Islam. 

KHGT berprinsip pada Sistem Satu Hari Satu Tanggal, ia memastikan 1 Muharram atau 1 Syawal dan lainnya jatuh pada hari yang sama di seluruh dunia. Dan menggunakan perhitungan astronomi (hisab) yang akurat, dengan standar kriteria imkanur rukyat (tinggi hilal 5° dan elongasi 8°). Dengan Satu Matlak, yakni Bumi dianggap sebagai satu kesatuan, tidak lagi lokal berdasarkan wilayah tertentu. KHGT resmi diluncurkan Muhammadiyah pada 25 Juni 2025 dan diterapkan efektif mulai Muharram 1447 H. 

KHGT bertujuan untuk menyatukan umat dalam mewujudkan kesatuan hari besar islam di seluruh dunia agar tidak ada perbedaan. Dan kepastian waktu, dengan memberikan kepastian tanggal untuk ibadah, perjanjian, dan peradaban, menghilangkan perdebatan tahunan. Juga efisiensi dan keteraturan untuk mencegah perpecahan dan efisiensi waktu serta energi umat. serta menuju peradaban maju dengan mengikuti jejak kalender masehi yang sudah terstandar secara global. 

Perbandingan Metodologi

KriteriaPemerintah/NU (MABIMS)Muhammadiyah (KHGT)
Metode UtamaHisab + RukyatHisab global tanpa Rukyat
Ketinggian Hilal≥3°≥5°
Elongasi≥6.4°≥8°
Pengambilan KeputusanSidang Isbat akhir bulanMajelis Tarjih awal tahun

Kemudian ada pertanyaan, “kita sebagai ummat ikut yang mana ?”

Maka dalam hal ini Al Qur’an menjelaskan di dalam surat Surat An-Nisa ayat 59 (QS. 4:59)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًاࣖ ۝٥٩

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat). ( An-Nisa ayat 59 ).

Jadi kita sebagai ummat dan warga negara yang memiliki pemerintahan yang sah hendaknya menunggu hasil keputusan pemerintah melalui sidang itsbat oleh Kementerian Agama RI yang insyaaAllah akan di laksanakan pada hari Selasa 17 Februari 2026 pukul 18.00 WIB – Selesai. Namun jika keputusan tersebut nantinya berbeda dengan apa yang telah ditetapkan oleh Majlis Tarjih Muhammadiyah maka hendaknya janganlah dijadikan sebuah permasalahan apalagi konflik. Meski berbeda, ukhuwah tetaplah harus terjaga karena perbedaan ijtihad merupakan sebuah anugerah.

Selamat menunaikan ibadah Puasa !

*) Guru MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter