logo_mts192
0%
Loading ...

Aku dan Pesantren Bagian 1

Share the Post:
Aku & Pesantren Bagian 1

Karya: Shinta Fairuzzuhro *)

KEBIMBANGAN

Rasa bimbang, takut, bahagia, sedih, dan rindu bercampur aduk ketika mendekati kelulusan SD. Kebimbangan yang selalu menguasai diriku membuat hati terasa gelisah. Aku tidak tahu harus melangkah ke mana sekarang. Pikiran tentang dua pilihan—SMP atau pesantren—selalu datang dan menetap di kepalaku. Sementara itu, semua sahabatku memilih untuk melanjutkan ke SMP.

Di lubuk hati, aku sangat ingin bersekolah bersama ketiga sahabatku. Aku tidak ingin berpisah dengan mereka—sahabat yang selalu menghiasi hari-hariku dengan canda tawa, menguatkanku ketika aku terjatuh, dan menjadi tempat pulang saat aku lelah. Sungguh berat rasanya meninggalkan mereka.

Impianku sebenarnya ingin bersekolah di SMP terbaik di kotaku, yaitu SMP 1 Jember. Sekolah itu sering mendapat banyak penghargaan karena selalu meraih prestasi. Ketiga sahabatku juga selalu meyakinkan dan mengajakku untuk menempuh pendidikan di SMP. Namun aku tetap belum mengiyakan ajakan mereka, karena hatiku sendiri masih tak memiliki pilihan yang pasti.

Baca Juga

Suara Terakhir Laureen

Aku juga meminta pendapat dari keluarga besarku. Kebanyakan dari mereka berkata, “Enakan nggak usah masuk pesantren.” Kalimat itu justru membuatku semakin bimbang. Nenekku bukan tidak mendukung, hanya saja ia ingin aku bersekolah biasa karena tak ingin jauh dariku. Namun kakekku menginginkan aku masuk pesantren agar ilmu agamaku semakin dalam. Orang tuaku sendiri mendukung apa pun pilihanku, asalkan itu yang terbaik untuk masa depanku.

Aku benar-benar tidak tahu harus menapaki jalan yang mana. Jujur saja, aku juga tidak ingin jauh dari keluarga. Aku takut sesuatu terjadi pada mereka saat aku tidak ada. Aku tidak ingin melihat nenek menangis saat cucu kesayangannya pergi. Aku juga tidak ingin jauh dari saudara dan sepupuku yang selalu menemaniku bermain. Terlebih adikku—siapa yang akan mengajaknya bermain jika aku di pesantren?

Untuk kakakku, aku tidak terlalu khawatir karena ia akan segera tinggal di Kota Malang untuk kuliah di Universitas Negeri Malang (UM). Aku berpikir kakakku tidak akan terlalu merasa berat berpisah denganku karena ia sendiri akan jauh dari rumah.

Namun saat kupikirkan kembali, semua hal pasti akan kurindukan setelah masuk pesantren. Bahkan hal-hal kecil sekalipun. Aku akan merindukan sekolah, teman-teman, keluargaku, rumahku. Aku akan merindukan masakan mama setiap pagi dan momen ketika ayah mengantarku sekolah. Juga waktu-waktuku menonton televisi bersama kakek dan nenek. Adikku yang sering meminta bantuan mengerjakan tugas pun akan kurindukan. Mustahil aku tidak merindukan itu semua.

Para guru mulai bertanya akan melanjutkan ke mana. Aku selalu menjawab, “Belum tahu,” karena memang aku tidak tahu. Banyak guru berkata, “Masuk SMP 1 saja lewat jalur prestasimu, pasti keterima.” Itu sebenarnya juga keinginanku.

Waktu pendaftaran SMP mulai dibuka. Aku harus segera menentukan pilihan, karena jika terlambat maka tidak ada pilihan lain selain pesantren. Kecemasan semakin menjadi-jadi. Hingga tanpa kuduga, aku sampai pada titik keyakinan seratus persen: pilihanku adalah pesantren.

Entah mengapa hatiku seakan berbicara terus-menerus tentang itu. Seolah ada yang menuntunku. Pendaftaran SMP tidak lagi kupedulikan. Hari ketika wali kelasku mendata sekolah lanjutan para murid, banyak teman dengan senang menyebutkan nama sekolah yang menerima mereka. Hatiku terasa berat mendengarnya, namun aku juga ikut bahagia karena mereka diterima di sekolah impian.

Sampai tiba hari kelulusan SD. Hatiku pilu melepas seluruh kenangan masa SD. Kini jalan kita masing-masing akan berbeda. Semoga suatu hari nanti kami bisa bertemu kembali.

Bersambung……..

*) Siswi Kelas 8 MTs Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul

Join Our Newsletter