INIKAH TAKDIR – CERPEN

Karya : Viera Faizatul Maulidia *)

            “Ibu… Ibu mau makan?”, tanya seorang bocah kecil yang tengah duduk di samping tempat tidur ibunya.

            “nggak, sayang… kamu udah makan, belum?” tanya san ibu itu balik. Sang bocah kecil itu pun menggeleng pelan. Ada perasaan sakit di hati seorang ibu saat melihat keadaan buah hatinya sekarang. Dimas Ardiansyah, bocah kecil berusia 10 tahun, sudah harus banting tulang untuk menghidupi dirinya dan sang ibu. Ayahnya sudah lama meninggal sejak Dimas berada di kandungan. Sedangkan sang ibu, beliau terkena penyakit lumpuh permanen karena kejadian beberapa tahun lalu saat ibunya tertabrak mobil. Dimas masih bersyukur, walaupun dia harus banting tulang untuk bertahan hidup, setidaknya tuhan masih memberi Dimas semangat hidup dengan tetap membiarkan sang ibu berada di sampingnya dan selamat pasca kecelakaan itu.

            Dimas memang masih bersekolah, itu pun dikarenakan kecerdasan otak Dimas, sehingga ia selalu mendapat beasiswa di sekolahnya. Sepulang sekolah, biasanya Dimas langsung berangkat ke sebuah bengkel dimana tempat ia mencari nafkah. Awalnya, sang pemilik bengkel ragu untuk mempekerjakan Dimas, namun karena ketekunannya dalam membantu disana, membuat Dimas dipercaya dan diterima untuk bekerja. Terkadang Dimas juga mendapat bonus karena sang pemilik bengkel prihatin dengan kehidupan bocah ini. Di usianya yang masih terbilang dini, ia sangat rajin dalam bekerja membuat sang pemilik bengkel salut dengan semangat bocah ini.

Baca juga :

MENGGAPAI CITA-CITA MENJADI POLWAN

            Tak berhenti hanya disitu, Dimas juga memulung rongsokan untuk menambah pemasukannya. Bukan karena Dimas tak puas dengan upahnya di bengkel, namun untuk biaya pengobatan asma ibunya. Asma ibunya juga seringkali kambuh.

            Suatu hari, pernah juga penyakit asma ibunya kambuh, Dimas sama sekali tidak mempunyai uang. Sedangkan Dimas masih kurang 3 hari lagi yang akan menerima upah. Dimas kebingungan, ia harus mencari uang dimana lagi, kemudian ia memutuskan untuk mengamen di sebuah terminal yang letaknya tak jauh dari kediaman Dimas. Hasilnya memang tidak seberapa, namun cukup untuk membeli obat untuk ibu Dimas.

            Dimas berjalan menuju apotek. Disana Dimas membeli obat yang biasa ia beli untuk ibunya. Uang Dimas pas-pasan sehingga tak cukup untuk membeli nasi bungkus, padahal perut Dimas sudah meronta-ronta  kelaparan.

            “sabar dulu, ya, cacing-cacing perut… Dimas mau nyari warung dulu”, ujar Dimas sembari mengelus perutnya yang kecil. Uang Dimas hanya tinggal Rp. 8000, sedangkan harga paling murah sebungkus nasi Rp. 5000. Artinya, ia cuma bisa membeli satu porsi nasi bungkus. Alhasil, Dimas hanya membeli sebungkus nasi pecel untuk ibunya.

            “cari apa, dek?” tanya penjual nasi pecel. Perut Dimas sudah sangat terasa perih, lalu sebuah ide muncul di kepala Dimas.

            “Bu, uang saya hanya 8000, tapi saya ingin membeli 2 nasi bungkus. Bisa nggak, ibu membungkuskan 2 porsi, nanti saya akan membantu ibu disini?” tawar Dimas. Ibu itu menatap Dimas iba. Bocah kecil ini sungguh sangat memprihatinkan.

            “Emang kamu bisa apa, Dek?” tanya ibu itu. Mendengar hal itu Dimas langsung menjawab.

            “Saya bisa nyuci priring, nyapu, saya bisa apa saja, bu” ujar Dimas girang. Ibu itu menatap Dimas dengan senyuman getir.

            “Rumah kamu dimana, Dek?”
            “Rumah saya di desa sebelah, bu”
            “Ibu kamu kemana?, ayah kamu?” tanya ibu itu lagi.
            “Ayah saya meninggal, bu. Ibu saya sedang sakit di rumah”

            Mendengar jawaban Dimas, ibu itu langsung tersentuh. Ibu itu kemudian membungkuskan nasi untuk Dimas, lalu memberikannya pada Dimas. “Gak usah bayar, dek. Kamu bawa aja”. Ujar sang ibu sembari mengelus kepala Dimas pelan.

            “Ibu beneran?” tanya Dimas mencoba meyakinkan.
            “Iya, salam buat ibu kamu. Semoga cepet sembuh, ya, dek. Pasti ibu kamu bangga punya kamu” ujar ibu itu lagi. Mendengar itu, dengan cepat Dimas mencium tangan ibu itu.

            “Makasih, bu. Makasih” ujar Dimas terharu.
            “Iya, dek. Yaudah, sana pulang. Pasti ibumu nyariin” titah ibu penjual nasi itu. Dengan cepat Dimas meninggalkan tempat itu. Berjalan secepat mungkin untuk menemui ibunya.

            Sesampainya di gang rumah, Dimas dikejutkan dengan sebuah bendera kuning yang terdapat disana. Dimas mengernyit heran, siapa yang meninggal. Dengan segera Dimas berlari masuk ke dalam gang dan menuju rumahnya. Alangkah terkejutnya Dimas, saat mendapati rumahnya dikerumuni banyak orang. Dengan langkah gontai Dimas berjalan melewati kerumunan itu.

            Seseorang menghampiri Dimas dan merangkul bahunya.
            “Paman, kenapa banyak orang di rumah Dimas?” tanya Dimas dengan polosnya.
            “Nak, kamu yang sabar, yah… ibu udah meninggal”

            Degg…

            Seketika bungkusan nasi dan obat di genggamannya jatuh ke tanah. Dimas berlari sekuat tenaga menuju kamar ibunya. Disana Dimas dapat melihat betul wajah pucat ibunya dengan badan yang lelah tertutupi kain putih.

            “Assalamualaikum, ibu…” seru Dimas saat hendak memasuki kamar ibunya. Dimas menghampiri kamar ibunya.

            “Ibu… Ibu bangun… Dimas udah bawa obat buat ibu…” Dimas menepuk pelan pipi ibunya. Namun sama sekali tak ada respon. Semua orang yang ada disana tak kuasa menahan tangis.

            “Bibi… kenapa ibu belum mau bangun. Ibu masih mau istirahat, yah?” tanya Dimas pada salah seorang wanita.

            “Dimas, udah yah… ibu udah meninggal, nak…” lirih wanita itu mencoba menenangkan Dimas. Seketika itu Dimas langsung naik keatas ranjang dan memeluk ibunya dari samping.

            “ibu… ibu kenapa ninggalin dimas kayak ayah. Ibu bilang, ibu pengen liat Dimas sukses. Ibu…. ibu bangun, bu… hiks.. hiks… ibu, Dimas nanti sama siapa? Dimas ikut siapa… Ibu kenapa tega ninggalin Dimas. Dimas janji gak akan bandel lagi, tapi ibu bangun, yah…” Dimas terus menggerak-gerakkan tubuh ibunya.

            “ibu… Dimas nanti bobok sama siapa? Dimas ditemenin makan sama siapa? Siapa yang mau ngelonin Dimas, buuu….”

            Semua orang tak kuasa membendung air matanya. Dimas adalah bocah tangguh, kini harus kembali merasakan rapuh karena ditinggal oleh orang yang paling berharga dalam hidupnya.

            Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar itu dan menhampiri Dimas, “Dimas, sayang” seru wanita itu. Dimas sama sekali tak mau menoleh. “ibu mau dimandikan, Dimas sama tante, yuk” ajak wanita itu sembari menarik pelan tangan Dimas. Namun Dimas menepis pelan tangan wanita itu. “nggak mau… Dimas mau sama ibu” isak Dimas terus.

            Butuh beberapa waktu sampai Dimas mau melepas ibunya, agar bisa menjalani prosesi pemakaman. Disinilah Dimas sekarang berada. Di sebuah pemakaman umum tempat peristirahatan terakhir sang ibu. Dimas sama sekali tak mau diajak pulang. Dimas terus memeluk nisan sang ibu. Kini Dimas merasa bahwa dirinya tak punya siapa-siapa lagi.

Baca juga :

MAAFKAN NIKEN BU

            “Dimas, pulang sama tante, yuk” ajak wanita itu senantiasa menemani Dimas yang masih menangis.
            “Dimas gak mau pulang ke rumah tante… Dimas pulang ke rumah Dimas aja” ujar Dimas sembari memeluk wanita itu. Dimas tak mau tinggal bersama paman dan tantenya. Alasannya karena tak ingin meninggalkan rumah peninggalan sang ibu. Wanita itu mengerti dengan keadaan Dimas sekarang. Alhasil wanita itu mengalah dan ikut Dimas pulang ke rumahnya asal Dimas mau pulang. Tante dan pamannya, memang tidak mempunyai anak meski mereka telah 3 tahun menikah. Maka dari itu mereka memutuskan untuk merawat Dimas dan menganggapnya sebagai anak sendiri.

            Beberapa tahun pun berlalu, dimas telah hidup bahagia bersama paman dan tantenya. Pamannya telah menyuruh Dimas untuk berhenti bekerja, namun Dimas tak mau. Ia lebih suka bekerja daripada bermain di luar bersama teman-temannya. Alhasil sekarang Dimas telah mempunyai bengkel yang menjadi usahanya sendiri. Di umurnya yang baru menginjak remaja, Dimas telah mempunyai usaha pribadi, jerih payahnya sendiri.

            Sungguh sosok yang luar biasa. Dari Dimas kita bisa mendapat suatu pelajaran. Bahwa setiap hal yng kita jalani, harus penuh dengan usaha. Karena usaha tak akan pernah mengkhianati hasil. Dimas adalah sosok yang patut kita contoh. Kesabaran dan rasa bersyukurnya yang kuat membuat dia mampu menjalani kehidupan yang sangat berat. Dan kita harus bisa mensyukuri setiap nikmat yang telah tuhan berikan. Jangan menyia-nyiakan apa yang telah tuhan beri untukmu. Karena tanpa kau sadari, di luar sana, masih banyak orang yang tak seberuntung dirimu. Untuk bersyukur janganlah kau mendongak ke atas tapi menunduklah ke bawah. Dengan begitu, kau akan tahu mudahnya bersyukur dan merasakan nikmat sesungguhnya.

*) Siswi Kelas 9 MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published.