Mendongeng dan Berimajinasi (Memperingati Hari Dongeng Sedunia)

oleh : Aris Purnomo, S.Pd *)

Setiap 20 Maret, hari di mana anak-anak di seluruh dunia bersuka cita menantikan para pendongeng membawakan cerita. Tanggal itu adalah peringatan Hari Dongeng Sedunia.

Dongeng umumnya memiliki unsur cerita fiktif, dan diperuntukkan untuk anak-anak. Namun, dongeng dapat memicu hasrat seseorang untuk mempelajari dan mengeksplorasi guna membuktikan apakah suatu dongeng benar adanya – misalnya saja dongeng tentang Atlantis yang ditulis oleh filsuf Plato; Pulau Avalon; Mata Air Shangri La; Benua Lemuria; dan Kota El Dorado. Contoh kelima dongeng tersebut sedang dibuktikan oleh banyak ilmuwan dengan beragam disiplin ilmu.

Terlepas benar tidaknya fakta di balik sebuah dongeng, menurut peneliti ada manfaat dari mendongeng untuk, yaitu:

Mengembangkan Imajinasi Anak – Dunia anak diisi dengan imajinasi, ketika membacakan dongeng, anak tidak sebatas mendengarkan saja, ia membangun alam pikirannya dan berfantasi terhadap cerita yang didengar maupun yang dilihatnya. Oleh karenanya, guru/orang tua bertugas melakukan kontrol terhadap imajinasi anak supaya tetap mengarah kepada hal positif, salah satunya dengan cara membacakan dongeng.

Meningkatkan Minat Baca – Buku cerita (bergambar maupun yang tidak bergambar) merupakan salahsatu media pendongeng. Penggunaan buku dapat meningkatkan rasa ingin tahu anak supaya bisa cepat membaca dengan teliti dan gemar membaca (hobi membaca). Pada akhirnya nanti, jika anak sudah terbiasa dengan bacaan yang ada di buku, minat bacanya juga akan bertambah dengan sendirinya, pun akan semakin menambah literasi bacaannya.

Mendidik dan Menanamkan Karakter – Dongeng sama halnya dengan jenis cerita pada umumnya yang memiliki pesan untuk disampaikan kepada pembaca. Setiap dongeng memiliki sebuah nilai-nilai, ajaran budi pekerti luhur seperti nilai agama, budaya, bahkan kearifan lokal. Ketika dongeng diperdengarkan, seiring waktu akan membentuk kepribadian dan karakter yang luhur pula dari dalam diri anak.

Baca Juga

MUSIK DI PERSIMPANGAN (MEMPERINGATI HARI MUSIK SEDUNIA)

Sentuhan manusiawi (human touch) dalam perkembangan anak merupakan sebuah pola konstruktif yang mendorong pertumbuhan mental pada anak. Pada umumnya, sentuhan tersebut bisa diperoleh dari cara mereka menjelajahi alam imajinasinya. Sebab, jika imajinasi seorang anak dikontrol dan terus dipicu untuk mengeksplorasi rasa penasaran dan keingintahuannya, maka dengan otomatis akan memicu perkembangan sikap dalam pertumbuhannya.

Seperti dalam bersosialisasi, anak dengan imajinasinya yang dikembangkan dengan baik, maka dia akan cenderung aktif dan responsif dalam menyikapi hal baru yang ditemukannya. Berbeda dengan anak yang tidak atau kurang memiliki imajinasi, maka si-anak akan cenderung murung dan tidak/kurang memiliki rasa percaya diri. Jadi, hal tersebut membuat rasa takut dan malu menjadi lebih besar dalam kesehariannya bersosialisasi di lingkungan sekitarnya.

Pola perkembangan kepribadian dari alam imajinasi atau hayalan ini diperkuat oleh ungkapan tokoh Psikoanalisis Sigmund Freud bahwa “Mimpi atau imajinasi adalah sublimasi dan kompensasi dari kehidupan sehari-hari yang tidak terpenuhi…” Dengan demikian, dongeng yang bersifat menumbuhkembangkan imajinasi bisa mewakili ketidak berdayaan seorang anak dalam melakukan hal-hal yang tidak biasa, berperan besar dalam mengembangkan ide-ide sebagai stimulus dalam menyikapi segala sesuatu dalam kenyataannya.

Oleh karenanya, MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid di setiap kegiatan yang melibatkan banyak siswa akan diselipkan kegiatan membacakan cerita-cerita Islami, cerita dibalik penemuan ilmiah, atau dongeng-dongeng lokal maupun dari luar negeri. Hal itu diperuntukkan agar menumbuhkembangkan ide/gagasan kolektif antara guru dan murid, serta terjalin komunikasi harmonis selayaknya hubungan keluarga yang penuh pengertian.

Pesan kami, janganlah malas membacakan dongeng untuk mereka yang masih anak-anak. Pesawat terbang tercipta karena manusia mengimajinasikan dapat terbang seperti burung. Tidak ada yang tahu apa yang akan ditemukan/diciptakan oleh anak-anak yang telah kita bacakan dongeng, imajinasi selalu menuntun pengetahuan. Albert Einstein mengatakan “Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan “

*) Guru Bahasa Indonesia MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published.