logo_mts192
0%
Loading ...

Jangan Pelit Mendoakan Orang Lain

Share the Post:

Oleh: Muhammad Said Fadhori, S.Pd.I *)

Doa adalah bahasa cinta yang paling tulus. Ia tidak membutuhkan suara yang lantang, tidak memerlukan panggung, dan tidak mengharapkan tepuk tangan. Ia lahir dari hati yang bersih, lalu terbang menuju langit, membawa harapan bagi orang lain dan keberkahan bagi diri sendiri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ : وَلَكَ بِمِثْل (رواه مسلم)

Tidak ada seorang muslim yang mendoakan saudaranya di belakangnya (tanpa sepengetahuannya), melainkan malaikat berkata, ‘Dan bagimu juga seperti itu.’” (HR. Muslim)

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, kita sering begitu pandai meminta doa untuk diri sendiri, tetapi begitu pelit mendoakan orang lain. Kita berharap kesehatan, sementara lupa mendoakan mereka yang sedang terbaring sakit. Kita memohon kelapangan rezeki, tetapi jarang berdoa agar saudara kita juga dimudahkan urusannya. Kita menginginkan kebahagiaan, namun hati terasa sempit ketika melihat orang lain memperoleh nikmat.

Baca Juga

Spirit Hijrah dalam Pendidikan: Berani Berubah, Berani Bertumbuh

Padahal Islam mengajarkan sesuatu yang sangat indah. Ketika kita mengangkat tangan dan mendoakan saudara kita tanpa sepengetahuannya, sesungguhnya kita sedang menanam benih kebaikan yang buahnya akan kembali kepada diri kita sendiri. Allah mengutus malaikat untuk mengamini doa tersebut seraya berkata, “Dan bagimu juga seperti itu.”

Betapa luar biasanya janji ini. Kita mendoakan kesehatan orang lain, lalu malaikat memohonkan kesehatan yang sama untuk kita. Kita mendoakan rezeki yang halal dan berkah bagi sahabat kita, lalu malaikat memohon agar Allah memberikan keberkahan yang sama kepada kita. Kita memohon agar orang lain dimudahkan segala urusannya, dan tanpa kita sadari, malaikat pun memohon kemudahan bagi kehidupan kita.

Doa yang paling tulus justru lahir ketika tidak ada kepentingan pribadi di dalamnya. Tidak ada pujian yang dicari, tidak ada balasan yang diharapkan dari manusia. Hanya Allah yang mengetahui bahwa di sepertiga malam, di sela-sela sujud, atau selepas salat, kita menyebut nama seseorang dengan penuh kasih, berharap Allah menghapus kesedihannya, menyembuhkan penyakitnya, melapangkan rezekinya, dan menjaga keluarganya. Mungkin orang yang kita doakan tidak pernah tahu. Namun Allah Maha Mengetahui, dan malaikat tidak pernah lupa mengaminkan doa itu.

Ada kalanya kita merasa doa-doa kita belum juga dikabulkan. Mungkin salah satu jalan yang Allah bukakan adalah melalui doa yang kita panjatkan untuk orang lain. Ketika kita menjadi penyebab datangnya kebaikan bagi sesama, Allah mampu mendatangkan kebaikan kepada kita melalui cara yang tidak pernah kita bayangkan.

Ironisnya, terkadang hati manusia lebih mudah dipenuhi iri daripada doa. Kita sibuk membandingkan hidup, menghitung keberhasilan orang lain, bahkan berharap nikmat mereka berkurang. Padahal, tidak ada sedikit pun rezeki kita yang akan berpindah kepada orang lain hanya karena kita mendoakan mereka. Justru dengan doa itu, Allah meluaskan hati kita, membersihkan jiwa dari dengki, dan menggantinya dengan ketenangan yang sulit dibeli oleh apa pun.

Bayangkan jika setiap keluarga saling mendoakan tanpa diminta. Bayangkan jika para guru mendoakan murid-muridnya, para murid mendoakan gurunya, para pemimpin mendoakan rakyatnya, dan masyarakat mendoakan para pemimpinnya. Betapa damai kehidupan ini jika doa menjadi budaya, bukan sekadar formalitas. Sebab doa adalah jembatan kasih sayang yang menghubungkan hati-hati manusia di bawah naungan rahmat Allah.

Mulai hari ini, jangan pelit mendoakan orang lain. Doakan kedua orang tua kita agar Allah memanjangkan umur mereka dalam ketaatan atau mengampuni mereka jika telah tiada. Doakan pasangan dan anak-anak kita agar menjadi penyejuk hati. Doakan sahabat-sahabat kita yang sedang berjuang. Doakan mereka yang sedang sakit, yang terlilit utang, yang kehilangan pekerjaan, yang sedang bersedih, bahkan mereka yang pernah menyakiti kita. Karena bisa jadi, justru doa yang lahir dari hati yang telah memaafkan menjadi sebab Allah mengangkat derajat kita.

Sesungguhnya hidup ini bukan tentang siapa yang paling banyak menerima doa, tetapi siapa yang paling banyak mendoakan. Sebab setiap doa yang tulus untuk orang lain tidak pernah hilang di langit. Ia akan kembali kepada pemiliknya, membawa keberkahan yang sama, sebagaimana janji Rasulullah ﷺ yang tidak pernah dusta.

Maka, jika hari ini engkau ingin hidupmu dipenuhi keberkahan, jangan hanya sibuk meminta kepada Allah untuk dirimu sendiri. Sebutlah nama saudaramu dalam doamu. Karena ketika engkau menghadiahkan doa untuk orang lain, sesungguhnya Allah sedang menyiapkan hadiah yang sama untukmu melalui lisan para malaikat-Nya.

*) Waka Kesiswaan MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter