MATSAMA Hari Ketiga : Kokohkan Moderasi Beragama Ala NU dan Kesetaraan

Pelaksanaan MATSAMA Putri MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid Tahun Pelajaran 2021/2022. di hari ketiga berjalan dengan sukses dan lancar. Peserta tampak antusias dan penuh dengan khidmat menyimak pemaparan dua materi yang disampaikan oleh dua pemateri yaitu 1) Moderasi Beragama ala NU 2) Perbedaan, Kesetaraan dan Harmoni Sosial. Terlebih di sela-sela materi, para narasumber memberikan yel-yel untuk membangkitkan semangat para peserta. Siswi MTs. MU 2? Sontak pertanyaan narasumber pertama M. Aminuddin Sofi, M.H dijawab oleh peserta “Responsif, Kreatif dan Produktif” sambil mengepalkan tangan seraya diangkat ke atas.

Pria yang akrab disapa ustadz Sofi tersebut merupakan Sekretaris Komite Madrasah MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid yang juga salah satu Dosen STISMU Lumajang. Jebolan pascasarjana UIN Maulana Maliki Ibrahim Malang ini menyampaikan materi tentang ‘Perbedaan, Kesetaraan dan Harmoni Sosial’.

Sementara itu, Materi Moderasi Beragama ala NU dipaparkan langsung oleh Ketua Komite Madrasah MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid yang mengemban amanah sebagai Kepala Pengurus PPMU.

Berikut ini ringkasan materi yang disampaikan oleh kedua narasumber.

MODERASI BERAGAMA Ala NU

Sejak dua tahun yang silam, Indonesia sedang dilanda maraknya sentimen akan suku, agama, ras, dan Antargolongan (SARA). Kondisi ini telah mengingatkan dan menyadarkan kembali masyarakat untuk tetap saling menghormati atas perbedaan agama dan suku dengan cara mengedepankan sikap moderasi beragama.

Bahwa paham moderasi atau wasathiyah dalam beragama saat ini merupakan sebuah keharusan dan keniscayaan yang sangat urgen untuk diterapkan. Moderasi beragama sebuah pola beragama tidak kaku, tidak tekstual yang menyebabkan manusia menjadi radikal. Wasathiyaj fil Islam (moderasi beragama) adalah  cara pandang kdalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Ekstremisme, radikalisme, ujaran kebencian (hate speech), hingga retaknya hubungan antarumat beragama, merupakan problem yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini.

Gerakan moderasi beragama bertujuan supaya masyarakat bisa mengetahui peran dan fungsinya masing-masing. Kalau mereka mengetahui posisinya, maka akan mampu menyampaikan paham keagamaannya secara moderat kepada orang lain.

Ada tiga ciri utama ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah (Aswaja Ala NU): Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri (liberal) ataupun ekstrim kanan (radikal). Kedua at-tawazun atau seimbang dalam segala hal, terrnasuk dalam penggunaan dalil ‘aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits). Ketiga, al-i’tidal adil dalam memandang sesuatu tanpa kecenderungan terhadap kelompok, keluarga atau organisasi.

Selain ketiga prinsip ini, golongan Ahlussunnah wal Jama’ah juga mengamalkan sikap tasamuh atau toleransi. Yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini.

PERBEDAAN, KESETARAAN DAN HARMONI SOSIAL

Perbedaan dan keberagaman bukanlah sumber pemecahbelah. Prinsip kesetaraan dan harmoni sosial menumbuhkan toleransi di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat, memang ada perbedaan atau ketidaksamaan sosial. Ketidaksamaan sosial terdiri dari ketidaksamaan sosial horizontal dan ketidaksamaan sosial vertikal. Dalam interaksi sosial antarindividu yang berbeda tersebut, prinsip kesetaraan perlu diterapkan. Dengan prinsip ini, harmoni sosial dapat tercipta.

Lima kategori kesetaraan : Kesetaraan hukum, Kesetaraan politik, Kesetaraan sosial, Kesetaraan ekonomi dan Kesetaraan moral. Tiga konsep kesetaraan : Kesetaraan kesempatan, Kesetaraan sejak awal dan Kesetaraan hasil

“Perbedaan budaya tidak boleh memisahkan kita dari yang lain. Keragaman budaya justru harus membawa sebuah kekuatan kolektif yang dapat bermanfaat bagi seluruh umat manusia”. Tutur Sofi mengutip perkataan Robert Alan.

Sesuatu yang sesuai dengan keinginan masyarakat umum, seperti keadaan tertib, teratur, aman dan nyaman dapat disebut sebagai suatu kehidupan yang penuh harmoni. Harmoni sosial adalah kondisi dimana individu hidup sejalan dan serasi dengan tujuan masyarakatnya. Harmoni sosial juga terjadi dalam masyarakat yang ditandai dengan solidaritas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *