Tanggung Jawab Perempuan Untuk Kemajuan Negeri : Refleksi Hari Kartini Tahun 2022

Oleh : Abdul Halim *)

“Selama ini hanya ada satu jalan terbuka bagi gadis bumiputra (pribumi) akan menempuh hidup, ialah kawin”. Demikianlah yang terdapat dalam surat Kartini kepada Nona Zeehandelaar, 23 Agustus 1900 M. Sebuah gambaran dari Kartini atas apa yang terjadi masa itu. Perempuan tidak perlu belajar tinggi-tinggi, tidak boleh bekerja di luar rumah, dan hanya menjadi ‘budak’ lelaki.

Perempuan zaman itu sudah kadung meyakini kebenaran adat istiadat yang berlaku di masa itu. Tidaklah heran jika kakak dan adik perempuan Kartini pun menolak pendapatnya, saat mengatakan cita-citanya. Kartini ingin meneruskan belajar seperti kawan-kawannya semasa belajar di sekolah belanda yang berada di Jepara. Namun adat-istiadat tetap digenggam kuat oleh keluarganya. Sehingga saat kartini mengutarakan kehendaknya, singkat saja jawab sang ayah, “Tidak boleh”.

Kartini hanya belajar di sekolah belanda sampai berumur dua belas. Setelah itu ia dipingit, tidak diperbolehkan keluar rumah. Namun begitu, kehendaknya untuk terus belajar dan mengasah pengetahuan tidak pernah surut semangatnya. Ia terus membaca buku-buku yang diberikan saudaranya, menulis surat untuk teman-temannya yang sekolah di Belanda, dan lain sebagainya. Ia tidak bisa tunduk patuh melihat hak wanita dikerdilkan hanya untuk satu tujuan: kawin.

Baca Juga

TIPS MUDAH MENGABDIKAN DIRI UNTUK NEGERI

Sepeninggal Kartini, surat-surat itu dibukukan menjadi sebuah buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Buku yang mengubah pandangan Belanda terhadap pribumi jawa dan menginspirasi perempuan pribumi. Pada tahun wafatnya, yakni 1904 M. Kartini mendirikan sekolah istri, lalu sekolah kecil.

Setelah apa yang diperjuangkan oleh Kartini serta orang-orang yang sepahaman dengannya namun tidak tercatat sejarah, dapat kita nikmati sekarang sebuah zaman yang perempuan juga diperhitungkan keberadaannya. Anggapan masyarakat tidak lagi perempuan ada di bawah lelaki. Baik lelaki dan perempuan memiliki hak yang setara. Bukan lagi jenis yang berada di bawah lelaki. Perempuan sudah bebas memilih cita-citanya, tidak hanya untuk kawin saja.

Sekarang perempuan sudah tidak lagi dibatasi untuk belajar. Maka sudah seharusnya perempuan-perempuan di zaman ini tidak malah membatasi dirinya sendiri untuk belajar. Jika seorang Kartini yang untuk sekolah saja dibatasi bisa menjadi sosok sehebat itu, lalu bagaimana perempuan sekarang yang sudah bebas belajar tanpa batasan usia?

Akhir-akhir ini malah viral sebuah foto demo seorang perempuan yang membawa tulisan “lebih baik tiga ronde, daripada tiga periode”, untuk mengungkapkan perasaannya atas ketidak setujuan kepada ungkapan salah satu petinggi negara terkait hal itu. Tentu hal ini adalah kembali ke titik nol daripada yang telah diperjuangkan Kartini. Dulu kartini berjuang supaya wanita tidak dipandang sebagai hal yang sedemikian saja, lalu sekarang perempuannya malah berpikir ke yang itu-itu saja.

Perempuan adalah pondasi kemajuan sebuah negara. Bahkan ada yang berkata: المرأة عماد البلاد، اذا صلحت صلح البلاد، اذافسدت فسد البلاد. Artinya: “Perempuan adalah penyangga sebuah negara. Apabila perempuannya baik maka baik pulalah sebuah negara. Apabila perempuannya rusak maka rusaklah pula sebuah negara”. Hal ini tidaklah berlebihan, sebab perempuan adalah calon ibu yang merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Bahkan KH. Ali Masyhuri pernah berkata: “Jika ada orang hebat, tanyakanlah dua hal: 1. Siapa ibunya. 2. Siapa istrinya. ” Maksudnya tidak ada satu orang hebat pun kecuali di belakangnya terdapat seorang wanita yang hebat. Sehingga demi tercapainya bangsa yang baik tergantung kondisi perempuan-perempuan bangsa tersebut.

Sejak tahun 1964, tanggal lahir Kartini, 21 April, diperingati sebagai hari Kartini. Selain untuk menghormati dan mengenang atas jasa-jasa yang telah Kartini lakukan, juga sebagai refleksi dan pengingat bagi perempuan-perempuan atas tanggung jawab meneruskan jejak langkah Kartini dalam membangun negeri. Agar tidak lupa, segala kebebasan dan martabat perempuan itu diperjuangkan, bukan untuk kebebasan foya-foya dan main-main belaka, tapi untuk kemajuan. Sebagaima disebutkan di atas, masa depan Suatu bangsa tergantung kondisi perempuannya.

*) Pembina Eskul Literasi MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *