Peneliti Kritis Berjuang Dengan Literasi (Dirgahayu Republik Indonesia Ke-78)

Oleh: Rofiq Hariyadi, S.Pd *)

Kemerdekaan merupakan hak dari setiap bangsa dan hal itu patut untuk diperjuangkan, terutama jika hak-hak kemanusiaan dikebiri terjajah. Perjuangan dapat dilakukan oleh siapapun dengan latar belakang apapun dan dengan jalan apapun seperti yang dilakukan oleh Dullah melalui media kanvas lukis atau Chairil Anwar dengan puisi-puisinya atau Wage Rudolf Soepratman sang pengarang lagu Kebangsaan Indonesia.

Perjuangan kemerdekaan dan mempertahankannya juga dilakukan oleh warga berkebangsaan Amerika bernama George McTurnan Kahin dengan membuat ratusan artikel yang ia kirimkan ke surat kabar di Amerika maupun yang dimuat surat kabar di Indonesia, dan ia membuat disertasi tentang bangsa ini yang kemudian dibukukan dengan judul “Nasionalisme dan Revolusi Indonesia”.

Buku itu menjadikannya sebagai salah satu dari sedikit orang Amerika yang dianggap punya otoritas akademik tentang Asia Tenggara, terutama Indonesia. Buku “Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia” dirilis pada Tahun 1952 kemudian menjadi acuan bagi para sejarawan dan bacaan sejarah untuk membangkitkan semangat juang serta membantu memahami periode lima tahun pertama Kemerdekaan Indonesia.

Buku itu ditulis berdasarkan observasi langsung Kahin setelah menyaksikan di depan kedua matanya derap perjuangan revolusi dari jarak nyaris tak berjarak. Dari sanalah dia mencatat, menganalisa, dan menulis berbagai hal yang terjadi pada tahun-tahun pertama Kemerdekaan Indonesia. Dari laporan-laporan itu, pelan tapi pasti, ikut menentukan arah angin perubahan sikap Amerika Serikat terhadap konstelasi politik yang terjadi antara Indonesia yang sedang mempertahankan kemerdekaan dan Belanda yang ingin kembali mengangkangi tanah jajahannya, pun termasuk sikap Amerika dalam Perundingan Renville.

Buku itu teramat memperlihatkan simpati Kahin terhadap perjuangan nasionalisme Indonesia. Ia menempatkan rakyat Indonesia sebagai aktor utama dalam perjalanan sejarah nusantara, tidak memposisikan pribumi sebagai figuran atau peran antagonis seperti yang terjadi dalam penulisan sejarah Belandasentris di era sebelum ia datang ke Indonesia.

George McTurnan Kahin, seolah memiliki ikatan emosional dengan Indonesia layaknya Laksamana Maeda meskipun ia berkebangsaan asing. Dia adalah seorang yang adil sejak dalam pikiran. Misalnya, ketika orang-orang Jepang di Amerika ditangkapi setelah Penyerangan Harakiri di Pearl Harbour pada 7 Desember 1941 yang membuat Amerika menabuh perang dengan Kekaisaran Jepang, banyak orang Amerika yang berhutang pada orang-orang Jepang yang berdomisili di Amerika itu tak mau melunasi. Melalui Gerakan Quaker, Kahin menggunakan meja hijau dan cara legal lainnya untuk memaksa orang-orang Amerika yang berhutang untuk membayar pinjaman mereka. Di tengah semangat anti Jepang di Amerika, tindakannya dicap tidak patriotik. Tapi itulah Kahin, berani berbeda dengan menerapkan prinsip keadilan sejak dalam pikiran.

Stempel tidak patriotik yang dilekatkan padanya itu sebetulnya mudah dipatahkan jika masyarakat Amerika menerapkan keadilan pada pikirannya. Karena Kahin juga tergabung ke dalam sukarelawan wajib militer pasukan Amerika untuk melawan Jepang dan juga Jerman pada masa-masa Perang Dunia II. Selama masa perang itu, Kahin menjadi pasukan dengan misi khusus untuk diterjunkan di Hindia Belanda yang diduduki Jepang.

Dalam persiapan tugasnya, Kahin belajar Bahasa Indonesia di Stanford University, walau di tengah proses pembelajarannya berubah menjadi pelajaran Bahasa Belanda. Penjelasan mengapa ada perubahan dalam pembelajaran yang mendadak karena intelijen Belanda condong berpikiran bahwa sebagian besar prajurit Amerika dalam program bahasa tersebut banyak mendengarkan retorika anti-kolonialme pemerintahan Roosevelt.

Kahin yang tergabung ke dalam Angkatan Darat AS dilatih terjun payung untuk bertempur di belakang garis pertahanan Jepang di Indonesia dan Malaya. Akan tetapi ia malah dikirim ke Italia untuk melawan pasukan Mussolini bukannya ke Hindia Belanda. Namun, program pelatihan bahasa itu justru menumbuhkan minatnya pada Indonesia yang sedang berjuang untuk kemerdekaan.

Seusai perang di Eropa, dengan pangkat terakhir sersan, Kahin resign dari resimen di angkatan darat. Dengan kecakapan di bidang literasi dan pengetahuannya, dia terlalu pintar untuk sekedar menjadi seorang sersan. Lantas Kahin membiayai kuliah pascasarjana dengan menggunakan uang dari hasil kompensasi veteran perang agar dapat belajar kepada pakar Asia terkemuka, Owen Lattimore.

Setelah menamatkan kuliah, Kahin menaiki Kapal Laut Veendam dan kemudian berganti ke Kapal Laut Oranje dari pantai timur Amerika Serikat ke Jakarta. Saat menyeberangi Samudra Atlantik menuju Jakarta itulah Kahin tanpa sengaja bertemu dengan Kees van Mook, putra Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hubertus van Mook. Kees inilah yang mengajari Kahin dengan fasih Bahasa Indonesia dan budaya pribumi sambil menemaninya menghabiskan waktu di atas kapal uap.

Dua orang yang baru saja bersahabat itu pun banyak membicarakan soal Indonesia. Mereka ini tergolong generasi pembaharu dari pergantian zaman, yaitu era yang anti-kolonialisme dan anti-imperialisme. Dalam buku sejarah, Gubernur Jenderal Hubertus van Mook termasuk pejabat Belanda generasi tua yang turut berusaha memperpanjang usia kolonisasi Belanda. Sebagai pejabat yang telah terdoktrinasi, dia terpaku pada slogan Belanda: je martendrai (kami akan berkuasa selamanya) di Hindia-Belanda.

Sebagai generasi muda yang memahami gelombang besar anti-kolonialisme dan anti-imperialisme, Kees van Mook tentu ada dalam posisi yang sulit kendati ia berada di posisi yang sama dengan sahabat barunya itu – karena ia merupakan anak seorang gubernur jenderal. Tetapi dengan jujur, seperti ditulis Kahin dalam Southeast Asia: A Testament (2003), Kees tak pernah menyangkal siapa dirinya. “Ini salah ayahku. Ia terlalu tua untuk memahami perubahan yang sedang terjadi di seluruh belahan dunia,” begitu Kees berkata.

Berkat Van Mook junior, Kahin tidak hanya berkemampuan Bahasa Indonesia mumpuni tapi juga memiliki banyak kontak di kalangan masyarakat maupun pejabat Belanda. Dari Jakarta menggunakan jip tentara Amerika yang dibelinya seharga US$ 501, ia menembus hutan-hutan di Pulau Jawa. Dalam perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta, akademisi layaknya film Indiana Jones ini pernah dikepung milisi pasukan rakyat di Kebumen karena postur dan gestur wajah bule tentu membuatnya jadi bahan sinisme dan kecurigaan sebagai mata-mata Belanda. Dalam hitungan menit, massa yang sedang berkobar jiwa nasionalismenya itu bisa beringas dan membuat Kahin mati konyol atau minimal babak-belur. Namun tak disangka, massa bermimik marah itu menjadi tenang dan sebagian lainnya tersenyum setelah Kahin memekik: “Merdeka!”.

Kata magis ini mampu mengikat jiwa-jiwa mereka yang pernah atau/dan sedang terjajah. Setelah peristiwa penyergapan itu ia ditemani seorang perwira TNI bernama Sutrisno. Sang perwira kemudian memasangkan juga sebuah bendera merah putih berukuran kecil di antena radio jip hasil jahitan istri Sutrisno – aksi memasang bendera di kendaraan ini lantas menjadi budaya yang kerap di lakukan masyarakat Indonesia hingga kini sebagai bentuk simbol dukungan kemerdekaan dan identitas kedaulatan.

Mereka pun akhirnya tiba dengan selamat di Yogyakarta yang menjadi tujuan dari Kahin. Daerah istimewa yang syarat akan saksi sejarah perjuangan kemerdekaan itu segera menjadi basis utama Kahin melakukan penelitian untuk disertasinya. Masa-masa penelitiannya diwarnai persahabatan dengan masyarakat akar rumput Indonesia. Kahin sering ngobrol santai ditemani secangkir kopi dan kudapan singkong rebus juga pisang dengan mereka, baik itu anak-anak, remaja, paruh baya, hingga orang-orang tua – Kahin tidak pernah membatasi topik pembicaraan, ia membumi bersama rakyat Indonesia yang ditemuinya.

Setelah meletus Peristiwa Madiun 1948, Kahin diundang pihak pemerintahan untuk meninjau wilayah tersebut. Selain sibuk meneliti melalui pengamatan jarak dekat, Kahin tak lupa menulis laporan dan artikel tentang Indonesia ke surat kabar-surat kabar di Amerika. Tulisan-tulisan Kahin inilah yang membuat terang benderang kondisi objektif Indonesia sehingga masyarakat dunia dapat menilai secara adil terkait siapa yang patut disalahkan dalam perang antara sekutu yang diboncengi Belanda dengan pihak pejuang kemerdekaan Indonesia.

Tulisannya merupakan bentuk simpati atas perjuangan yang dilakukan rakyat Indonesia. Misalnya saja, blokade ekonomi oleh Belanda untuk memperlemah posisi Indonesia dianggap Kahin begitu keterlaluan. Penulis ini menumpahkan kegeramannya dengan mengirim tulisan di Far Eastern Survey pada November 1948. Ia meluapkan kemarahannya soal kelangkaan obat-obatan untuk penyakit tropis (malaria, dan lain sebagainya) serta sulitnya pemberantasan buta huruf dan meningkatkan wawasan melalui literasi yang dilakukan pemerintah Republik Indonesia karena kekurangan buku – beberapa bantuan buku dari negara lain melalui kapal laut diketahui ditenggelamkan pihak Belanda. Pelakunya, menurut Kahin dalam tulisan itu, siapa lagi kalau bukan Belanda yang mengembargo Republik Indonesia dengan cara-cara culas.

Sikap dan aksi Kahin melalui tulisan-tulisan ini menjadi alternatif bagi publik Amerika dan dunia untuk memahami penderitaan rakyat Indonesia. Sebelumnya, publik Amerika dan dunia lebih dipengaruhi oleh kampanye dan propaganda Belanda terlebih kerajaan ini masuk menjadi bagian dari sekutu sebagai pemenang Perang Dunia II. Mereka mencoba membangun opini bahwa Belanda mendapat dukungan dari Amerika dan sekutunya.

Perang proxy yang melibatkan aspek psikologis inilah yang amat mengganggu pikiran Kahin. Saat ia melihat pesawat tempur melayang-layang menjatuhkan bom-bom di wilayah Indonesia, dilihatnya juga ornamen simbol bintang putih yang merupakan lambang skuadron Amerika; Dia juga mengenali perwira-perwira Belanda mengenakan seragam tempur yang masih bertuliskan US Marine. Kahin menduga bahwa permintaan Menteri Luar Negeri Amerika Byrnes kepada pasukan Belanda untuk melepas semua atribut Amerika dari peralatan militer milik sekutu sengaja diabaikan oleh Belanda agar menciptakan persepsi bahwa tentara Belanda seolah didukungan penuh Amerika dalam konfrontasi bersenjata melawan pasukan Republik Indonesia.

Kahin tidak sekedar memprotes sikap negara-negara yang berseberangan dengan pasukan republik, ia juga menjadi saksi kritis atas lemahnya kekuatan pemerintahan Republik Indonesia yang menjaga Ibukota Republik Yogyakarta ketika Belanda menyerbu pada 19 Desember 1948 dalam Agresi Militer II. Serangan tak terduga yang memaksa Yogyakarta dengan mudah dikuasai Belanda dalam tempo kurang sehari.

Dalam memoarnya Southeast Asia: A Testament (2003), Kahin mempertanyakan pernyataan Soeharto dan Nasution yang menyoroti keengganan Soekarno-Hatta dan memilih menjadi tawanan Belanda ketimbang turut bergerilya bersama para pejuang yang dipimpin Jenderal Sudirman. Jika kedua pemimpin republik ini mau bergerilya tentu saja milisi yang tergabung dari laskar-laskar kerakyatan akan selalu memberi perlindungan.

“Perlindungan apa?”, tanya Kahin dalam tulisannya sendiri. Ia tak melihat perlindungan yang memadai dari apa yang seharusnya disediakan oleh Nasution dan Soeharto, yang saat itu punya pasukan cukup. Tidak memberikan perlindungan juga tidak pula memberikan perlawanan terbaiknya pada 19 Desember 1948, bahkan dengan mudah Yogyakarta diduduki tentara Belanda dengan pasukan yang sebenarnya jumlahnya sedikit menjadi pokok kritikan Kahin kepada pemerintah dan pasukan Republik Indonesia dalam tulisannya.

Setelah Tentara Belanda angkat kaki dari Indonesia pada Tahun 1950 dan terbitnya buku Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia, Kahin masuk menjadi bagian dari aktivis anti perang, terutama peperangan atau invasi yang dilancarkan Amerika. Misalnya, pada Perang Vietnam, akademisi tergabung bersama Che Guevara, sebelum bertolak ke Vietnam Che yang sebenarnya seorang akademisi kedokteran berkebangsaan Argentina malah membantu perjuangan rakyat Kuba menyempatkan mampir ke Indonesia didampingi Fidel Castro untuk berguru taktik gerilya.

Dimanapun ada peperangan yang melahirkan penderitaan rakyat dunia ketiga, apalagi yang melibatkan Amerika sebagai dalangnya, selalu dia kutuk dan tak segan berdiri paling depan menyuarakan keadilan. Sebagai dampaknya, Kahin dibenci oleh sebagian kalangan “patriotisme Amerika”, sebaiknya ia dipuja kaum cinta damai seperti musisi band The Beatles yang mempopulerkan lagu “Imagine” yang terinspirasi artikel karangan Kahin.

Sebagai peneliti, Kahin meneruskan karirnya di bidang akademik sebagai profesor di Cornell University. Namanya semakin terkenal di Asia Tenggara karena berinisiatif membangun Pusat Kajian Asia Tenggara di Cornell University, Ithaca. Disertasinya tentang Indonesia, yang kemudian dibukukan menjadi Nasionalisme dan Revolusi Indonesia ternyata mampu membangkitkan minat studi publik Amerika dan dunia terhadap Asia Tenggara dan Indonesia hingga ia meninggal pada 29 Januari 2000.

Tak terhitung banyaknya wisatawan terutama dari Amerika yang berkunjung ke Indonesia untuk menikmati alam dan memahami manusia serta budayanya; Juga, sangat banyak ilmuwan-ilmuwan dunia yang meriset tentang Asia Tenggara umumnya dan khususnya Indonesia karena lahir dari provokasi intelektualitas Kahin, beberapa ilmuwan modern itu di antaranya adalah Daniel Lev, Audrey Kahin, Ben Anderson, dan masih banyak lainnya.

Terimakasih George McTurnan Kahin

Dirgahayu Republik Indonesia Ke-78, Terus Melaju Untuk Indonesia Maju

*) Guru MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid yang saat ini menempuh Studi S2 di Universitas Negeri (UM) Malang (Penerima Beasiswa LPDP Kemenkeu RI 2023)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *