Karya: Mufridho *)
Satu lembar uang berwarna silver adalah satu-satunya penghuni dompet seorang ibu rumah tangga sederhana. Kehidupannya tengah diguncang kesulitan ekonomi. Suaminya belum menerima gaji, sementara dagangannya tak kunjung laku. Beban hidup terasa semakin menekan, sementara harapan seolah semakin menipis. Uang selembar itu pun tak cukup untuk menjadi modal berdagang kembali.
Di tengah keputusasaan itu, ia memandang anaknya—Namira—yang baru berusia sepuluh tahun. Seharusnya, di usia itu Namira menikmati masa kanak-kanak dengan ceria, membawa uang saku, dan jajan seperti anak-anak lain. Namun kenyataan berkata lain.
“Nak, hari ini uang sakumu ibu ganti dengan singkong rebus saja ya… Ibu lagi tidak punya uang,” ucap sang ibu dengan suara bergetar.
Hati ibu itu terasa teriris. Menyaksikan anaknya berangkat sekolah hanya dengan bekal singkong membuat air matanya hampir jatuh. Ia menahan tangis, namun hatinya tak sanggup berpura-pura kuat.
“Maafin mama ya, Nak… Mama cuma bisa bawain singkong rebus,” katanya lirih sambil menunduk.
Namira menatap ibunya, lalu tersenyum tulus.
“Tidak apa-apa, Ma. Yang penting hari ini aku bisa makan. Walaupun cuma singkong, aku tetap bersyukur.”
Mendengar itu, hati sang ibu semakin luluh. Ia mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih.
“Anak pintar…” gumamnya haru.
Namira Arfha Nadira—anak seorang petani dan ibu rumah tangga—tumbuh dalam keluarga sederhana namun penuh kehangatan. Meski hidup dalam keterbatasan, rumah mereka selalu dipenuhi kasih sayang. Namun kini, badai ekonomi datang menguji keteguhan mereka. Meski begitu, Namira selalu berusaha ceria di depan orang tuanya, seolah ingin menjadi pelipur lara bagi mereka.
Setelah Namira berangkat sekolah, sang ibu—Kamila—tak lagi mampu menahan perasaannya.
“Aa… anak kita masih kecil, tapi sudah harus ikut merasakan pahitnya hidup,” ucapnya sambil terisak.
Eko, suaminya, menghela napas panjang.
“Aa juga tidak ingin dia merasakan semua ini. Tapi untuk sekarang, kita hanya bisa berdoa dan bertawakal. Semoga Allah memberi jalan keluar.”
Kamila mengangguk pelan.
“Iya, Aa…”
Lalu dengan suara lirih ia menambahkan,
“Untuk sarapan hari ini, kita cuma punya singkong rebus… uang kita sudah habis.”
Eko mencoba tegar.
“Tidak apa-apa, Neng. Yang penting kita masih bisa makan.”
Malam itu, Kamila menangis dalam sujudnya.
“Ya Allah… tolong kami. Aku percaya Engkau pasti menyiapkan jalan terbaik untuk keluarga kami.”
Baca Juga
SEHARI SETELAHNYA
Kegelisahan kembali menyelimuti mereka. Gaji Eko masih belum dibayar. Berkali-kali ia menanyakan kepada bosnya, namun tak ada kepastian.
Kamila menatap anting emas satu-satunya—harta terakhir yang ia miliki.
“Aa… bagaimana kalau anting ini kita jual saja? Bisa jadi modal usaha lagi,” katanya pelan.
Eko terkejut.
“Jangan, Neng. Itu satu-satunya perhiasanmu.”
Kamila menggeleng lembut.
“Tidak apa-apa. Yang penting kita bisa bangkit lagi.”
Akhirnya mereka sepakat menjualnya esok hari.
Kamila membuka dompetnya. Di dalamnya hanya tersisa selembar uang silver bernilai dua ribu rupiah. Uang itu lalu ia gunakan untuk membeli tahu sebagai lauk makan malam.
Malam itu, mereka makan bersama—hanya dengan nasi putih dan tahu. Namun di tengah kesederhanaan itu, mereka tetap bersyukur.
KEESOKAN HARINYA
Di bawah terik matahari, Eko dan Kamila berdiri di depan toko emas. Dengan hati berat, mereka menyerahkan anting emas mereka.
Setelah transaksi selesai, mereka pulang membawa uang yang cukup untuk memulai kembali usaha dagang mereka.
Hari itu mereka berjualan dengan penuh harap. Menjelang senja, wajah Kamila berbinar.
“Alhamdulillah, Aa… dagangan kita laris!”
Eko tersenyum lega.
“Ini pasti jawaban dari doa-doa kita, Neng.”
Mereka pulang dengan hati penuh syukur.
MALAM YANG BERUBAH
Sesampainya di rumah, Kamila memanggil Namira.
“Dek, mama dan bapak punya sesuatu untukmu.”
Namira menatap penasaran.
“Apa, Ma?”
“Malam ini kita makan ayam goreng. Dagangan mama dan bapak laris hari ini.”
Mata Namira berbinar.
“Alhamdulillah!”
Malam itu mereka makan dengan penuh kebahagiaan. Dari singkong rebus, menjadi tahu goreng, hingga akhirnya bisa menikmati ayam goreng bersama.
Air mata sedih berubah menjadi air mata syukur. Keluarga kecil itu kembali dipenuhi tawa dan kehangatan.
Berawal dari selembar kertas silver, kini hidup mereka kembali berwarna.
Selamat untuk keluarga kecil ini—mereka telah melewati badai dengan kesabaran, doa, dan kerja keras.
The end—happy ending.
*) Siswi MTs Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul


