logo_mts192
0%
Loading ...

Ketika Allah Sendiri yang Memberi Makan

Share the Post:
Ketika Allah Sendiri yang Memberi Makan

Oleh: Mochammad Fathur Rosi, SH. *)

Puasa sering dipahami sebagai ibadah yang penuh aturan. Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, seorang Muslim menjaga dirinya dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan. Karena itu, banyak orang merasa sangat khawatir jika tanpa sengaja melakukan sesuatu yang dapat merusak puasanya.

Namun Islam adalah agama yang penuh rahmat. Ia memahami kelemahan manusia, termasuk lupa yang kadang tak bisa dihindari.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَن أكَلَ ناسِيًا وهو صائِمٌ، فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ؛ فإنَّما أطْعَمَهُ اللَّهُ وسَقاهُ (رواه البخاري)

Barang siapa makan karena lupa saat ia sedang berpuasa, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Sesungguhnya Allah-lah yang telah memberinya makan dan minum.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menghadirkan satu pelajaran yang sangat menenangkan: bahwa Allah tidak membebani manusia atas sesuatu yang di luar kesadarannya. Lupa adalah bagian dari sifat manusia. Ia bukan kesengajaan, bukan pula bentuk kelalaian yang disengaja.

Baca Juga

Di Setiap Berbuka, Ada yang Dibebaskan

Karena itu, jika seseorang tanpa sadar makan atau minum ketika sedang berpuasa, puasanya tidak batal. Ia hanya perlu melanjutkan puasanya seperti biasa.

Namun yang lebih menyentuh dari hadis ini bukan hanya hukumnya, tetapi cara Rasulullah ﷺ menjelaskannya.

Beliau tidak sekadar berkata bahwa puasanya tetap sah. Beliau mengatakan bahwa orang itu “telah diberi makan dan minum oleh Allah.”

Ungkapan ini begitu lembut dan penuh makna. Seolah-olah Allah sendiri yang menenangkan hati hamba-Nya agar tidak merasa bersalah atas sesuatu yang tidak disengaja. Apa yang terjadi bukanlah pelanggaran, melainkan bagian dari rahmat Allah.

Bayangkan seseorang yang sedang berpuasa dengan sungguh-sungguh. Ia menahan lapar dan dahaga sepanjang hari. Lalu karena lupa, ia makan atau minum sejenak. Begitu ia tersadar, mungkin hatinya langsung gelisah, takut puasanya rusak.

Namun Islam datang dengan kelembutan: jangan khawatir. Itu bukan kesalahanmu. Itu adalah rezeki yang Allah berikan kepadamu.

Hadis ini mengajarkan bahwa hubungan antara hamba dan Tuhannya bukan hanya hubungan perintah dan larangan. Ia juga hubungan kasih sayang. Allah bukan hanya Dzat yang memerintahkan kita beribadah, tetapi juga Dzat yang memahami keterbatasan kita.

Puasa memang melatih kedisiplinan. Namun ia juga mengajarkan bahwa rahmat Allah selalu lebih luas daripada kesalahan manusia.

Maka ketika seseorang lupa lalu makan saat berpuasa, jangan tergesa-gesa mencela. Ingatlah bahwa mungkin saat itu Allah sedang menunjukkan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya.

Dan bagi yang mengalaminya, lanjutkanlah puasamu dengan tenang. Karena jika itu terjadi karena lupa, bukan engkau yang melanggar aturan puasa—melainkan Allah yang sedang memberimu rezeki di tengah ibadahmu.

*) Kepala TU MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter