Nasehat Pria Paruh Baya Itu

Karya: Sely Holiana S.*)

     Kini, adzan telah berkumandang dan menandakan jika sudah memasuki waktu isya’. Umat muslim berbondong-bondong menuju Surau terdekat untuk melaksanakan sholat berjamaah. Tak terkecuali dengan pemuda yang bernama Muhammad Rafael, pemuda keturunan jawa. Dan anak dari keluarga sederhana yang berada di desa terpencil di tanah jawa.

     Setelah melaksanakan sholat berjamaah dan zhikir rutin setelah sholat, mereka melanjutkan Khataman Qur’an yang di haruskan untuk kaum pria hingga larut malam. Setelah Rafael membaca satu juz  secara fasih, Rafael izin pulang terlebih dahulu. Karena mengingat pesan sang ibu yang kini sedang sakit untuk pulang terlebih dahulu.

      “Pak, saya pulang dulu, nggih..” pamit Rafael pelan kepada bapak-bapak yang berada di sampingnya.

      “Opo’o, le? Biasane yo nggak mulih disek” jawab Bapak-bapak itu heran.

      “Boten nopo nopo,pak. Ibuk saya nyuruh saya pulang terlebih dahulu, soalnya dia lagi sakit” jelas Rafael pelan takut folume suaranya lebih tinggi dari yang lebih tua. Ya, itulah salah satu atithude yang ditanamkan kan oleh orang tuanya sedari kecil.

      “Yo wes, ati ati lek kate muleh“ nasehat Bapak-bapak itu memperingati.

      “ Enggih, pak. Assalamualaikum” pamit Rafael

      “Waalaikumsalam”

     Rafael pun bergegas keluar dari Surau. Namun saat ia baru saja keluar dari ambang-ambang pintu Surau, ia di kejutkan dengan keberadaan pria paruh baya dengan pakaian lusuh tengah sholat di teras Surau dengan beralas sajadah yang tak kalah kotor dengan pakaiannya. Dan di sampingnya terdapat satu kantong plastic hitam yang isinya pun tidak di ketahui oleh Rafael. Entah dorongan dari mana Rafael merasa ia harus menunggu pria paruh baya itu hingga selesai sholat.

      “Ngapunten, pak. Kenapa tidak sholat di dalam saja?” tanya Rafael setelah Pria paruh baya itu selesai dengan sholatnya. Tak ada jawaban. Pria itu melipat sajadahnya dan pergi begitu saja dari sana tanpa membawa plastic   hitam itu dan hanya membawa sajadahnya saja.

     “Eh..eh..Pak!!! barangnya ada yang ketinggalan!!” panggil Rafael sembari mengambil plastic itu dan mengejar pria paruh baya itu. Namun, saat pria itu berbelok, Rafael langsung kehilangan jejak pria paruh baya itu.

     Rafael termenung, dan ia sadar akan sesuatu. ‘’tunggu, apa bapak itu berjalan tanpa menginjak tanah’’ batin Rafael saat mengingat ia sekilas melihat pria itu berjalan tanpa menyentuh tanah. Dengan cepat ia melihat isi plastic itu. Betapa kagetnya Rafael saat mendapati isi plastic itu berisi uang yang tak sedikit jumlahnya.

      “Astagfirllahal’adhim” ucap Rafael langsung menutup plastic itu seperti semula. Akhirnya ia memutuskan untuk menyimpan uang itu hingga sang pemiliknya mengambilnya.

#   #   #

     Keesokannya. Saat Rafael berjalan menuju menuju surau untuk sholat sunnah dhuha, ia mendapati pria paruh baya itu tengah duduk di bawah pohon yang rimbun sembari memejamkan mata dan menikmati angin yang menerpa wajahnya kesan kemari dengan pelan. Pria itu pun juga masih menggunakan pakaian yang sama. Rafael pun bergegas menuju rumahnya dan kembali menuju tempat pria tadi.

      “assalamualaikum” salam Rafael pelan.

      “Waalaikumsalam” jawab pria itu singkat. Rafael pun berjongkok di depan pria itu dan menyodorkan plastic hitam kemarin.

      “Niki pak, barangnya panjenengan ketinggalan kemarin malam” kata Rafael menjelaskan.

     Hening. tak ada jawaban. Posisi Rafael masih sama, berjongkok didepan Pria itu sembari menyodorkan plastic hitam kemarin.

      “Gowoen barang iku, Sekarang barang itu menjadi milikmu” perintah Pria itu tanpa berpindah pada posisi awal.

      “Boten, pak. Saya ndak berhak untuk mengambil barang bapak ini” tolak Rafael secara halus.

      “Tole, rinio. Lungguh…” perintah pria itu sembari menepuk pelan tanah di sampingnya. Rafael pun menurut.

      “Ambillah barang itu” tutur pria itu pelan.

      “Tapi aku tida–” ucapan Rafael terpotong

      “itu hakmu. Allah menitipkan padaku barang itu untuk aku berikan kepada manusia sepertimu” potong pria itu.

      “sa’iki menungso orep bergantung nang dunyo. Akeh menungso gendeng sing lebih memilih sesuatu yang tak abadi dari pada kekekalan dalam dekapan sang tuhan. Sa’iki gowoen barang iku. Kangoen gawe menyebarkan hal yang baik untuk menuju jalan Allah” nasehat pria itu yang membuat Rafael langsung termenung.

 *) Siswi Kelas 9 MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *