Kegundahan Rasulullah di Saat Malam Pergantian Tahun Baru

Oleh : Muhammas Faisol Ali *)

Beberapa orang fokus gogling mencari hukum merayakan tahun baru. Beberapa refrensi dari berbagai website menumpuk. Google bisa membaca, bahwa akun tersebut sedang gelisah mencari hukum tersebut. Lalu, algoritma google menyuguhkan pada semua akun media sosial kita dan menyuguhkan apa yang sedang ingin kita ketahui.

Berbeda dengan tipe manusia di atas, sebagian malah menyiapkan momen tersebut dengan berkumpul sambil masak bareng dan makan-makan. Ini sedang menjadi tren tahunan dan merambat ke perdesaan.

Yang ketiga ini, lebih ngawur. Ini yang disebut syaitan malam untuk senang-senang. Para pengikutnya asyik. Banyak kegiatan negatif dilakukan. Cenderung maksiat. Lebih kebarat-baratan. Tahun baru dibuat momen merayakan setahun yang telah dikerjakan dan dicapai, kini saatnya dirayakan untuk menyambut tahun berikutnya.

Baca Juga

PERMUSUHAN YANG TIDAK ADA KATA DAMAI

Versi terakhir lebih ke sumbu pendek. Cukup mengelitik. Semua disapu bersih; haram merayakan malam tahun baru dengan segala dalil-dalil sumbu pendeknya.

Siklusnya setiap tahun sama. Tidak ada perbedaan. Ada yang newbie masih mencari hukum merayakan tahun baru, ada yang ikut garis keras berdakwah sana-sini mengharamkannya, ada yang acuh tak acuh, dan ada yang garis tengah; menggunakan momennya untuk berkumpul dengan keluarga.

Mari kita kupas satu-satu. Pertama, bagus lalu tentukan pilihannya sesuai dengan tingkat keilmuannya.

Kedua, tidak dilarang asal tidak menjadikan kegiatan ini sebagai meniru gaya orang kafir.

Kita loncati nomer tiga. Lalu beralih ke nomer empat: perlu belajar ilmu lebih luas lagi agar tidak mudah mengeluarkan statemen yang dapat merugikan banyak orang.

Mengharamkan sana-sini tapi menikmati liburannya. Sebuah keniscayaan bahwa kita berada di negara mayoritas Islam tapi tidak menerapkan hukum Islam. Dasar hukum di Indonesia adalah Pancasila, maka mereka (kaum garis keras) ini perlu mengetahui jati diri orang Islam di Indonesia.

Poin ketiga inilah yang menjadi poinnya: bahwa termasuk malam yang menyusahkan Nabi Muhammad Saw adalah malam pergantian tahun baru karena malam tersebut banyak manusia dari ummatnya Nabi Muhammad SAW yang terjerumus dalam kemaksiatan. Banyak yang merayakan dengan bentuk-bentuk kemaksiatan: pesta narkoba, mabuk-mabukan, pesta seks, dan lain sebagainya. Malam seperti inilah yang oleh setan disebut malam kegembiraan karena banyak manusia yang lupa kepada Allah SWT.

Namun, di saat yang sama Rasullullah gundah gulana, beliau menangis melihat ummatnya tergelincir dalam kemaksiatan. Rasulullah SAW bersabda:


تعرض علي أعمالكم غدوة وعشيا

“Diperlihatkan kepadaku amal perbuatan kalian tiap pagi dan sore.”

Itulah mengapa kita harus bijak menanggapi momen ini yang siklusnya sama setiap tahunnya.

*) Guru MTs Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *