Mengimplementasikan Nilai-Nilai Toleransi dalam Al-Qur’an

Oleh : Sahroni, S.Pd.I., M.Pd *)

Belakangan ini, citra Islam sebagai agama yang mengajarkan kasih sayang kepada alam semesta sedang memburuk di dunia global. Radikalisme, intoleransi dan konflik sosial atas nama agama semakin menjadi trend di Indonesia. Akibatnya agama kini menjadi sebuah kata yang menakutkan dan mencemaskan. Agama di tangan para pemeluknya terkadang dan bahkan sering tampil dengan wajah kasar dan kekerasan. Jika kondisi ini tidak disikapi dengan tepat dan cepat maka agama akan kehilangan sifat Rahmatan Lil Alamin cepat atau lambat. Karenanya sebagai umat Islam perlu kiranya untuk mengkaji kembali dan memaknai ajaran agama Islam sebagai agama yang toleran. Agama yang menghargai perbedaan. Agama yang mengajarkan egaliter. Agama yang menebarkan kasih sayang terhadap semesta alam.

Baca juga :

SEHAT NEGERIKU, TUMBUH INDONESIAKU (PERINGATAN HARI KESEHATAN NASIONAL 2021)

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata toleransi diartikan sebagai sifat atau sikap menenggang (menghargai, membirakan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Dari pengertian ini, toleransi mengarah kepada sikap terbuka dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan, baik dari sisi suku bangsa, warna kulit, bahasa, adat-istiadat, budaya, bahasa, serta agama.

Perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindarkan. Perbedaan adalah sebuah fitrah dan sunnatullah yang sudah menjadi keputusan dan ketetapan Allah sebagaimana yang digambarkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat : 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat : 13)

Dalam ayat ini, Allah mengingatkan kita akan keragaman manusia, baik dilihat dari sisi agama, suku, warna kulit, adat-istiadat, dan lain sebagainya. Tidak ada satupun manusia yang bisa membantah dana tau menolak sunnatullah dalam ayat ini. Perbedaan apapun di dunia bukanlah sebuah alasan untuk saling membenci dan saling mecaci dan atau saling merendahkan satu sama lain. Keberbedaan merupakan sebuah kekuatan untuk membanguan sebuah peradaban dunia. Oleh karena itu, sudah selayaknya manusia untuk mengikuti petunjuk Allah dalam menghadapi dan menyikapi perbedaan-perbedaan itu.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ - إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (هود : 118)

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhanmu telah tetap, “Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS. Hud : 118-119)

Bahwa Allah Swt jika berkehendah Allah mampu untuk menciptakan manusia di muka bumi menjadi umat yang satu (homogen), satu agama, satu keyakinan, satu kepercayaan dan lain sebagainya. Namun Allah tidak menghendaki hal tersebut (QS. Yunus : 99), sehingga perbedaan dan keragaman, mulai dari hal-hal yang remeh misal sifat atau karakter seseorang hingga hal yang prinsip seperti agama akan terus terjadi dan tidak dapat dihilangan dari muka bumi. Allah sengaja menciptakan manusia berbeda-beda dan tidak dijadikan bersatu merupakan sunnatullah. Perbedaan ini membawah hikmah yang besar bagi kehidupan manusia. Indonesia sebagai bagian dari sebuah kelompok, berbangsa dan bernegara yang mempunyai suku, adat, tradisi, bahasa dan keyakinan atau agama yang berbeda-beda. Bahkan sebagai pemeluk agama, masing-masing orang mempunyai cara keberagamaan dan cara memahami ajaran agama yang tidak sama. Tidak jarang perbedaan-perbedaan itu berujung pada perselisihan, konflik atau perpecahan, meski sebenarnya dalam perbedaan itu ada potensi besar untuk mewujudkan harmoni, keindahan dan kedamaian. Sayangnya, tidak banyak orang yang menyadari pesan tersembunyi itu, kecuali orang yang mendapat rahmat Allah (QS. Hud : 119).

Baca juga :

GURU MEMBANGUN INDONESIA EMAS (MEMPERINGATI HARI PAHLAWAN 2021)

Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, Imam Atha’ mengatakan bahwa yang dimaksud orang yang mendapat rahmat Allah adalah orang yang memiliki sikap toleran, lapang dada dan menerima perbedaan-perbedaan dan keragaman manusia (al-hanifiyah). Dalam kitab yang sama, Imam Qatadah mengatakan bahwa orang yang mendapat rahmat Allah adalah adalah orang yang mampu membangun kebersamaan dan persatuan dalam perbedaan dan keragaman agama, suku, ras, bangsa dan lain-lain (Ahlul Jamaah). Sedang Al-Kasysyaf dan Al-Baidhawi memahami ‘orang yang dirahmati Allah’ itu dengan sekelompok orang yang mendapatkan petunjuk Allah dan bersikap lemah lembut.

Dari penafsiran dan pemahaman yang beraneka ragam tersebut, kita bisa menarik benang merah bahwa ia yang mendapat rahmat Allah adalah orang yang mendapat petunjuk Allah untuk senantiasa terhindar dari perselisihan atau konflik dengan tetap bersikap lemah lembut dan menjaga persatuan (al-jamaah) tidak terpecah belah (al-firqah) dan memiliki sikap toleran (hanifiyah/tasamuh)

Toleransi merupakan sikap terbuka dalam menghadapi perbedaan, di dalamnya terkandung sikap saling menghargai dan menghormati eksistensi masing-masing pihak. Dalam kehidupan yang toleran, keseimbangan dalam hidup mendapatkan prioritasnya. Keanekaragaman tidak diposisikan sebagai ancaman, namun justru peluang untuk saling bersinergi secara positif.

Indonesia adalah negara yang sangat majemuk, yang penuh dengan keragaman budaya, bahasa suku, ras dan agama, maka toleransi bukan lagi sebuah pilihan sikap untuk diterapkan, Toleransi merupalan sebuah sikap yang harus dipraktikkan dan diamalkan oleh semua unsur dalam membangun negara. Toleransi adalah sikao untuk membangun harmoni menuji peradaban yang madani, menuju Indonesia Maju.

Selamat Hari Toleransi Internasional 2021

*) Kepala MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

3 Replies to “Mengimplementasikan Nilai-Nilai Toleransi dalam Al-Qur’an”

Leave a Reply

Your email address will not be published.