Oleh : Fathur Rahman, S.Pd.I., M.Pd *)
Setiap tahun, Hari Raya Idul Fitri datang membawa suasana hangat dan penuh makna. Umat Islam di seluruh dunia merayakannya sebagai penutup bulan suci Ramadlan waktu untuk kembali bersih, mempererat silaturahmi, dan memulihkan hubungan yang sempat renggang. Namun, di tengah semangat kebersamaan itu, muncul fenomena yang cukup menggelitik yaitu budaya “pamer” yang sering kali menyelusup dalam suasana hari raya. Maka muncul pertanyaan apakah lebaran kini lebih mendekati reuni, tempat kita mempertemukan hati, atau justru kompetisi, ajang memamerkan pencapaian?
Tradisi Silaturrrahmi yang Bergeser Makna
Pada hakikatnya, Idul Fitri adalah momentum spiritual untuk saling memaafkan dan memperkuat ukhuwah. Namun, dalam kehidupan modern, tradisi mudik dan berkumpul sering kali diwarnai semangat pamer pakaian baru yang serba mahal, kendaraan terbaru, bahkan gaya hidup yang menonjolkan status sosial. Media sosial semakin memperkuat tren ini. Foto-foto keluarga berbusana senada, rumah megah dengan dekorasi menawan, dan narasi pencapaian materi sering kali menggantikan pesan kesederhanaan dan syukur yang menjadi inti Idul Fitri.
Baca Juga
Fenomena ini menandakan pergeseran nilai dari ukhuwah menjadi gengsi, dari keikhlasan menjadi eksistensi. Dalam konteks masyarakat urban yang kompetitif, bahkan momen spiritual pun mudah berubah menjadi ajang pembuktian diri di hadapan orang lain.
Media Sosial dan Panggung Lebaran
Budaya pamer bukan semata soal materi, tetapi juga tentang citra. Saat kita memotret dan membagikan momen lebaran di media sosial, sering kali tanpa sadar kita sedang menampilkan versi terbaik dari diri yang ingin terlihat sukses, bahagia, dan serba cukup. Dunia digital seakan menjelma menjadi panggung besar, tempat setiap orang berlomba-lomba menunjukkan versi terbaik dari hidupnya.
Padahal, Islam mengajarkan tawadhu’ (kerendahan hati) dan ikhlas sebagai nilai utama. Rasulullah SAW. justru mencontohkan kesederhanaan dalam setiap momen kemenangan, bahkan di hari raya. Sementara kita, di era modern, kerap terjebak dalam logika likes dan views, hingga lupa bahwa nilai sejati lebaran terletak pada hati yang bersih, bukan tampilan yang memukau.
Kembali ke Esensi Idul Fitri sebagai Ajang Reuni Hati
Reuni sejati di hari lebaran bukanlah sekadar bertemu fisik, tetapi menyatukan kembali hati yang pernah berjarak. Ia menjadi ruang spiritual untuk rekonsiliasi sosial dengan keluarga, sahabat, maupun tetangga. Oleh karena itu, Idul Fitri semestinya menjadi momen untuk berbagi, bukan membandingkan dan memperbaiki, bukan menonjolkan.
Kita bisa memulai dari hal kecil seperti mengenakan pakaian sederhana namun bersih, memberi maaf tanpa gengsi, serta menghadiri silaturahmi tanpa maksud membandingkan diri dengan orang lain. Bila setiap pertemuan di lebaran diniatkan untuk mempererat tali kasih, bukan menambah jarak sosial, maka nilai spiritualnya akan kembali terasa kuat.
Fenomena budaya pamer pada hari raya memang sulit dihindari di zaman modern. Namun, kita selalu punya pilihan dengan menjadikan Idul Fitri sebagai reuni hati, bukan kompetisi prestise. Saat niat kembali pada makna dasarnya yakni menghidupkan kasih, berbagi rezeki, dan memperbaiki diri, maka kita benar-benar merayakan kemenangan yang hakiki.
*) Guru MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


