Religiusitas Arus Perubahan Hijau (Refleksi Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-77)

Oleh : Abdul Hamid, S.Pd *)

Berbagai laporan terbaru dari beragam komunitas peduli lingkungan dan lembaga pemerhati perubahan iklim menunjukkan konsensus ilmiah tentang krisis iklim dan adanya urgensi untuk mengambil aksi terhadap krisis iklim yang sedang terjadi beberapa waktu belakangan ini makin mendesak keras para pembuat kebijakan (pemimpin-pemimpin negara dan CEO perusahaan) untuk mengambil tindakan demi menyelamatkan planet Bumi. Bahkan desakan tersebut bertaburan di kanal-kanal media sosial yang berisikan ajakan kepada semua orang untuk merubah pola pikir, sikap, dan tindakan agar merubah kebiasaan buruk yang dapat mengancam kelangsungan hidup planet bumi.

Masalah perubahan iklim yang mengakibatkan efek domino timbulnya problem lainnya bukan hanya masalah sains dan teknologi, tetapi juga masalah moral, etis dan spiritual tentang bagaimana kita menjalani kehidupan sebagai spesies makhluk hidup yang sangat tergantung pada alam dan sebagai manusia yang memegang teguh prinsip-prinsip agama.

Selain mendengarkan para ilmuwan dan aktivis lingkungan, ada kelompok berpengaruh lain yang membicarakan lingkungan dan perubahannya yang semakin tahun semakin terdegradasi terutama kualitas penopang kehidupan. Kelompok ini penulis sebut sebagai kelompok agama dan aliran kepercayaan. Meskipun kelompok-kelompok agama dan kepercayaan ini dibedakan dalam keyakinan dan praktiknya, sebagian besar setuju tentang kebutuhan bersama untuk menjaga lingkungan dan mempertahankan kelangsungan hidup serta memperbaiki apa yang telah tereksploitasi. Selain itu, munculnya pemahaman bahwa kekayaan alam yang dinikmati oleh generasi saat ini adalah warisan dari anak-cucu (generasi mendatang) sehingga manusia yang hidup saat ini berkewajiban melestarikan segala yang dikandung bumi pertiwi.

Dalam catatan penulis setidaknya ada peningkatan pesat terkait gerakan-gerakan lingkungan dari kelompok-kelompok agama, secara global dalam 15 tahun terakhir. Di Indonesia sendiri menunjukkan bahwa kelompok-kelompok agama dan kepercayaan telah memainkan peran penting dalam menanggapi perubahan iklim. Tampak para pemuka dan penganut agama berpartisipasi dalam kampanye lingkungan dan menerjemahkan bahasa ilmiah dan kebijakan untuk internal kelompok mereka sendiri.

Baca Juga

TIADA MERDEKA TANPA BHINNEKA TUNGGAL IKA

Kampanye lingkungan berlandaskan religiusitas di Indonesia yang kian gencar ini mengisyaratkan tren positif tentang pemaknaan tafsir ajaran agama maupun kepercayaan yang dampaknya dirasakan secara sosial. Indonesia memiliki populasi umat Muslim terbesar di dunia – 87,2% dari 240 juta lebih penduduk Indonesia memeluk Agama Islam. Indonesia mengakui Agama Islam, Budha, Kristen (Protestan dan Katolik), Konghucu, Hindu, dan Kepercayaan Adat sebagai agama resmi.

Topografi Indonesia yang memiliki belasan ribu pulau sangat rentan terhadap dampak kenaikan permukaan laut dan peristiwa cuaca ekstrem lainnya akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia. Sehingga, dampak negatif dari krisis iklim akan dirasakan lebih awal dibandingkan dengan negara lain.

Pada tahun 2007, ketika Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Iklim di Bali, 10 pemimpin agama dari enam kelompok agama di Indonesia mempresentasikan pernyataan antar agama tentang tanggung jawab kelompok agama untuk isu perubahan iklim. Pernyataan antar agama ini menyatakan komitmen para pemuka agama untuk menggunakan ajaran agama dan kearifan lokal dalam menginspirasi dan memotivasi serta mendayagunakan segala potensi dengan mengajarkan tentang lingkungan dan memulai proyek konservasi di lingkungan sekitar tempat tinggal baik itu secara individual maupun secara kolektif.

Khususnya di Indonesia, agama memiliki fungsi sosial yang teramat penting, pemuka agama diharapkan berkontribusi dalam diskusi publik dan bekerja sama untuk memecahkan berbagai masalah di tingkat lokal dan nasional. Fungsi ini juga yang mendorong kelompok-kelompok agama dan kepercayaan memiliki kontribusi dalam perkembangan gerakan-gerakan lingkungan di Indonesia yang berusaha mempengaruhi cara pikir individu dan bagaimana manusia hidup melalui ajaran religiusitas sehingga dapat harmoni tidak hanya sesama manusia tetapi juga harmoni berdampingan dengan alam.

Beberapa aksi tersebut dapat dilihat salah satunya dari rumah ibadah yang ramah lingkungan, seperti Masjid Hijau dan Gereja Hijau yang menggunakan energi terbarukan, Pesantren Hijau yang mendorong konservasi hayati dan program recycle maupun semacamnya, juga ada sejumlah inisiatif dari kelompok agama Hindu dan Budha yang giat penghijauan di lahan tidur dan meningkatkan daur ulang lokal. Kelompok-kelompok agama dan kepercayaan seringkali juga bergabung dengan aktivis lain untuk menciptakan koalisi kampanye lingkungan yang kuat dan beragam. Contoh beberapa tahun terakhir terkait kampanye dan perlawanan dari ancaman eksploitasi kerap dipimpin oleh masyarakat adat dan pemuka agama, perlawanan kepada kaum oligarki yang didukung kapitalisme tentang penguasaan tanah rakyat maupun tanah adat yang menurut pihak pemerintah terpaksa dilakukan untuk pembangunan negara.

Kelompok agama dan kepercayaan kini angkat bicara soal perubahan iklim. Adanya kesepahaman bahwa krisis lingkungan membutuhkan solusi selain ilmiah atau teknologi dan krisis tersebut adalah tanggung jawab bersama, telah mendorong banyak pemuka agama dan kepercayaan untuk bertindak dalam beragam aksi. Walaupun, ada saja kalangan individu pemimpin agama/kepercayaan yang acuh terhadap krisis iklim juga ditemukan dalam kelompok-kelompok tersebut bukan berarti para penganut agama dan kepercayaan juga bersikap serupa. Ibarat bola salju, gerakan merespon krisis iklim dengan aksi nyata ini makin berkembang.

Tahun 2016, para pemuka agama Indonesia: Katolik, Budha, Kristen (Katolik dan Protestan), Hindu, Yahudi, Islam, Sikh, dan para pemimpin kepercayaan lainnya serta pemuka adat membuat pernyataan lintas agama mendesak para pemimpin dunia untuk bertindak atas perubahan iklim. Ratusan pemimpin agama tersebut menandatangani ‘Pernyataan Perubahan Iklim Antar Agama Kepada Para Pemimpin Dunia atau disebut ICS. Dalam pernyataan itu, mereka mendesak para pemimpin dunia menandatangani dan meratifikasi Perjanjian Paris – sebuah pakta internasional untuk membatasi kenaikan suhu bumi dari batas 2°C. Pernyataan itu berisikan rekomendasi kebijakan tentang penggunaan energi, serta dan ajaran agama dan kepercayaan tentang keterkaitan hidup dan pentingnya refleksi spiritualitas.

Para pemimpin agama menggabungkan bahasa kebijakan (menyerukan negara untuk mengurangi emisi karbon) dan bahasa agama dan kepercayaan (‘Ibu Bumi’, ‘dimensi spiritual kehidupan kita’, ‘Rumah Bersama’) dalam menyusun pernyataan nilai-nilai etis global. Mereka berusaha agar pernyataan ini menjadi pemahaman bersama bagi para pemimpin negara dan orang-orang dari kelompok agama yang berbeda maupun lintas usia dan lintas budaya.

Secara tak langsung, dengan itu kelompok-kelompok agama dan kepercayaan telah menafsirkan konsep lingkungan ilmiah menjadi idiom agama khusus dan kelompok simbolik. Salah satu contohnya adalah ensiklik lingkungan yang dikeluarkan oleh Paus Francis di tahun 2015 yang berjudul Laudato Si’: On Care for Our Common Home. Dokumen berpengaruh ini mendorong penganut agama Katolik untuk melindungi lingkungan dan menyerukan pemerintah agar mengambil tindakan untuk mengurangi emisi karbon.

Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengembangkan banyak fatwa tentang konservasi lingkungan, antara lain pedoman untuk penambangan ramah lingkungan pada tahun 2011, berdasarkan argumen ajaran Agama Islam. Meskipun tidak ada penelitian yang mendukung mengenai seberapa efektif fatwa ini dalam mengubah praktik penambangan di Indonesia, tetapi fatwa-fatwa agama ini merupakan upaya inovatif untuk menerjemahkan kebijakan lingkungan ke dalam bahasa agama untuk melestarikan hutan dan mengurangi pemanasan global.

Semakin banyak individu dan kelompok-kelompok masyarakat di dunia yang semakin sadar terhadap perubahan iklim dan krisis yang mengancam maka semakin mudah bekerjasama untuk upaya-upaya konservasi yang berkelanjutan. Penulis meyakini bahwa aktivis lingkungan berlatar belakang keagamaan dan kepercayaan dapat berperan masif dalam meningkatkan kesadaran perbaikan lingkungan di tingkat global dan terutama dalam komunitas lokal.

Reformasi global terhadap kebijakan lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan pada akhirnya akan ditentukan oleh tindakan jutaan komunitas lokal – memang sepatutnya setiap kebijakan diawali di tingkat lokal. Para aktivis, ilmuwan, akademisi, dan pemimpin perlu mendengarkan komunitas lokal dengan cermat dan bekerja dengan mereka untuk merespons perubahan global di tingkat lokal secara bijak dan efektif. Indonesia yang telah berhasil menerapkan moderasi beragama harus dapat menjadi dinamo arus perubahan hijau agar generasi emas Indonesia di masa depan memiliki kualitas hidup yang maju peradabannya karena mampu hidup harmonis bersama semesta alam.

*) Guru IPS MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published.