Karya: Mufridho *)
BAB 1 — Kedatangan yang Menggetarkan
Pagi Rabu di MAN 1 terasa berbeda. Di kelas 12A, seorang gadis bernama Arlana Arabella Sanjaya duduk dengan tenang. Mata indahnya selalu memancarkan keteduhan, sementara lesung pipinya memberi kesan hangat setiap kali ia tersenyum.
Bel masuk berbunyi. Pak Rofii memasuki kelas bersama seorang murid baru.
“Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru,” ujar beliau.
Seorang pemuda tinggi, berkulit putih, dengan senyum tipis dan aura misterius melangkah masuk.
“Silakan perkenalkan diri,” kata Pak Rofii.
“Nama saya Aldha El Devano, pindahan dari MAN 2. Mohon bimbingannya,” ucapnya dengan suara rendah yang khas.
Seketika kelas riuh. Banyak siswi terpana oleh ketampanannya. Namun, perhatian Aldha hanya tertuju pada satu orang: Arlana.
Arlana sendiri terdiam, jantungnya berdegup kencang. Tanpa sadar ia berbisik,
“…El?”
Teman sebangkunya, Launa Olivia Damalis (Oliv), heran melihat perubahan sikap Arlana. Namun Arlana memilih diam.
Sejak hari itu, suasana kelas tidak lagi sama.
BAB 2 — Kenangan Lama dan Bunga Lavender
Saat pulang sekolah, Arlana berdiri menunggu taksi di depan gerbang. Tiba-tiba suara motor sport berhenti di belakangnya.
“Naik,” kata Aldha singkat.
Tanpa banyak bicara, Arlana naik. Mereka berdua melaju dalam hening—hening yang penuh kenangan.
Sesampainya di rumah, sebelum Arlana masuk, Aldha memanggilnya:
“Ara…”
Nama itu membuat hati Arlana bergetar.
Namun Aldha hanya pergi tanpa penjelasan.
Di kamarnya, Arlana menatap foto seorang anak laki-laki memegang bunga lavender—foto lama yang selalu ia simpan. Ada nama tertulis di bingkainya: ELVANO.
Ia berbisik lirih,
“Aku kangen…”
BAB 3 — Teror Misterius (RSLVNDR)
Keesokan hari, Arlana menerima sebuah paket misterius berisi kotak kecil dengan tulisan:
“HI… I’M BACK”
#RSLVNDR
Sejak saat itu, berbagai “teror manis” datang:
- Botol kaca berisi pesan: “GOOD MORNING CANTIK” #RSLVNDR
- Bunga lavender dengan surat:
“You are my lover… and I am back.”
Arlana mulai menyelidiki akun misterius tersebut. Dengan kecerdasannya, ia berhasil menembus beberapa lapisan keamanan digital—dan menemukan kejanggalan pada identitas pemilik akun.
Sementara itu, tanpa ia sadari, Aldha sebenarnya adalah ketua geng motor KING OF THE DRAGON, dan semua teror itu adalah bagian dari rencana besar yang diam-diam melibatkan dirinya.
BAB 4 — Kebenaran Terungkap
Suatu hari, Arlana tak sengaja menjatuhkan sebuah cincin perak berukir nama “RAAVEL”—hadiah dari Aldha saat mereka masih kelas 6 SD.
Aldha menemukannya.
Di taman sekolah, Aldha mengembalikan cincin itu dengan cara paling menggetarkan: ia memakaikannya langsung di jari manis Arlana.
“Maaf,” katanya singkat sebelum pergi.
Arlana menangis.
Dari kejauhan Aldha berteriak,
“Jangan nangis… nanti cantiknya hilang.”
Saat itu, Arlana mulai sadar—Aldha tidak pernah benar-benar melupakannya.
BAB 5 — Pengakuan di Lapangan Basket
Bel istirahat berbunyi. Semua siswa berkumpul di lapangan basket.
Barisan rapi anggota geng KING OF THE DRAGON berdiri seperti pengawal.
Di tengah lapangan, Aldha berdiri menunggu Arlana.
Di hadapan semua orang, ia mengaku:
“Semua teror itu aku yang buat. Aku ingin tahu… apakah kamu benar-benar masih menungguku.”
Arlana tersenyum lembut.
Lalu Aldha berlutut, mengeluarkan bunga lavender, dan berkata:
“Do you want to be my lover and accompany me in every part of my life?”
Seluruh sekolah bersorak.
Arlana menjawab,
“Iya… aku mau.”
Mereka berpelukan di tengah gemuruh tepuk tangan.
Penutup
Cinta yang setia terukir dalam setiap helai kisah,
keindahan tercipta dari setiap goresan tinta.
Bukan sekadar kata, bukan sekadar cerita—
tetapi sebuah perjalanan hati yang tak pernah usai.
*) Siswi Kelas 9 MTs Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul


