logo_mts192
0%
Loading ...

Menemukan Cinta Lama

Share the Post:
Menemukan Cinta Lama

Karya: Shinta Fairuzzuhro *)

Rumah bambu sederhana menjadi tempat teduh bagi keluarga kecil ini. Kesederhanaan terpancar erat pada keseharian hidup mereka. Hanya keluarga yang terprioritaskan di hati.  “Selamat ulang tahun putri kecil ayah” hangat ucap dari sang ayah yang disertai senyum lembut dan tulus. Tepat hari ini Azuera putri kecil ayah bertambah usia. Angka 7 adalah angka baru yang menempati usianya saat ini. Azuera adalah putri kedua dari dua bersaudara yang mana ada Veena yang merupakan kakak perempuan Azuera. Umur mereka berdua juga terpaut cukup jauh yakni 15 tahun. Jarak inilah yang membuat kedekatan mereka berdua  tidak begitu harmonis.

Roti kecil disertai lilin ulang tahun sedang dipegang oleh tangan tua sang ayah. Dengan dahi yang sudah berkerut, rambut yang memutih, badan yang mulai melemah, dan penyakit dalam diri tidak menjadi halangan untuk sang ayah merayakan hari istimewa Azuera. “Tiup lilin dulu yuk, Jangan lupa berdoa ya sayang” ucap sang ayah sembari membelai lembut rambut Azuera. Azuera pun meniup lilin dengan kebahagiaan besar pada dirinya.

Baca Juga

Ketika Ustadz dan Takdir Bertemu

Sang ayah tersenyum lebar bahagia melihat putrinya yang mulai tumbuh besar. Senyuman lebar itu seketika terhenti ketika sang ayah batuk yang begitu berat. “Ayah nggak papa? tadi Azuera berdoa semoga Azuera bisa jadi dokter di masa depan agar Azuera bisa menyembuhkan penyakit ayah” ucap Azuera yang membuat sang ayah menteskan air mata, hatinya tersentuh haru dan bahagia.

Sang ayah hanya mampu tersenyum dan menahan air mata bahagia. “Apapun yang terjadi, berjanjilah nak, Azuera harus tetap mengejar cita-cita Azuera hingga tercapai, sekalipun jika ayah sudah tiada nanti”  Azuera hanya terdiam hening dan memeluk sang ayah.

Veena datang menghampiri sang ayah. “Yah, ada yang mau Veena sampaikan berdua pada Ayah”. Sang ayah pun pergi meninggalkan Azuera  dan mengikuti langkah Veena. Entah apa yang dibicarakan sang ayah dan Veena di dalam kamar dengan pintu tertutup. Azuera menunggu lama dengan sabar di balik pintu kamar itu.

Setelah hampir satu jam menunggu, pintu kamar pun terbuka. Sang ayah keluar dengan kondisi mata yang begitu sembab dengan air mata yang tak bisa dia bendung. Azuera menanyakan tentang apa yang mereka bicarakan sehingga membuat sang ayah menangis seperti itu. Tapi tak ada jawaban yang dia terima. Sang ayah berlalu tanpa bicara.

Hitungan hari lagi Veena akan menikah dengan lelaki yang menjadi pilihannya. Persiapan pernikahan pun sudah mulai digelar. Namun Azuera tak mengerti mengapa dia selalu mendengar  sang ayah menangis di kamar setiap malam.

Hari bahagia pernikahan Veena pun tiba. Mempelai pria datang bersama rombongan keluarganya. Sang ayah tersenyum menyambut mereka, namun terlihat jelas gurat kesedihan di wajahnya. Sang ayah sudah siap menjadi wali untuk pernikahan putri sulungnya itu. Dengan susah payah sang ayah menahan air mata,  sampai sang ayah berhasil melaksanakan tugasnya hingga selesai. Sang ayah memeluk erat Veena dengan air mata yang tak kuasa dia bendung lagi, perasaan yang begitu berat karena ia harus melepas putri sulungnya yang ia rawat dari kecil.

Baca Juga

Selembar Kertas Silver

Hari bahagia itu pun telah usai. Pagi ini, seperti biasa Azuera dibangunkan dari tidurnya oleh suara kokok ayam yang saling bersahutan. Hal pertama yang ia lakukan adalah mencari keberadaan sang ayah. Ia mulai mencari di setiap sudut rumah, dan di halaman. Namun Azuera tidak menemukan sosok sang ayah yang sangat ia cintai. Azuera yang dikuasai perasaan bingung dan panik pun pergi bertanya pada kakak perempuannya Veena. “Ayah masih ada urusan untuk beberapa hari ini” jawab singkat Veena.

Azuera bertanya-tanya dalam hati, urusan penting apa yang harus ayahnya kerjakan di usianya yang sudah tua seperti ini? Hari-hari berlalu tanpa senyuman tulus sang ayah yang biasanya selalu tersedia untuk Azuera. Hampir setiap hari ia menanyakan keberadaan sang ayah pada kakaknya, tapi lagi-lagi jawaban Veena tak berubah sedikitpun.

Semakin hari sikap Veena semakin berbeda pada adiknya Azuera. Entah karena ia sudah memiliki suami atau mungkin karena yang lain. Veena juga tak pernah punya waktu lagi untuk Azuera. Seolah dia lupa, dia mempunyai seorang adik perempuan. Bahkan Veena tak menyadari bahwa Azuera, adik kecilnya itu sedang menduduki bangku sekolah dasar yang seharusnya mendapat uang saku dan perhatian lebih. Sebenarnya Azuera tidak terlalu memperdulikan terkait uang saku karena dia mulai memahami kondisi perekonomian keluarganya. Dia hanya menginginkan pelukan seorang kakak sebagai pengobat rindu pada sang ayah.

Waktu terus berlalu tanpa hangatnya senyuman dan pelukan sang ayah. Melihat anak-anak sebayanya yang selalu membeli jajanan menggunakan uang saku mereka, Azuera pun memiliki keinginan yang sama. Dia ingin sekali bermain dan membeli jajanan bersama teman-temannya. Tapi Azuera selalu menahan hal itu karena ia tahu kakaknya pasti marah dan akan melarangnya. “Mulai besok kamu nggak usah pergi ke sekolah. Kakak nggak punya biaya untuk bayar sekolah kamu!” ucap Veena dikala Azuera sedang belajar pada malam itu. Azuera mengerutkan kening kebingungan. Benarkah kakaknya setega itu melarangnya untuk pergi ke sekolah?. Azuera menangis memohon untuk tetap diijinkan pergi ke sekolah, dia berjanji tidak akan meminta uang kepada kakaknya. Namun Veena tetap saja tak bergeming.

Tak lama Veena mengambil dengan paksa semua buku yang dimiliki Azuera. Veena berniat untuk menjual buku-buku Azuera agar menghasilkan uang. Azuera hanya bisa menangis tak bisa membantah, karena dia tahu Veena pasti akan bermain tangan padanya. Kini Azuera hanyalah gadis cengeng dan lemah. Hari harinya hanya diisi dengan membantu pekerjaan kakaknya di rumah, tanpa adanya bangku pendidikan dan buku untuknya belajar.

Baca Juga

Keluarga yang Hancur

Namun pagi ini, saat melihat teman teman sebayanya pergi ke sekolah dengan bahagia. Hati Azuera mulai bergejolak, dia ingin pergi ke sekolah lagi. Dia teringat pesan sang ayah di hari ulang tahunnya saat itu. Suara sang ayah terngiang di telinganya. “Sampai kapan aku berdiam diri seperti ini, tanpa melakukan apapun” gumam Azuera. Kini tekad Azuera sudah bulat, “Aku harus bangkit mengejar apa yang menjadi cita citaku”.

Azuera bertekad akan melakukan apapun untuk menggapai cita citanya. Dengan segala kemampuan yang diajarkan sang ayah seperti menyapu, mengepel mencuci piring dan pekerjaan rumah lainnya, mengapa ia tidak memanfaatkan hal itu?. “Aku bisa bekerja di rumah orang dan mendapatkan uang untuk biaya sekolahku” ucap Azuera pada dirinya sendiri.

Diam-diam tanpa sepengetahuan sang kakak, Azuera pergi berjalan menggunakan kaki kecilnya menyusuri jalanan desa. Tanpa disadari langkah kecilnya telah membawanya cukup jauh dari rumahnya. Langkahnya mulai berhenti  saat melihat rumah megah di depannya. Ia terkagum melihat rumah mewah yang ada di hadapannya. Rumah dengan pintu gerbang besar dan tinggi di depan. Deretan mobil-mobil mewah yang terparkir rapi. Halaman luas dihiasi bunga bunga indah dan kolam renang bersih di samping rumah membuat Azuera ingin masuk ke sana.

“Permisi, adik nyari siapa ya?”  lembut tanya wanita tak begitu tua dari balik pintu gerbang rumah mewah itu. Azuera hanya tercengang bisa melihat wanita dengan pakaian mewah elegan itu. “Masuk dulu yuk”  ajakan ramahnya.

Dengan kegirangan yang bergejolak menciptakan senyuman lebar di bibir Azuera. Wanita itu pun menggandeng lembut tangan Azuera menuntun masuk ke dalam rumah itu. Azuera tak henti terkagum, pandangannya menyapu setiap sudut kemewahan di sekelilingnya. Selepas dia masuk ke rumah, mereka berdua pun duduk di sofa empuk, lembut, dan mewah. Melihat penampilan Azuera yang lusuh, wanita itu menanyakan identitas dan asal usul Azuera. Setelah cukup lama mereka berbincang, wanita itu pun memahami kondisi Azuera saat ini.

            “Kalau begitu Azuera boleh kok bantu-bantu pekerjaan rumah saya. Kebetulan saya juga tinggal sendiri di sini”  penawaran wanita itu seperti oksigen baru untuk Azuera. Hati gadis kecil itu kini dipenuhi dengan rasa bahagia. “Siap nyonya”  jawab Azuera dengan penuh semangat. “Tidak perlu panggil nyonya, panggil ibu saja” Azuera tersenyum mendengarnya. Sejak hari itu Azuera membantu ibu mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dia melakukan pekerjaan itu dengan hati yang bahagia. Terbayang olehnya akan menerima upah dan bisa pergi sekolah lagi. Melihat semangat Azuera, wanita itu dengan senang hati menghidangkan makanan yang lezat untuk Azuera setiap hari.

Hari ini, Azuera selesai membantu ibu saat hari mulai petang. Azuera bergegas untuk kembali pulang. Dia  menginjakkan kakinya di rumah saat hari sudah gelap. Hal itu membuat Veena sangat marah dan kesal pada Azuera. “Kamu nggak punya rumah? ke mana aja akhir akhir ini? keluyuran terus, ngerepotin aja, nggak usah pulang dah sekalian!” perkataan Veena itu membuat hati Azuera sedih dan hancur. Keesokan hari saat Azuera berada di rumah ibu, wajah Azuera tak seceria hari kemarin. Hal itu membuat ibu heran, hatinya penuh tanya “ada apa dengan anak ini?”. Azuera menceritakan apa yang telah dialaminya di rumah, bagaimana kakak satu satunya tega mengusirnya dari rumah. Ibu sangat sedih mendengar cerita gadis kecil itu.

“Kalau memang kakak mu bicara seperti itu dan mengusirmu dari rumah, Azuera tinggal di sini aja ya temenin Ibu” minta ibu dengan tulus. Azuera terdiam tak tahu harus menjawab apa. Ia juga merasa malu pada keluarga ibu jika orang asing sepertinya harus tinggal di sana. “Tidak perlu khawatir, ibu tidak punya orang tua dan saudara, bahkan ibu juga tidak bersuami dan tidak memiliki keturunan. Azuera terdiam mendengar curahan isi hati ibu, tampak jelas kesedihan di wajah ibu. Akhirnya Azuera menerima tawaran ibu dengan anggukan kecil

Semenjak Azuera tinggal di rumah megah itu, sang ibu merasakan arti ikatan dan kasih sayang yang sesungguhnya. Sebelumnya ia hanya merasakan kehampaan dunia, kini ibu bisa merasakan kasih sayang dan rasa cinta tulus yang hadir dalam hidupnya. Azuera pun sama, ia merasakan kasih sayang tulus dari seorang ibu. Pelukan kasih sayang yang selama ini ia dambakan, kini ia dapatkan dari ibu yang telah menerimanya dengan tulus dan penuh cinta. Azuera bahkan mendapatkan fasilitas fasilitas yang  tak pernah ia miliki. Azuera juga di sekolah kan di sekolah yang paling bagus di kotanya. Sang ibu benar-benar memperlakukan Azuera seperti buah hatinya sendiri.

Azuera merasa semua yang ibu berikan padanya terlalu berlebihan. Padahal dia hanya ingin bekerja di sana agar bisa membeli buku untuknya belajar tanpa bersekolah. Tapi ternyata Tuhan merencanakan hidup yang luar biasa  untuk gadis pintar sepertinya. Azuera di sekolah kan sampai lulus dari bangku Menengah Atas. Ia juga mendapatkan kasih sayang yang lebih dari cukup dan didikan yang membawa nya tumbuh menjadi gadis yang pintar, bijak, mandiri, pekerja keras, dan jujur.

Berkat kepintarannya, Azuera mendapat beasiswa kuliah di luar negeri. Hatinya merasa bimbang jika ia harus kuliah di luar negeri dan meninggalkan ibunya seorang diri kembali. Ibu juga begitu berat hati melepas putri semata wayangnya itu ke negeri orang. Tapi ibu tetap meminta Azuera mengambil beasiswa itu untuknya menggapai cita-cita. Azuera bimbang, ia takut terjadi hal buruk pada ibu yang telah membesarkannya selama 12 tahun itu. “Tidak perlu khawatir sama ibu, ingat pesan ayah kamu untuk selalu mengejar cita-cita” ucapan ibu membuat luluh hati Azuera. Setelah Azuera mempersiapkan semua keperluan untuknya berangkat ke luar negeri, waktu untuknya berangkat pun tiba. Azuera dan ibu menginjakkan kaki di bandara. Keduanya tak kuasa menahan air mata perpisahan, untuk sejenak mereka saling menguatkan dengan doa dalam pelukan.

Perasaan di hati Azuera bercampur aduk, antara bahagia dan duka. Ia senang karena ia sudah mulai bisa melihat  mimpinya semakin dekat. Tapi di sisi lain Azuera juga sangat sedih rasanya tak sanggup berpisah dengan wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya.  Deraian air mata keduanya terus mengalir deras membasahi pipi.  Pelukan ibu dan Azuera semakin erat seakan tak bisa lepas untuk mereka berpisah.  Mau tak mau Azuera harus tetap berangkat karena pesawat yang ia tumpangi akan segera lepas landas.

Mereka berdua melambaikan tangan salam perpisahan, “Jaga diri baik-baik saying, ibu selalu sayang Azuera dimanapun Azuera berada” pesan ibu.  Azuera tetap melihat wajah ibunya meskipun Ibu mulai jauh dari dirinya.  Saat ia duduk di kursi pesawat, Azuera mulai meneteskan air mata. Dia mulai menyiapkan hati untuk menyambut masa depan yang lebih baik di negeri seberang.

Negeri baru ini begitu asing namun sangat indah untuk Azuera tinggal. Ia juga merasakan semangat baru untuk melanjutkan pendidikannya di sini. Walaupun dengan bersusah payah Azuera mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru di negeri baru. Ia juga semangat berkuliah di jurusan yang memang menjadi keahlian dan impiannya yaitu kedokteran. Meski kini Azuera sedang berselimut di kebahagiaan, perasaannya tidak pernah bohong mengatakan rindu yang tak terkira pada sang ibu. Ia tetap berusaha selalu berkomunikasi dengan ibu di tengah kesibukannya belajar. Ini bisa sedikit mengobati kerinduannya pada sang ibu dan desa tempat ia tinggal dulu.

Lembaran baru terus terbuka Azuera telah menjadi gadis dewasa yang begitu cerdas, kini ia hampir menyelesaikan program S1 di universitasnya. Bertahun-tahun Azuera tak pulang ke negerinya. Bertahun-tahun juga Azuera tidak bertemu dengan Ibu tercinta. Ia hanya sebatas melihat wajah sang ibu di layar handphone. Begitu rindu dirinya berada dalam pelukan hangat sang ibu.

Di tengah kesibukan Azuera dering handphonenya berbunyi. Ia melihat wajah sang iu di layar handphonenya. Azuera pun bergegas mengangkat telepon. saat ia menempelkan speaker handphone pada telinga kanannya, Azuera tidak mengenali suara yang sedang bicara dengannya ditelepon. “Ini dengan siapa ya?”  tanya bingung Azuera ternyata orang yang menelponnya itu adalah orang dari pihak rumah sakit. Azuera mendapat kabar bahwa sang Ibu sedang dalam keadaan kritis di rumah sakit karena serangan kanker. Tak ada sesiapa yang merawat dan menjaganya di sana. Mendengar kabar bahwa sang Ibu sedang berjuang seorang diri dengan penyakitnya, Azuera sungguh tak tega membayangkannya. Akhirnya ia bergegas mengurus segala keperluan untuknya pulang ke negerinya.

Azuera pun pulang dengan kecemasan yang amat sangat di dalam dirinya.  Perasaannya sama sekali tak tenang selama ia berada dalam perjalanan. Setelah dia menginjakkan kakinya di kota yang telah lama ia tinggalkan, Azuera bergegas menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat. Air mata mulai jatuh saat ia memasuki ruangan ibunya, melihat ibu sedang berbaring lemas seorang diri dengan kepala yang telah tiada rambutnya. Dengan segala kerinduan Azuera melangkahkan kaki untuk memeluk ibu.

            “Anak ibu sudah besar ya” ucap ibu dengan suara yang begitu lemah hampir tak terdengar. Azuera tak henti menangis dalam pelukan hangat itu seolah tak ingin melepasnya lagi. Azuera sungguh merawat ibu dengan tulus penuh kasih sayang. Beberapa minggu setelahnya, sang ibu pun sudah mulai pulih dari penyakitnya. “Azuera, kamu harus segera kembali untuk melanjutkan kuliah mu. Ibu sudah baik-baik saja. enggak perlu mikirin ibu, ibu sudah sembuh, Azuera harus lulus kuliah supaya bisa jadi dokter”.

Azuera selalu menolak permintaan ibunya itu, dia berfikir akan melanjutkan kuliah di kota ini saja, namun sang ibu terus memaksa Azuera. Akhirnya ia pun mengalah demi menuruti keinginan sang ibu untuk kembali ke negeri tempatnya menempuh pendidikan. Selepas Azuera kembali, Azuera masih kepikiran keadaan ibunya, wajah ibunya selalu membayangi di setiap langkahnya.  Komunikasi mereka lewat handphone pun tidak bisa sesering dulu. Entah mengapa kini ibunya menjadi slow respon akan pesan dan panggilan dari Azuera.

Tahun demi tahun terus berganti, Azuera terus bergelut dengan segala kesibukannya sebagai calon dokter. Kini tinggal selangkah lagi untuk mencapai impian nya dan kembali ke dekapan hangat sang Ibu. Sudah sangat lama Azuera tidak mendengar kabar ibunya, dia memendam rasa rindu yang begitu besar. Waktu yang sangat di nanti pun telah tiba, impiannya sejak kecil menjadi nyata. dr. Azuera Zelia, Sp.PD., air matanya menetes saat membaca namanya sendiri. Dan hal yang perlu dilakukan nya sekarang adalah segera pulang kerumah yang menyimpan kehangatan untuk Azuera.

Cahaya cerah mentari pagi menembus jendela pesawat. Pagi ini terasa lebih barwarna bagi Azuera. Ia begitu tak sabar ingin segera sampai ke negeri yang sangat di rindukan nya. Selama pesawat mengudara, Azuera sama sekali tak lelap tidur. Hati nya seakan menari kegirangan. Bibir nya pun selalu tersenyum gemas.

“Ibuu..!” sorak bahagia Azuera sembari membuka pintu rumah sang ibu. Azuera berlari memeluk erat sang ibu yang sudah bertambah tua itu. Tetes demi tetes air mata pun mulai jatuh yang menandakan mereka sangat bahagia. Azuera dan sang ibu pun melepas semua kerinduan dengan mengobrol riang. Keduanya menjalani hari dengan penuh rasa bahagia dan rasa cinta.

Azuera kini menjalankan profesi barunya sebagai seorang dokter di kota kelahiran nya sendiri. Dengan jas putih bersih yang dipakai ditubuh cantik nya, stetoskop yang di kalungkan di leher, membuat sang ibu haru melihat putri nya yang berhasil ia besarkan dengan sempurna. “Ayahh.. Azuera udah nepatin janji” batin Azuera  melihat foto sang ayah yang terbingkai di meja di ruangan nya. Azuera bahagia mengerjakan pekerjaan sebagai seorang dokter yang dulu nya hanyalah angan angan saja.

2 tahun berlalu, Azuera dan sang ibu bersepakat untuk meneruskan pendidikan S3 Azuera di university nya. Sang ibu menginginkan Azuera menggapai lebih tinggi cita cita nya dan menjadi wanita yang begitu sukses dan pintar. Tentu Azuera menginginkan hal yang serupa. Tapi kejadian saat sang ibu sakit seorang diri di kala itu membuat Azuera sedikit ragu. Dan lagi lagi, sang ibu meyakinkan hati Azuera bahwa dirinya akan baik baik saja.

Azuera pun kembali ke negri tempat nya mengenyam pendidikan dengan support dari sang ibu. Kepercayaan diri Azuera mulai bangkit kembali. Azuera yakin bahwa ia akan bersinar lebih terang dari mimpi nya. Azuera melewati segala rintangan yang berada di hadapan nya. Semua Azuera jalani dengan tenang.

Baru 1 semester Azuera disana. Ia mendapat telfon dari tetangga dekatnya yang mengatakan Azuera harus segera pulang sekarang. Azuera panik, ia begitu takut penyakit sang ibu kambuh seperti dulu.

Azuera pun pulang dengan menghiraukan segala kesibukan nya. Dalam pesawat, kaki dan tangan Azuera dingin bergetar hebat. Jantung nya juga  berdetak dengan sangat kencang tak beraturan. Ia mencoba menenangkan diri. Malam telah larut saat ia sampai di rumah. “A-ada apa ini?” bingung nya melihat rumah sang ibu sangat ramai. Semua mata pun hanya tertuju pada Azuera. Salah satu tetangga menghampirinya dan mengusap dada Azuera sembari berbisik “Yang sabar ya nak, ibu kamu udah bahagia di surga”.

Tangis histeris Azuera pecah. Jeritan Azuera menjadi jadi membuat semua orang berusaha menenangkan nya. Azuera menampar nampar wajah nya sendiri berharap bangun dari tidur nya. Tapi sayang nya, semua ini memang nyata. Azuera tidak sedang bermimpi buruk. Azuera tak henti menangis, tubuhnya luruh di depan jenazah sang ibu. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi pada ibu nya sekarang. “Seandainya aku tidak meneruskan pendidikanku ke luar negri, Mungkin ibu masih ada bersamaku sekarang!” ucap Azuera dengan air mata yang terus mengalir.

Malam kesedihan itu pun berlalu, namun Azuera tetap larut dalam kesedihan. Dan mungkin dirinya memang tidak akan bangkit dari kesedihan itu. Azuera tak tahu apakah dia bisa melanjutkan hidup nya tanpa kasih dari sang ibu. Dunia seakan berhenti dan berbeda. Dunia yang begitu luas ini akan terasa sepi tanpa keberadaan sang ibu. Ia tak tau apa yang harus dilakukan tanpa ibu di sampingnya.

“Benar ini dengan saudari Azuera Zelia?” tanya seorang pria gagah berjas rapi. Pria itu memperkenalkan diri sebagai pengacara dari almarhum ibu Azuera. Mereka berdua pun berbincang di ruang tamu megah Azuera. “Almarhum telah mewariskan semua hartanya dan beberapa usaha kepada anda. Karena anda adalah satu satunya pewaris dari mendiang” ucap sang pengacara membuat Azuera ternganga tak percaya mendengar pengacara kepercayaan ibunya membacakan isi surat wasiat. Azuera pun menandatangaani surat surat yang diperlukan untuk pengalihan seluruh harta dan perusahaan milik ibunya atas namanya. “Hubungi saya jika anda membutuhkan bantuan, saya akan segera menghubungi orang orang kepercayaan ibu anda untuk segera menemui anda” pamit sang pengacara.

Azuera bingung, hatinya berkecamuk, langkah apa yang harus di ambil nya sekarang? Meneruskan kuliah? Bekerja sebagai dokter? Meneruskan usaha sang ibu? Ia harus memikirkan ini matang matang. Pada pagi yang cerah, seorang pria menemui Azuera  dan mengajaknya untuk melihat beberapa usaha yang di miliki mendiang sang ibu. Pria itu adalah orang kepercayaan sekaligus menejer perusahaan sang ibu. Azuera berkeliling ke beberapa usaha milik ibunya di temani menejer sang ibu. Beberapa butik, klinik kecantikan, dan juga panti jompo. Semua itu menjadi tanggung jawabnya sekarang. Satu persatu perusahaan  sang ibu ia datangi, tujuan terakhirnya adalah sebuah panti jompo di pinggiran kota. 

Azuera menyusuri lorong panti, melihat lihat satu persatu kamar yang ada disana, menyapa setiap orang yang ditemuinya. Langkahnya terhenti di depan kamar nomer 09, ia tercengang melihat sosok kakek tua yang sedang duduk di kursi roda. “A-ayah?” gumamnya melihat sang ayah yang terlihat sudah amat tua, kurus, kerutan di seluruh tubuh dan wajah, pengelihatan yang tak begitu baik, dan rambut putih yang memenuhi kepala nya. Azuera berlari melesat pada ayah nya, tangis nya pecah. Ia bersimpuh memeluk sang ayah dengan air mata berderai  membasahi celana sang ayah. Sang ayah hanya diam menangis seakan bibir nya tak sanggup mengeluarkan kata sembari mengelus lembut rambut Azuera. “Azuera berhasil yah, Azuera sudah memenuhi janji Azuera, Azuera telah menjadi seorang dokter sekarang ” ucap Azuera dalam tangisnya. Sang ayah menatap dalam mata putri kecilnya dan tersenyum menandakan kebanggaan untuk Azuera. Lalu Azuera menanyakan sebab ayah nya bisa sampai disini. Tapi sang ayah tak kunjung menjawab. Ia hanya menatap putri nya dan tersenyum. Azuera pun bergegas menemui kepala panti jompo. Ia menanyakan berkas berkas penitipan sang ayah. “Maaf, tapi beliau memang tidak memiliki berkas penitipan apapun. Karna dahulu, anak perempuan nya lagsung menitipkan nya kemari tanpa mengisi berkas berkas yang  di perlukan” penjelasan dari kepala panti jompo. “Kak Veena” sebut Azuera di dalam hati.

Azuera membawa sang ayah ke rumah megah peninggalan sang ibu. Kini ia bisa tinggal bersama sama ayah dan merawatnya dengan sepenuh hati. Azuera menceritakan perjalanan yang membawa Azuera bisa sampai dititik ini. Azuera sangat menyayangkan jika kuliah nya harus putus di tengah jalan seeperti ini. Dirinya nya memutuskan untuk melanjutkan kuliah S3 di kota nya sendiri. Karena Azuera juga harus mengontrol semua usaha nya. Azuera juga terus berusaha mencari keberadaan kakaknya Veena, tapi tak kunjung di temukan. Bahkan rumah bamboo yang dulu menjadi tempat tinggal mereka pun kini ditinggalkan tanpa penghuni.

Kini Azuera telah menyelesaikan semua pendidikannya. Begitu bahagianya Azuera bisa menggapai cita citanya menjadi seorang dokter dan juga telah menemukan cinta lama nya. Setiap hari Azuera mengerjakan tugasnya sebagai dokter di rumah sakit dengan penuh tanggung jawab. Hari harinya dia lewati dengan penuh semangat dan bahagia.

Sangat jarang, hari ini lebih banyak pasien yang tutup usia di rumah sakit tidak seperti biasa nya. Azuera turut prihatin akan hal itu. Salah satu jenazah yang terdapat di kasur beroda di dorong oleh beberapa perawat melintas di hadapannya. Azuera memperhatian jenazah itu, hatinya tergerak untuk mendekat, karna seperti tak asing baginya. “K-kakak?” ucap nya melihat jenazah itu sekilas seperti sang kakak. Azuera mencoba tidak mempedulikan hal itu, karna itu belum tentu sang kakak. Sampai akhirnya ia mendapat kabar bahwa Veena benar telah meninggal. Azuera tak pernah menduga. Tapi apa boleh buat? Semua ini sudah menjadi kehendak Tuhan. Ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk almarhum ibu dan kakak nya. Kini Azuera bisa merawat dan membahagiakan  sang ayah. Sang ayah juga sangat bangga pada putri kecil nya yang bisa menggapai mimpinya dengan sempurna.

Menemukan kembali cinta dan sosok ayah, baik secara fisik maupun kenangan, adalah sumber kekuatan terbesar bagi seorang putri. Cinta ayah adalah pelindung, penopang, dan pahlawan sejati. Saat kita merasa lelah, ingatlah alasan mengapa kita memulai.

THE END

_______

*) Siswi Kelas 8 MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Join Our Newsletter