Oleh : Fathur Rahman, S.Pd.I., M.Pd *)
Di setiap datangnya hari raya, umat Islam di seluruh dunia bergembira menyambutnya. Suasana penuh kegembiraan tampak di mana-mana — pakaian baru dikenakan, makanan lezat disajikan, dan rumah dihiasi dengan seindah mungkin. Namun, di balik semua itu, maqālah bijak dari ulama salaf berikut mengingatkan kita akan makna yang lebih hakiki dari hari raya:
ليس العيد لمن لبس الجديد ولكن العيد لمن هو يعيد وطاعته تزيد
Artinya: “Hari raya Bukanlah bagi orang yang sekadar memakai pakaian baru, tetapi hari raya sejati adalah bagi orang yang ketaatannya bertambah.”
Makna dan Kandungan Maqālah ini mengajarkan bahwa hakikat kebahagiaan seorang mukmin bukan terletak pada penampilan lahiriah semata, melainkan pada kondisi batin yang semakin dekat kepada Allah. Pakaian baru hanya simbol luarnya, yang lebih penting adalah diperbaharuinya hati, iman, dan tekad untuk terus istiqamah dalam ketaatan.
Baca Juga
Dalam konteks ini, hari raya Idulfitri bukan semata-mata perayaan sosial, tetapi momentum spiritual untuk melakukan introspeksi. Setelah Ramadhan, seorang Muslim seharusnya menjadi pribadi yang lebih taat dan lebih berakhlak mulia.
Ada beberapa indikator bahwa seseorang muslim benar-benar meraih hari raya dalam makna maqālah tersebut:
- Iman dan taqwa meningkat; Setelah melalui satu bulan ramadlan yang penuh dengan ibadah kedekatannya kepada Allah tetap terjaga, bahkan bertambah.
- Akhlaq semakin baik; Lisannya lebih terjaga, hatinya lebih lembut, dan amalnya lebih tulus.
- Rasa syukur yang mendalam; Ia mensyukuri nikmat Allah tidak dengan kemewahan, tetapi dengan ibadah dan kepedulian terhadap sesama.
- Kesinambungan amal shaleh; Ia tidak berhenti beribadah setelah Ramadhan berlalu, melainkan terus memperbanyak amal ketaatan di bulan-bulan berikutnya.
Hari raya dalam pandangan Islam adalah saat mengembalikan fitrah manusia, fitrah untuk mengenal dan menaati Allah. Karena itu, kebahagiaan yang lahir dari taat akan jauh lebih kekal daripada kebahagiaan yang lahir dari penampilan semata.
Oleh karena itu, marilah kita renungkan kembali pesan maqālah ini, jangan sampai kita terperangkap dalam formalitas lahiriah yang melupakan substansi spiritual. Hari raya bukan tentang pakaian, makanan, atau pesta, tetapi tentang ketaatan, kesyukuran, dan peningkatan iman. Hari raya sejati adalah ketika kita kembali (yu‘īd) kepada Allah dengan ketaatan yang bertambah (ta‘ātuhu tazīd). Semoga Idulfitri tahun ini menjadi titik tolak bagi kita semua untuk istiqamah dalam amal saleh, menjaga akhlak mulia, dan senantiasa mensyukuri nikmat-Nya. Wallahu a’lam bisshawāb.
*) Guru MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


