Nahdlatul Ulama Anti-Rasialisme

Oleh: Misbahul Anwar *)

Nahdlatul Ulama’ atau yang disingkat dengan NU merupakan organisasi besar yang berdiri sejak 31 januari 1926. Didirikan oleh Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Organisasi keagamaan sekaligus kemasyarakatan yang mengedepankan ahlus sunnah wal jama’ah (aswaja). Masyarakat NU (Nahdliyyin) terdiri dari berbagai latar sosial-budaya dan pendidikan turut menjadi pelengkap NU secara kelembagaan.

NU yang sejak awal berdiri hadir sebagai penjaga kebhinekaan Indonesia turut membantu berbagai konflik yang bermuatan suku, agama, dan ras (sara). Dua dasawarsa terakhir misalnya, Abdurrahman Wahid yang saat itu menjabat Presiden RI dikenal juga dengan Bapak Pluralisme Indonesia mengakui dan menetapkan Agama Konghuchu sebagai salahsatu agama resmi di Indonesia, terutama agar kalangan Tionghua tidak lagi sembunyi-sembunyi dalam peribadatannya. Betapa peranan Gus Dur patut diapresiasi untuk rekonsiliasi kebangsaan. Bahkan NU sudah dua kali melangsungkan International Conference of Islamic Scholar (ICIS) yang digagas oleh KH. Hasyim Muzadi, dengan mengundang cendekiawan muslim seluruh dunia tujuannya agar dunia bisa saling memahami perbedaan yang sudah diterapkan oleh Allah SWT (perbedaan suku, agama, dan ras) dan agar dengan hal tersebut tercapai kedamaian abadi. Berkat terselenggaranya ICIS I dan ICIS II, kini NU memiliki kantor-kantor cabang yang tersebar di banyak negara.

Namun dengan hadirnya keterbukaan informasi yang tanpa kesiapan mental-karakter pendidikan dan perundang-undangan yang jelas, isu sara mudah mencuat ke permukaan. Kekhawatiran yang jika tidak segera diatasi akan menimbulkan api dalam sekam. Nahdliyyin berulangkali di-wanti-wanti agar tetap berpegang teguh pada ajaran aswaja agar tidak ikut terpancing isu sara ini.

Rasisme kadang masih dilakukan oleh oknum NU terutama ketika menggunakan media sosial seperti yang terjadi belakangan ini. Rasisme secara umum bisa dimaknai sebagai serangan sikap, kecenderungan, pernyataan, dan tindakan yang mengunggulkan kelompoknya sendiri, atau mengkerdilkan/memusuhi kelompok lain di masyarakat. Sikap rasis sangatlah tidak etis dilakukan dan bertentangan dengan aswaja yang kita amalkan, terlebih oleh oknum dari kalangan Nahdliyyin.

QS ar Rum:22

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

Disini alqur’an mengisyaratkan bahwa manusia diciptakan berbeda-beda rupa dan warna kulitnya, masing-masing mempunyai bahasa dan budaya sendiri, semua itu adalah sebagian tanda dari Allah SWT pencipta alam untuk direnungkan oleh mereka yang berilmu. Juga disebutkan dalam QS al-Hujurat:13

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Mari lihat sebab turunnya Ayat Al-Hujurat ini, kala itu Rasulullah memasuki Kota Mekkah sewaktu peristiwa Fathu Makkah, Bilal bin Rabah naik ke atas Ka’bah dan menyerukan adzan. Maka sebagian penduduk Mekkah (yang tidak tahu bahwa di Madinah Bilal bin Rabah biasa menunaikan tugas menyerukan adzan) terkaget-kaget. (dalam riwayat lain di Kitab Tafsir Al-Baghawi Al-Harits Bin Hisyam mengejek dengan mengatakan “Apakah Muhammad tidak menemukan selain burung gagak ini untuk berazan?”).  Meskipun ayat tersebut tidak berupa kecaman melainkan sebuah arahan, tetapi ayat itu sudah lebih dari cukup untuk dijadikan acuan bahwa Islam menentang rasisme. Ayat tersebut menggaris-bawahi bahwa nasab, harta, wujud fisik, status pekerjaan, dan suku budaya tidak menjadi tolak-ukur kemuliaan individual manusia. Ayat ini juga mengajarkan untuk tidak menilai, mengomentari, mencela orang lain dari hal-hal tersebut.

Jadi sangat miris sekali jika kita masih berlaku seperti itu. Seyogyannya kita sebagai Nahdliyyin sangat diwajibkan untuk saling mengingatkan jikalau diantara kita khilaf melakukan rasisme secara sadar maupun tak sadar. Nahdliyyin dapat lebih berperan aktif dalam meng-counter narasi-narasi di media sosial yang bermuatan sara, sesuai dengan tema Hari Lahir Nahdlatul Ulama Ke-95 tahun ini, yaitu: Tetaplah Menyebarkan Aswaja Dan Meneguhkan Komitmen Kebangsaan.

Selamat Hari Lahir Nahdlatul Ulama, Mari Jaga Bersama Kerukunan Indonesia

*) Staf Tata Usaha MTs. Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *