Class Meeting Last Day: Crafting & Recycling

Class meeting kini memasuki hari terakhir. Perlombaan prakarya dan daur ulang limbah yang dijadwalkan pada hari ini mewajibkan setiap kelas mengirimkan karya terbaiknya. Menurut catatan Abdul Rozaq, S.Sos selaku panitia menyebutkan poin utama penilaian tidak hanya sekedar estetik (bagus dipandang) tetapi bahan baku yang digunakan dan tingkat kesulitan (lamanya pengerjaan dan proses pembuatannya) serta adopsi produk jika dikomersilkan.

Baca Juga

TINGKATKAN BUDAYA LITERASI, KEPALA MADRASAH LAUNCHING POJOK BACA KELAS

Konselor madrasah juga menjelaskan saat pembukaan class meeting bahwa instrumen yang menambah bobot penilaian adalah saat presentasi dan hal itu digunakan untuk menunjang dua cabang kurikuler lainya, “bagaimana mereka mempresentasikan produk-produknya merupakan poin untuk menambah nilai. Presentasi di tiap perlombaan itu kami gunakan untuk menilai seberapa baik kemampuan komunikasi peserta didik. Misal kemampuan komunikasi yang sedang diupayakan ini panitia class meeting bisa memberikan rekomendasi-rekomendasi kepada setiap guru mapel maupun wali kelas untuk melatih kemampuan berkomunikasi dengan baik. Jadi antara kegiatan ekstrakurikuler, kokurikuler, maupun intrakurikuler ada kesinambungan dan relevan untuk menilai kemampuan siswa. Kemampuan lainnya pun kita terapkan demikian, agar sembilan bentuk kecerdasan dapat terakomodir sepenuhnya di madrasah ini”.

Dari masing-masing karya dari setiap kelas, ada satu-dua karya yang mirip bahan bakunya tetapi banyak juga yang berbeda. Misalnya, tiruan bunga lengkap dengan potnya yang bahannya terbuat dari limbah kertas dan potongan ijuk yang sering digunakan pada sapu di kelas.

Ada dreamcatcher, sebuah karya yang terinspirasi dari legenda Suku Ojibwe, Wanita Laba-Laba yang melindungi anak-anak dari mimpi buruk. Menurut siswi seniman dreamcatcher saat ditanya M. Said Fadhori, S.Pd.I, dirinya mengetahui tentang dreamcatcher itu dari buku yang ada di Pojok Baca. Karena bahan utamanya adalah benang, maka dirinya mencari kerudung yang tak terpakai agar benang penyusun kain kerudung itu dapat diurai menjadi benang bahan baku dreamcatcher.

“Mendengar paparan siswi tentang dreamcatcher dan alur pembuatannya itu saya optimis bahwa pojok baca di kelas-kelas mampu memberikan pengetahuan dan akan lebih baik jika dikombinasikan dengan praktik langsung seperti yang saat ini mereka lakukan. Jujur saja, saya salut dengan landasan berpikir mereka. Produk seperti ini masuk dalam kategori ekonomi kreatif“, ungkap guru Bahasa Indonesia yang kini fokus pembenahan administrasi.

Kemudian ada karya membutuhkan pewarnaan, yaitu karya dari siswi Kelas IX yang dalam penuturannya saat presentasi itu pewarna diambil dari bahan alami seperti yang diajarkan Ustadz Amang Philips Dayeng P, S.Sos dalam salah satu materi IPA.

Perlombaan ini merupakan ajang kreativitas dan adu bakat. Kompleksitas selama pembuatan setiap karya diharapkan menjadi media simulator peserta didik untuk nantinya dapat beradaptasi dengan perubahan zaman.

Dari hasil penilaian dewan juri didapatkan pemenang lomba prakarya dan daur ulang, yaitu juara pertama dari Kelas VIII-E, juara kedua Kelas VIII-G, dan juara ketiga Kelas VII-E. Yang lain, meskipun tidak masuk nominasi juara tetapi panitia menjanjikan semua peserta akan mendapatkan pembinaan seperti halnya cabang lomba lainnya agar bakat yang dimiliki semakin terasah dengan baik.

One Reply to “Class Meeting Last Day: Crafting & Recycling”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *