Hari Ke-Empat : Doktor Jebolan Unisma Sampaikan Materi Penguatan Moderasi Beragama

Rabu (13/07/21) adalah hari ke-empat pelaksanaan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA) MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid Tahun Pelajaran : 2021/2022 yang rencana akan rencananya akan dilaksanakan hingga Kamis mendatang. Di hari ketiga tersebut, para peserta didik baru dibekali dengan materi Moderasi Agama. Hadir sebagai narasumber Dr. Zainuddin, M.Pd.I Wakil Ketua STISMU Lumajang yang juga Ketua Komite MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid.

Pemberian materi moderasi tersebut merupakan hal yang sangat penting seiring dengan semangat Kementerian Agama yang menjadikan penguatan moderasi beragama di Indonesia sebagai program prioritas ke depan.

Dengan bahasa yang lugas dan tegas, Doktor jebolan Universitas Islam Malang (UNISMA) memaparkan materi pentingnya moderasi beragama. Menurutya sembari mengutip Menag RI, moderasi beragama adalah cara pandang atau sikap dan praktik beragama yang mengamalkan esensi ajaran-ajaran agama yang hakikatnya mengandung adalah nilai-nilai kemanusiaan dan menebarkan kemaslahatan bersama. hal ini berdasarkan prinsip keadilan dan keseimbangan serta mentaati kesepakatan berbangsa yang dikukuhkan konstitusi

“Cara pandang ini sangat penting di tanamkan dan difahamkan kepada seluruh siswa mengingat Indonesia adalah negara dengan beragam agama (6) kepercayaan, juga madzhab (4), aliran, ras atau suku (1340) dan ragam bahasa (718).” Tutur Alumni STAI Ma’had Aly Al-Hikam Malang ini.

Magister UIN Maliki Malang juga menambahkan bahwa ada empat indikator Komitmen Moderasi Beragama yaitu : Kebangsaan, Toleransi, Anti Kekerasan, Akomodatif terhadap Kebudayaan Lokal. Dalam sudut pandang umum, moderasi beragama tersimpul dalam sembilan hal : Ke-Islam-an, Tauhid, Khalifah (Kepemimpinan), Maslahah (Kesejahteraan), Wathaniyah (Kebangsaan), Khidmah (Pengabdian/Layanan), Sakinah (Ketenteraman), Tarbiyah (Pendidikan) dan Kaffah (Universal).

Tidak hanya menjelaskan konsep moderasi beragama, Pria kelahiran Jember ini juga menjelaskan kriteria dan ciri-ciri santri yang moderat yang meliputi : Tawadhu’, berbakti kepada orang tua,  Takdzim (Hormat Kepada Guru), Ber-Akhlakul Karimah, tidak meninggalkan shalat, tidak meninggalkan baca Al-Qur’an, memiliki akidah yang ber-asaskan Aswaja, Cinta Agama, Bangsa dan Negara, dan Menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Di akhir paparannya Pengurus RMI Lumajang ini berpesan kepada para peserta didik baru “santri Harus Mempunyai Jati Diri, tidak gampang sakit hati apalagi dengki dan iri.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *