Fikih Ibadah : Memahami Makna Ibadah

Oleh : Sahroni, S.Pd.I., M.Pd *)

Allah menciptakan jin dan manusia tak lain untuk beribadah kepada-Nya. (QS. Adz-Dzariyat : 56). Namun tidak banyak yang memahami hakikat esesni ibadah itu sendiri. Mayoritas memaknai ibadah hanya sebatas rukun islam yang lima, sholat, zakat, puasa dan menunaikan haji.

Pertanyaannya adalah apa yang dimaksud ibadah tersebut?Apakah hanya sekedar melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya? Dan mengapa jin manusia perlu beribadah? Apakah karena Allah butuh disembah atau memang ibadah adalah kebutuhan manusia sendiri? Apakah ibadah itu hanya perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah atau ibadah itulah yang menjadi puncak tujuan hidup manusia?

Tulisan ini akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Penulis mencoba menelusuri beberapa kitab turats para ulama klasik maupun kontemporer. Baiklah mari kita bahas satu-persatu.

Arti Ibadah

Secara bahasa Ibadah memiliki banyak arti. Namun arti yang paling pokok dan yang paling penting adalah : taat, tunduk patuh dan rendah diri. Seorang budak dalam bahasa Arab disebut dengan abdun yang akar katanya dari kata abada – ya’budu – abdan – ibadah. Disebut demikian karena seorang budak adalah orang yang rendah di hadapan sang majikan, dia harus tunduk dan patuh kepada pemiliknya. Seorang budak juga bisa diperjualbelikan sebagai hewan piaraan benda lainnya.

Baca Juga :

MEMBACA SPIRIT RAMADHAN DI BALIK DOA BULAN RAJAB

Sedangkan menurut istilah para ulama, arti ibadah yang sesungguhnya adalah sebuah kata yang mengintegrasikan dua hal yaitu rasa rendah diri dan rasa cinta. Rasa rendah diri (hina) dan cinta di hadapan Allah inilah inti dari ibadah. Implementasi dua unsur tersebut lah yang menyempurnakan arti dan hakikat ibadah kepada Allah.

Ketika salah satu unsur keduanya hilang, maka hilanglah arti ibadah yang hakiki. Ibadah yang tidak menyatukan kedua unsur tersebut hanyalah disebut ibadah dalam pandangan istilah syariat belaka. Rasa hina diri atau ketundukan dapat terpisah dari rasa cinta. Bahkan tak jarang ketundukan yang tidak disertai perasaan cinta dapat menimbulkan kebencian orang yang ditundukinya.

Demikian pula, kecintaan juga bisa terwujud tanpa rasa tunduk, sebagaimana seseorang yang mencintai saudara, sahabat atau anaknya. Ketundukan tanpa cinta, cinta tanpa kepatuhan/ketundukan tidaklah cukup disebut sebagai hubungan ibadah antara manusia dengan Allah.

Seorang yang yang sedang mengerjakan shalat misalnya, dia akan mendapatkan ruh shalat itu ketika dia mengerjakan shalat dengan penuh dengan perasaan rendah diri di hadapan Allah dan dia menunaikan shalat tersebut atas dasar perasaan cinta kepala Allah. Orang yang hanya mengerjakan shalat dengan perasaan berat hati dan karena hanya menggugurkan kewajiban shalat,.maka dia tidak disebut sedang beribadah dalam arti sesungguhnya karena shalatnya tidak berlandaskan rasa cinta. Begitu pula sebaliknya.

Oleh karena itu Syaikh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al-Ubudiyyah menulis

العبودية هي غاية الذل بغاية المحبة له. ولهذا لا يكفي احدهما في عبادة الله بل يجب ان يكون الله احب إلى العبد من كل شيء وان يكون الله عنده اعظم من كل شيء بل لا يستحق المحبة والخضوع التام إلا الله

Ibadah yang sesungguhnya adalah puncak rasa hina diri kepada Allah dengan puncak kecintaan kepada-Nya. Karena itu, tidaklah cukup ibadah kepada Allah dengan salah satunya. Allah harus lebih dicintai oleh seorang hamba dari pada yang lain. Dan Allah adalah Dzat yang paling Agung dari segala sesuatu. Tidak ada yang paling berhak mendapatkan kecintaan dan ketaatan yang sempurna kecuali Allah swt.

*) Kepala MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published.