Oleh: Fathur Rahman, S.Pd.I., M.Pd *)
Ada saat-saat dalam hidup ketika manusia perlu bercermin lebih dalam, bukan pada wajahnya, melainkan pada jiwanya. Sebab di balik dada yang tampak tenang, sering bersembunyi seekor “binatang” kecil bernama ego, ia sering ingin dipuji, ingin menang, ingin menguasai, ingin memiliki, ingin diutamakan, ingin jadi yang terdepan bahkan ingin yang lain tunduk padanya. Ia tidak selalu datang dengan wajah buas, kadang ia hadir lembut, menyamar sebagai ambisi, kesenangan, atau rasa paling benar sendiri. Dan di sinilah kurban hadir, bukan hanya sebagai ritual, melainkan sebagai seruan sunyi agar manusia belajar menundukkan kebuasan yang bersemayam di dalam dirinya.
Kurban adalah bahasa langit yang diturunkan ke bumi. Ia bukan sekadar darah yang mengalir, bukan pula daging yang dibagikan, melainkan isyarat bahwa ada sesuatu dalam diri manusia yang harus rela dilepas. Seperti Nabi Ibrahim yang menggenggam ketaatan dengan tangan gemetar, seperti Ismail yang menyambut takdir dengan dada lapang, kurban mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus lebih tinggi daripada cinta kepada diri sendiri bahkan keluarga. Di titik itu, manusia dipanggil untuk menyerahkan yang paling dicintainya, agar ia tidak diperbudak oleh apa yang ia miliki.
Baca Juga
Di dalam diri manusia, ego sering tumbuh seperti rumput liar. Ia menjalar diam-diam, menutup cahaya keikhlasan, membelit akar-akar kasih sayang. Ego membuat hati keras, enggan mengapresiasi pencapaian orang lain, membuat tangan berat untuk memberi, membuat mata sempit melihat penderitaan orang lain. Maka berkurban sejatinya adalah upaya merobohkan dinding-dinding itu. Setiap hewan yang disembelih seakan menjadi bayang-bayang dari nafsu yang juga harus disembelih: keserakahan, keangkuhan, kesombongan, keakuan, kecemburuan, dan cinta berlebih pada dunia.
Betapa kurban mengandung pelajaran yang lembut namun tajam. Ia mengingatkan bahwa yang paling sulit bukanlah melepaskan harta, tetapi melepaskan keakuan. Yang paling berat bukanlah menyerahkan sesuatu yang tampak di tangan, tetapi menundukkan sesuatu yang telah lama berdiam di hati. Karena itu, kurban bukan sekadar perayaan, melainkan penyucian. Ia adalah hujan yang turun untuk membersihkan tanah batin yang lama kering oleh nafsu dan keinginan yang tak pernah kenyang.
Dalam dunia yang riuh oleh perlombaan dan kepemilikan, kurban tampil sebagai bisikan yang menenangkan, hidup tidak hanya tentang mengumpulkan, tetapi juga tentang melepaskan. Tidak hanya tentang mengambil, tetapi juga tentang memberi. Tidak hanya tentang meninggikan diri, tetapi juga tentang merendahkan hati. Sebab manusia yang paling mulia bukanlah yang paling banyak menggenggam, melainkan yang paling ringan melangkah karena tidak terlalu diikat oleh dunia.
Maka, setiap Iduladha sejatinya adalah panggilan pulang. Panggilan untuk kembali pada fitrah, pada kesederhanaan, pada cinta yang tidak memuja diri. Ketika tangan menyembelih hewan kurban, semestinya hati pun ikut menyembelih kesombongan yang selama ini memelihara jarak antara manusia dan Tuhannya, antara manusia dan sesamanya, bahkan antara manusia dan dirinya sendiri. Dari sanalah kurban menemukan hakikatnya; bukan pada bilah pisau, melainkan pada keberanian untuk berubah.
Dan jika “ego binatang” dalam diri berhasil roboh, maka yang lahir bukan kehampaan, melainkan keluhuran. Dari reruntuhan keserakahan tumbuh kepedulian. Dari puing kesombongan tumbuh kerendahan hati. Dari lenyapnya keakuan tumbuh cinta yang lebih luas. Itulah esensi kurban yang paling hakiki; menjadikan manusia lebih manusia, karena ia telah belajar mengalahkan sisi paling rendah dalam dirinya demi meraih kedekatan dengan Yang Mahatinggi.
*) Kepala MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


