Oleh: Husen, S.Pd.I *)
Perang Badar adalah peristiwa monumental yang menjadi awal kemenangan Islam. Ketika pasukan Muslim berangkat menuju Badar, jumlah pasukan sangat terbatas dan peralatan minim. Mereka hanya memiliki sedikit hewan tunggangan, sehingga tiga orang harus bergantian satu unta.
Di antara yang bersama Rasulullah ﷺ dalam satu tunggangan adalah Ali bin Abi Thalib dan Abu Lubabah. Mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ adalah pemimpin, mereka berkata ingin berjalan menggantikan beliau saja, agar beliau tetap menunggangi unta tanpa bergantian.
Namun Rasulullah ﷺ menolak dan berkata kalimat indah yang menjadi prinsip keadilan kepemimpinan:
“Kalian tidak lebih kuat daripada aku dan aku tidak lebih butuh pahala daripada kalian.”
Jawaban ini menunjukkan bahwa beliau tidak menempatkan dirinya di atas para sahabat, meskipun beliau pemimpin tertinggi.
Dalam perjalanan menuju medan perang, Rasulullah ﷺ tidak mau diistimewakan. Beliau berdiri sejajar dengan pasukannya, merasakan kelelahan yang sama, merasakan kesulitan yang sama, dan menginginkan pahala sebagaimana mereka menginginkan pahala.
Inilah gambaran kepemimpinan profetik: pemimpin yang berjalan bersama, bukan berjalan di depan sendirian, bukan pula menuntut fasilitas lebih.
Kisah yang Menggetarkan Hati: Pemimpin yang Enggan Diistimewakan
عن عبدِ اللهِ بنِ مسعودٍ قال: كنا يومَ بدرٍ ثلاثةً على بعيرٍ كان أبو لبابةَ وعليُّ بنُ أبي طالبٍ زميلَي رسولِ اللهِ ﷺ قال: وكانت عقبةُ رسولِ اللهِ ﷺ قال: فقالا: نحن نمْشي عنكَ فقال: ما أنتما بأقوى مني ولا أنا بأغنى عن الأجرِ منْكما
Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Ketika Perang Badar, kami bertiga bergantian satu unta, aku bersama Abu Lubabah dan Ali bin Abi Thalib sebagai teman seperjalanan Rasulullah ﷺ. Ketika tiba giliran Rasulullah, keduanya berkata: ‘Kami berjalan menggantikanmu.’ Maka beliau ﷺ menjawab: ‘Kalian tidak lebih kuat dariku dan aku tidak lebih sedikit membutuhkan pahala daripada kalian.’”
Bayangkan suasananya:
Perjalanan jauh, panas, berdebu.
Menuju medan perang untuk mempertaruhkan nyawa.
Bekal perang sedikit.
Hanya ada satu unta berisi Rasulullah, Ali, dan Abu Lubabah.
Ali berkata penuh adab:
“Ya Rasulullah biarlah kami saja yang berjalan menggantikanmu.”
Abu Lubabah menimpali dengan hormat:
“Wahai Rasulullah, engkaulah pemimpin kami. Kami saja yang mengalah.”
Namun Rasulullah ﷺ tersenyum dan menjawab dengan lembut tetapi tegas:
“Kalian tidak lebih kuat dariku. Dan aku tidak kurang membutuhkan pahala daripada kalian.”
Dengan kalimat itu, beliau menolak privilese, mematahkan anggapan bahwa pemimpin harus selalu mendapat kemudahan, dan menanamkan rasa keadilan dalam hati para sahabat.
Mereka berjalan bergantian, Rasulullah berjalan kaki sebagaimana pasukannya, menimbulkan rasa hormat yang semakin mendalam kepada beliau.
Hikmah dan Tauladan Rasulullah dari Hadits Ini
- Keadilan Pemimpin: Rasulullah tidak mencari keistimewaan walau pantas mendapatkannya.
- Kerendahan Hati: Beliau tidak merasa lebih berhak atas kenyamanan daripada yang lain.
- Cinta kepada Pahala: Meskipun kekasih Allah, beliau tetap mengupayakan amal agar mendapatkan pahala besar.
- Memotivasi Tanpa Kata: Perintah Beliau memberikan contoh, bukan hanya instruksi.
- Kesetaraan di Tengah Bawahan: Pemimpin bukan berjarak, tetapi hadir bersama umatnya.
- Jabatan bukan alasan untuk mencari fasilitas berlebihan.
- Pemimpin yang merasakan penderitaan bersama rakyat lebih dicintai.
- Dalam lembaga, organisasi, sekolah, dan keluarga — ketua, guru, atau orang tua seharusnya memberi contoh bukan hanya memberi perintah.
- Amal tidak mengenal status. Semuanya butuh pahala.
Hadits ini singkat tetapi mengandung lautan hikmah. Rasulullah ﷺ telah menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah pengorbanan, bukan kehormatan; pengabdian, bukan kemewahan.
Semoga kita meneladani Rasulullah dalam memimpin dan dipimpin: Adil, rendah hati, dan selalu mengejar pahala Allah.
*) Kepala MTs Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul


