Tanggung Jawab Melestarikan Tradisi Pondok Pesantren

Oleh : Abdul Halim *)

Selepas menjalani libur panjang pulang kampung selama dua bulan sebagai penanda tahun ajaran baru dimulai. Para santri diminta kembali lagi ke pondok dan santri baru berbondong-bondong berdatangan dari segala penjuru. Kami, para santri lama serempak mengucap “Ahlan wa Sahlan wa Marhaban bi Hudhurikum, Sahabatku” kepada adik-adik santri baru.

Sebagai santri yang sudah lama berada di pondok, penulis merasa berkewajiban memberi sepatah kata untuk mengenalkan pokok-pokok tradisi pondok kepada segenap santri baru, dan sebagai pengingat kembali untuk santri lama. Namun dari begitu banyaknya tradisi pondok, penulis rasa ada tiga tradisi pondok yang harus dijaga agar tetap lestari.

Pertama, tradisi mengkaitkan dan mengkonversi ilmu pengetahuan maupun ilmu terapan dengan ibadah. Maksudnya, tujuan santri dalam mencari ilmu tiada lain hanyalah untuk ibadah. Ilmu sebagai sarana untuk menjadi hamba yang takwa, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Bahkan dalam aspek niatnya saja harus memiliki nilai ibadah, seperti niat menuntut ilmu maupun meninggikan kalimat Allah.

Kedua, adalah tradisi mengedepankan tata-krama/akhlakul karimah. Semboyan الادب فوق العلم  (tata-krama di atas ilmu) tidak boleh terlepas dari perilaku santri. Baik tata-krama dengan guru, orang tua maupun teman seperjuangan. Sebagaimana yang telah tertulis dalam Kitab Ta’limu al-Muta’allim yang menjadi kajian tetap untuk siswa kelas dua sampai empat Ibtidaiyah setiap sore.

Imam al-Ghozali secara tegas menyatakan bahwa mustahil memperoleh ilmu tanpa memiliki tata-krama. Kata Imam Ghozali, toh walaupun orang yang minim tata-krama itu berhasil memahami beberapa ilmu, namun jika tidak memiliki tata-krama maka senyatanya yang ia peroleh bukanlah ilmu bermanfaat yang dapat menghantarkannya menuju surga.

Dan yang ketiga, adalah tradisi pergaulan baik dengan sesama santri. Imam al-Ghozali dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin mengibaratkan santri dan kyai layaknya anak serta seorang ayah (saudara kandung) yang semestinya saling mencintai dan mengasihi. Al-Ghozali menyebut hal tersebut merupakan sebuah kelaziman jika tujuan santri adalah menuju akhirat. Masih menurut al-Ghozali, permisalan santri itu seperti musafir yang sedang dalam perjalanan. Dalam perjalanan, seorang musafir akan saling mencintai dan mengasihi karena saling membutuhkan demi sampainya pada tujuan (senasib sepenanggungan). Begitu juga santri yang sedang dalam perjalanan menuju surga.

Sebagaimana tertulis di dinding-dinding pemondokan, santri juga harus memiliki sifat itsar dalam bergaul, yakni sifat lebih mendahulukan orang lain atas dirinya sendiri. Meneladani kisah masyhur Ikrimah bin Abi Jahal saat terluka parah dalam sebuah peperangan, ia dibaringkan bersama Harits bin Hisyam dan Suhail bin Umair. Ketika seorang perawat hendak memberi minuman kepada Ikrimah, tiba-tiba Harits mengeluh kehausan. Ikrimah meminta untuk air itu diberikan ke Harits saja. Belum juga Harits menyentuh ujung gelas, Suhail mengeluh kehausan. Harits menyuruh perawat tadi untuk memberikan segelas air itu kepada Suhail saja. Belum juga Suhail meminum air dalam gelas itu, Ikrimah sudah mengerang kesakitan sampai membuat Suhail menyuruh perawat agar memberikan air itu kepada Ikrimah saja. Namun saat gelas itu didekatkan ke mulut Ikrimah, ia sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Demikian pula saat gelas disodorkan kepada Harits, ia terlebih dulu mati syahid sebelum meminumnya. Lalu Suhail menyusul syahid pula. Demikianlah pergaulan para sahabat Nabi SAW yang rela mendahulukan orang lain demi mendapatkan pahala yang melimpah.

Adapun dalam pergaulan antara santri lama dan santri baru, maka perlu untuk mengimplementasikan hadits من لم يرحم صغيرنا ولم يوقر كبيرنا فليس منا. Artinya: Barang siapa yang tidak mengasihi  yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua , maka dia bukan termasuk golongan kami.

Berdasarkan hadits ini, santri yang lebih lama di pemondokan Pesantren seyogyanya memberikan pengarahan dan suri tauladan yang baik sebagai bentuk kasih. Sedangkan santri baru, patutlah untuk tunduk dan patuh serta meneladani segala teladan baik sebagai bentuk rasa hormat. Sehingga terciptalah sebuah saling pengertian dan keteraturan dalam menjalani kehidupan.

Hal demikian di atas jika benar-benar kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, akan membuahkan serasa hidup di surga walaupun belum belum mati. Meskipun  tidak bisa mewujudkan tradisi itu secara sepenuhnya, namun bukan berarti tidak melakukan seluruhnya. ما لا يدرك كله لا يترك كله, jika kita tidak bisa menjaga tradisi itu secara sempurna, maka tidak mengapa kita menjaga sebagian tradisi saja sebagaimana batas kemampuan kita.

Walaupun para santri (entah yang lama maupun yang baru mondok) bukanlah saudara kandung namun selama menjalani kehidupan di pondok pesantren sudah layak untuk disebut bersaudara. Bersama melestarikan tradisi baik yang tersurat dalam kitab-kitab maupun yang tidak tersirat dalam perilaku akhlakul karimah semua penghuni pesantren.

Sumber Asli : www.mubakid.or.id dengan judul

“Tanggung Jawab Menjaga Tradisi Pondok Pesantren”

*) Staf Tata Usaha, Guru Eskul Baca Kitab Kuning dan Literasi MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *