360 Langkah Menuju 360 Masjid : Bagian 1

Penulis: Lailatul Masruroh *)

M. Ramadhani Sholeh, seorang santri yang rajin belajarnya dan istiqomah ibadahnya. Bercita-cita kelak akan berpetualang menggali ilmu Agama Islam setelah menyimak kajian suatu kitab yang disampaikan Ustadz Taufiq Hidayah di pesantren tempatnya menimba ilmu. Ustadz Taufiq kala itu menceritakan risalah petualangan musafir saintis Abu ‘Abdallah Muhammad Ibn’ Abdallah ibn Muhammad ibn Ibrahim al-Lawati Ibn Battuta di abad 14 membuat Dhani memiliki gambaran akan pencapaian di masa depan. Selayaknya Ibnu Battuta yang meninggalkan kampung halamannya untuk berkelana mencari ilmu, seperti itulah hasrat mendalam Dhani yang bermimpi melanjutkan jenjang studi ke Kota Tarim, sebuah kota bersejarah di wilayah Hadramaut Negeri Yaman. Keinginannya itu disampaikan kepada Ustadz Taufiq berulang-ulang tiap ada kesempatan, hingga Asrul yang teman sekamarnya menyebut Dhani dengan panggilan Tarim – karena teramat seringnya Asrul mendengar Dhani mengoceh perihal Tarim.

Baca juga :

MENGGAPAI CITA-CITA MENJADI POLWAN – CERPEN

Berasal dari keluarga yang serba kekurangan, Dhani tetap melambungkan tinggi-tinggi mimpinya. Keyakinannya diwujudkan dengan menambah jam belajar dan bekerja serabutan demi mengumpulkan bekal uang sejak duduk di bangku tsanawiyah. Seringkali pekerjaannya itu menjadi orang suruhan Asrul, di mana tugasnya berkutat mencuci pakaian, menggantikan jadwal piket, dan hal-hal seputar kehidupan di pemondokan pesantren. Dhani rela melakukan itu semuanya, karena jika tidak demikian mustahil dapat mengenyam ilmu di kota yang terkenal sebagai tempat berkumpulnya para waliyullah; Terlebih bayaran mengerjakan tugas-tugas dari Asrul cukup besar bagi Dhani.

Kegigihan Dhani beberapa tahun belakangan ini rupanya mendapat pantauan dari para Kiai pengayom pesantren. Berawal para Kiai mendapati kebiasaan Dhani yang istiqomah hampir tidak pernah meninggalkan shalat dhuha dan shalat tahajjud berjamaah di masjid pesantren, membuat para Kiai bertanya-tanya siapa sosok pemuda ini. Setelah Dhani beranjak meninggalkan masjid, seorang Kiai menanyakan kepada jamaah shalat dhuha yang hadir dan Asrul menceritakan teman sekamarnya itu dengan berapi-api namun tetap santun pemilihan kata yang digunakan dalam berkomunikasi dengan Kiai ini, kemudian Ustadz Taufiq menjelaskan lebih lanjut impian Dhani yang hendak berhijrah demi ilmu pengetahuan. Mendengar paparan Asrul dan Ustadz Taufiq, para Kiai turut mendoakan keinginan mulia Dhani dan meminta Ustadz Taufiq untuk membimbingnya lebih ekstra.

“Ustadz, mohon bantuannya untuk lebih memperhatikan Dhani ini, sebisanya kita berusaha wujudkan impiannya. Saya berdoa, semoga Dhani mampu menyelami kandungan Al-Qur’an di Tarim dan mengamalkannya di Bumi Indonesia” lirih suara Kiai yang diaminkan para jamaah.

“Baik Kiai, semoga harapan ini terkabul” sambung ustadz.

Dalam kesempatan ini, Kiai memberi ceramah singkat yang terinspirasi dari Dhani dan Kota Tarim.

“Ibarat sebuah kota, Dhani tak ubahnya Kota Tarim. Kota yang dikelilingi gurun tandus berpasir itu diberkahi air, dengan air itu pulalah tumbuh beragam jenis kehidupan dan layak untuk ditinggali manusia hingga membentuk peradaban. Sebab kesuburannya, Tarim mendapat julukan Al Ghanna. Tengoklah Dhani yang merawat impiannya dengan istiqomah bekerja dan belajar sedari awal masuk pesantren, di saat santri lainnya mengeluh banyaknya pelajaran; Impian Dhani memperoleh ilmu itu layaknya air di Tarim yang kelak akan melahirkan kebaikan pengetahuan. Saya harap kalian semua mampu merawat impian dan semoga Allah memberikan kemampuan agar kita mewujudkannya, aamiin”

* * *

Bersambung………….

*) Siswi Kelas VIII E dan Ketua Osim MTs. Miftahul Ulum 2 Putri :2021-2022.

2 Replies to “360 Langkah Menuju 360 Masjid : Bagian 1”

Leave a Reply

Your email address will not be published.