Oleh : Abdul Gofur Arrozi, S.E. *)
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perjalanan panjang menuju rahmat dan ampunan Allah. Setiap hari yang kita jalani dalam puasa sesungguhnya adalah langkah demi langkah mendekati pembebasan dari dosa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى عِندَ كُلِّ فِطْرٍ عُتَقَاءَ مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala pada setiap waktu berbuka memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka.”
(HR. Ahmad)
Hadis ini menghadirkan harapan yang sangat luas. Setiap kali matahari tenggelam dan azan Maghrib berkumandang, bukan hanya puasa yang selesai. Pada saat itu pula, Allah membebaskan sebagian hamba-Nya dari api neraka.
Baca Juga
Bayangkan betapa agungnya momen berbuka itu. Di banyak rumah, orang-orang sibuk menyiapkan makanan. Ada yang menunggu dengan segelas air, ada yang duduk bersama keluarga, ada pula yang berbuka di masjid bersama jamaah. Namun di balik kesederhanaan itu, ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di langit: Allah memilih hamba-hamba-Nya untuk dibebaskan dari siksa.
Mungkin seseorang yang sepanjang hari berjuang menjaga lisannya. Mungkin seseorang yang menahan amarahnya meski dipancing emosi. Mungkin seseorang yang diam-diam menangis dalam doanya sebelum berbuka.
Kita tidak pernah tahu siapa yang dipilih Allah pada saat itu.
Bisa jadi orang yang kita anggap biasa justru termasuk di antara mereka yang dibebaskan. Bisa jadi seseorang yang duduk tenang dengan kurma di tangannya, hatinya penuh harap dan tawadhu, lalu Allah menuliskan namanya dalam daftar orang-orang yang merdeka dari neraka.
Inilah yang membuat Ramadan begitu istimewa. Kesempatan itu tidak datang sekali saja. Ia datang setiap hari. Setiap berbuka adalah peluang baru. Setiap senja adalah pintu harapan yang kembali dibuka.
Jika hari ini kita belum merasa cukup baik, maka masih ada esok. Jika hari ini ibadah kita masih terasa kurang, maka kita masih diberi kesempatan memperbaikinya sebelum senja berikutnya.
Ramadan mengajarkan bahwa rahmat Allah tidak sempit. Ia luas, terus terbuka, dan terus menunggu siapa saja yang sungguh-sungguh ingin kembali.
Maka ketika azan Maghrib terdengar dan kita mengangkat tangan untuk berdoa sebelum berbuka, hadirkan harapan yang besar dalam hati. Barangkali pada saat itulah Allah sedang memilih hamba-hamba-Nya yang akan dibebaskan.
Dan semoga, tanpa kita sadari, nama kita termasuk di antara mereka.
*) Guru MTs Miftahul Ulum 2 Bakid


