Kisah Puncak Cinta Nabi Ibrahim dan Ismail kepada Allah SWT

Oleh : Muhammad Faisol Ali, S.H *)

Segala sesuatu yang telah dan akan kita kerjakan berdasarkan cinta. Bahkan penggerak motorik hati kita adalah cinta. Semua aspek kehidupan atau segala sesuatu yang berkait dan bertaut dengannya, pasti ada keterlibatan cinta. Makanya tidak heran jika, orang patah hati hampir separuh hidupnya dirasa tidak memiliki arti. Semua terhenti oleh yang namanya cinta.


Tuhan menciptakan alam semesta pun berdasarkan cinta. Semua agama mengajarkan cinta. Baik cinta antar sesama mahluk Tuhan dan atau mencintai karena digiring oleh suratan takdir. Termasuk suratan takdir Nabi Ibrahim as yang kisahnya bersama putra tercintainya Nabi Ismail sungguh memberi sebuah pelajaran hidup.


Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim as oleh Allah swt swt dengan ujian yang sangat berat. Sepanjang hidupnya bersama istrinya, Sarah belum juga diberikan keturunan. Hingga akhirnya Sarah merelakan suaminya menikah lagi dengan Siti Hajar agar ia bisa mendapatkan keturunan sebagaimana ia impikan selama ini.


Kemudian, Nabi Ibrahim as menikah lagi dengan wanita bernama Hajar hingga Allah swt mengkaruniakannya sosok laki-laki yang bernama Ismail. Sosok anak yang nantinya akan melanjutkab perjuangan ayahnya menjadi sosok Nabi yang dihormati.


Penantian panjang penuh kesabaran menantikan buah hati terbayar sudah. Rasa cinta Nabi Ibrahim kepada Ismail sungguh luar biasa. Betapa tidak, sosok putra yang dinantikan kini ada di depannya dan selalu tersimpan di lubuk hati. Semua cinta yang dimiliki Ibrahim as rasa-rasanya ditumpahkan kepada Nabi Ismail kecil.


Kebahagiaan Nabi Ibrahim as dikarunia anak yang terus menyelimuti kehidupannya sehari-hari kini dibenturkan dengan perintah Allah swt sebagai ujian-Nya. Betapa tidak, Ismail yang baru lahir oleh Allah diperintah untuk memindahkannya di padang pasir berdua dengan ibunya, Hajar. Di situlah Iman Nabi Ibrahim bersama istrinya, Hajar diuji.


Siapa sosok ayah yang tega melihat anak mungilnya ditinggal berdua bersama istri di padang pasir. Perasaan Nabi Ibrahim hancur lebur melihat semua ini.


Ujian Nabi Ibrahim tidak sampai di sini, ketika Nabi Ismail sudah beranjak umur 7 tahun, rasa cinta Nabi Ibrahim as kepada Nabi Ismail diuji. Nabi Ibrahim as harus menerima perintah Allah swt yang sangat tidak logis untuk dilakukannya. Namun, semua itu diluluhkan oleh ketaqwaan Nabi Ismail yang mulai tampak sejak dini.


Singkat cerita, Nabi Ibrahim as dengan berat hati melaksanakan perinta Allah swt untuk menyembelih putranya, Ismail pada tanggal 10 bulan Dzul Hijjah. Namun, ketaqwaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Allah gantikan dengan cara Nabi Ismail diganti dengan seekor kambing.


Kisah ini bukan sembarang kisah. Kisah kala Nabi Ibrahim bersedia sembelih anaknya, sungguh menakjubkan. Pun, kala Ismail dengan ikhlas disembelih, sungguh mengharukan. Namun, poinnya bukan berhenti di sini.


Setiap kita adalah Ibrahim. Ibrahim punya Ismail. Ismail bisa jadi adalah hartamu atau mungkin jabatanmu. Ismail bisa jadi gelarmu, egomu, atau mungkin ia adalah sesuatu yang kita sayangi dan mati-matian ingin kita pertahankan di muka bumi ini.
Ibrahim tidak diperintah Allah untuk membunuh Ismail, putranya sendiri. Ibrahim hakikatnya hanya diperintah Allah untuk membunuh rasa ‘kepemilikan’ terhadap Ismail karena pada dasarnya semuanya hanya milik Allah swt.


Dari Nabi Ibrahim kita belajar dan mengambil hikmah bahwa segala sesuatu yang kita punya, bahkan yang ada pada diri kita -sudah kita anggap bagian dari hidup kita- harus ikhlas melepaskannya bila mana sudah menjadi perintah-Nya. Jangan sampai kita mendurhakai-Nya demi sesuatu yang kita cintai. Sebab, sesuatu yang kita cintai itu berada dalam genggaman-Nya yang kita durhakai.


Namun, bila kita ikhlas melakukannya atas apa yang Allah ujikan pada diri kita melalu sesuatu yang kita cintai, maka Allah akan gantikan begitu banyak keberkahan sebagaimana Allah mengantikan sosok Ismail dengan seekor domba.

*) Guru SKI Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *