Butir Melodi Persatuan Indonesia (Refleksi Peringatan Sumpah Pemuda 2020)

Oleh : Danang Satrio Priyono, S.Psi *)


Bangsa Indonesia yang perjuangannya meraih kemerdekaan dari cengkeraman kolonialisme dan imperialisme bangsa asing sungguh luar biasa epic. Pertempuran demi pertempuran yang saling terkait di tiap-tiap daerah dilalui dengan heroismeselama beberapa ratus tahun sebelum kemerdekaan dapat benar-benar dicapai.

Tonggak penting untuk mewujudkan cita-cita menjadi bangsa berdaulat yaitu ketika sekumpulan pemuda-pemudi mengikrarkan bersama harapan untuk bersatu. Peristiwa ini dicatatkan sebagai Kongres Pemuda 27-28 Oktober 1928 di Batavia (~saat ini bernama Jakarta).

Perjuangan pemuda-pemudi ini tidak dengan mengangkat senjata seperti sebelumnya, tidak pula berjuang dengan mengatasnamakan asal kedaerahan masing-masing dari mereka yang hadir, dan tidak juga bersifat oportunis pribadi, perjuangan yang mereka lakukan dengan membuka forum diskusi untuk mencari visi kebangsaan agar dapat menyatukan semangat kebangsaan demi meraih kemerdekaan serta mempertahankannya.

Forum diskusi yang kemudian di hari kedua (28 Oktober 1928) dinamakan Kongres Pemuda ini digelar di rumah Sie Kong Liong (~kini rumah tersebut digunakan sebagai Museum Sumpah Pemuda, di Jalan Kramat No.106, Jakarta Pusat). Ada tiga belas pemuda yang menginisiasi kongres dalam situasi yang diawasi oleh Pemerintahan Hindia Belanda, beberapa diantaranya:

  1. Moehammad Yamin, sebagai pelopor awal adanya kongres – sekaligus pembuat naskah hasil keputusan kongres (~naskah Sumpah Pemuda);
  2. Soegondo Djojopuspito, aktif dalam Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) yang membuatnya ditunjuk untuk memimpin Kongres;
  3. Wage Rudolf Soepratman, pengarang lagu Indonesia Raya di mana dalam kongres ini dikumandangkan dengan biola – karena beliau, kongres ini memiliki jiwa ~ bagaimana musik dapat menyampaikan cita-cita bangsa;
  4. Sie Kong Liong, aktif dalam gerakan Tionghoa – menyediakan kediamannya sebagai tempat digelarnya kongres;
  5. Sarmidi Mangoensarkoro, aktif dalam gerakan kependidikan – orasinya di kongres menekankan wawasan kebangsaan Indonesia untuk seluruh masyarakat;
  6. Kartosiewirjo, perwakilan Jong Sumatera (wilayah Sumatera tengah sampai Aceh) – aktif di gerakan mahasiswa luar negeri – menghimpun mahasiswa-mahasiswa luar negeri untuk aktif terlibat dalam perjuangan bangsa Indonesia;
  7. Soenario Sastrowardoyo, pengacara muda aktif membela aktivis nasional yang berurusan dengan pihak Hindia Belanda;
  8. Kasman Singodimedjo, melalui orasinya Naskah Kongres Pemuda ini mampu menyemangati seluruh masyarakat (~setelah kemerdekaan beliau menggagas gerakan Pramuka);
  9. Johannes Leimena, perwakilan Jong Ambon sekaligus mewakili Indonesia wilayah timur.
  10. Djoko Marsaid, perwakilan Jong Java (wilayah Jawa) – dalam kongres menjabat sebagai wakil ketua;
  11. Mohammad Roem, aktif bergerak bersama Soenario Sastrowardoyo;
  12. Adnan Kapau Gani, perwakilan Jong Sumatera (wilayah Palembang) – dokter muda yang dipersiapkan jika terjadi hal yang tidak diinginkan selama kongres;
  13. Amir Syarifuddin Harahap, Jong Sumatera (mewakili Batak dan sekitarnya) – aktif di PPPI dan menyumbangkan pikirannya terutama gerakan setelah naskah kongres ditandatangani.

Dalam dokumen yang dimiliki ANRI (lembaga penyimpanan naskah) diketahui bahwa yang hadir sebanyak delapan puluh dua pemuda-pemudi, namun dari kesaksian lisan para tokoh disebut sebanyak tujuh ratusan yang menghadiri di hari kedua penutupan kongres – termasuk para tokoh yang di masa kemerdekaan kiprah mereka terlihat, seperti misalnya Muhammad Hatta, Soekarno, Tan Malaka, Ki Hajar Dewantoro, d.l.l.

Isi dari Naskah Kongres Pemuda yang disepakati, yaitu Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia; Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia; Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Naskah kongres sejatinya tidak pernah disiapkan sebelumnya, secara spontanitas Moehammad Yamin membuatnya saat acara berlangsung di hari kedua lantas menyerahkan kepada ketua kongres untuk dibacakan dan ditandatangani. Awalnya naskah ini berjudul Kongres Pemuda, barulah melalui Keppres No.316 tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 ditetapkannya Hari Sumpah Pemuda yang juga memuat naskah berisi butir-butir Sumpah Pemuda seperti yang kita mengenalnya sekarang ini.

Pemuda di masa pandemi

Tema yang diusung dalam peringatan Sumpah Pemuda ke-92 di tahun 2020 adalah Bersatu Dan Bangkit. Seperti yang dijelaskan oleh Menteri Pemuda Dan Olahraga ketika memperkenalkan logo peringatan Sumpah Pemuda di Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2020 lalu, bahwa tema yang diangkat ini penting bagi keberlangsungan Bangsa Indonesia.

Pemuda yang energik dan aktif berimprovisasi dengan segala jaman diharapkan dapat mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Isu kesehatan dan disintegrasi kebangsaan masih butuh penyelesaian secepatnya, bagaimana pun sejarah mencatat bahwa pemuda adalah agen perubahan – pemuda harus mampu bersatu, bersinergi, berimprovisasi mencari solusi-solusi dengan tidak egosentris kedaerahan selayaknya Kongres Pemuda tahun 1928 dulu digelar.

Selamat memperingati sumpah pemuda, berkarya dan taburkan akhlakul karimah bagi tumpah darah Indonesia.

*) Guru PKn MTs. Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *