Belajar dari UEFA Euro 2021 : Membangun Sebuah Harapan

Oleh : Mochammad Fathur Rosi, S.H. *)

Gelaran Euro Cup 2021 yang mempertemukan timnas Inggris dan timnas Italia di fase final dini hari tadi berakhir dengan kemenangan Italia. Semenjak fase penyisihan, Italia bersusah payah meraih poin agar dapat lolos ke fase berikutnya. Negara ini bukanlah tim unggulan dibandingkan Inggris yang memiliki pemain bertabur bintang lapangan hijau. Secara keseluruhan, Italia diisi pemain dengan level medium yang sebagian besar pemain baru ini tidak memiliki jam terbang di level pertandingan internasional antar negara, hanya 3-5 pemain saja yang dapat disebut pemain senior.

Kendati demikian, mastermind peracik strategi di kubu Italia berstatus salah-satu pelatih terbaik di dunia. Ditanya wartawan saat press conference di awal fase sebulan lalu terkait komposisi yang dimilikinya, dia menjawab, “Setiap pemain di tim ini memiliki tugas dan perannya masing-masing, tidak perlu dibandingkan satu dengan lainnya. Kita akan saling bekerja sama memaksimalkan kemampuan dari tiap pemain dan mengupayakan untuk menang”.

Apa yang dikatakan pelatih Italia itu terbukti, tiap fase dilewati dengan bersungguh-sungguh dan bermain kolektif, tidak ada pemain yang menonjol, semuanya saling support dan saling melengkapi. Italia membungkam cibiran komentator dengan hasil positif, yaitu menjadi penguasa lapangan hijau di benua biru. Perjalanan Italia yang memenangi Euro Cup ini patut untuk direfleksikan, terutama dalam hal kelembagaan.

Civitas MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid berharap memberikan hasil positif seperti halnya Italia. Tidak seperti tahun ajaran sebelumnya, tahun ini terisi semua kelas 7 sampai dengan kelas 9. Dengan jumlah siswa baru mencapai sekitar 400-an siswa, kepala madrasah perlu menambah beberapa guru untuk berkolaborasi dan memaksimalkan perjuangan dalam dunia pendidikan. Selain itu, beliau terus mendorong timnya (dewan guru & staf TU) untuk menambah kompetensi melalui pelatihan-pelatihan, diskusi-diskusi, dan lain sebagainya. Untuk siswa, beliau juga mengupayakan agar peserta didik turut terlibat dalam berbagai kompetisi.

Ditanya terkait hal itu disela-sela kesibukannya Kepala Madrasah, Sahroni, S.Pd.I., M.Pd mengungkapkan, “Walaupun madrasah kita belum akreditasi, kita semua para tenaga pendidik tetap harus belajar karena itu sudah menjadi kewajiban. Jika kita hanya diam saja kasihan sekali anak-anak ini yang tidak mendapatkan hak-haknya dalam menuntut ilmu”.

“Menciptakan budaya membaca, kritis dan analitis dalam menyikapi masalah, serta percaya diri dalam mengungkapkan argumentasi perlu dilakukan dalam setiap pembelajaran bagi siswa. Seperti yang disampaikan pada sosialisasi penguatan pembelajaran abad 21 pada madrasah kemarin itu konsepnya bagus sekali”, lebih lanjut Pria yang kini juga menjadi anggota pengurus LPTQ Kab. Lumajang ini mengungkapkan harapannya.

Di kesempatan yang sama, Misbahul Anwar selaku staf ekskul multimedia menilai apa yang dilakukan Kepala Madrasah Sahroni, S.Pd.I, M.Pd dalam hal manajemen sudah selayaknya tim sepakbola, semuanya memiliki peranan dengan kompetensinya masing-masing. “Para guru dan staf TU ini memiliki kemampuan masing-masing, hebatnya Pak Kepala adalah kemampuan beliau menilai kemampuan seseorang dan memiliki keyakinan MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid pasti bisa dan mampu. Seperti Mancini (pelatih Italia) yang memiliki keyakinan positif pada setiap pemainnya”, ujarnya yang juga menggandrungi sepakbola ini.

Bagaimanapun, untuk mendapat hasil baik perlu melakukan upaya-upaya yang tidak mudah. Di tahun ajaran baru ini kami mengharapkan doa agar civitas MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid tetap memiliki komitmen, kesabaran, dan keikhlasan dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.

*) Kepala TU MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

3 Replies to “Belajar dari UEFA Euro 2021 : Membangun Sebuah Harapan”

  1. Di setiap perhelatan event akbar empat tahunan yang diselenggarakan oleh FIFA, Gli Azzurri memang tidak pernah jadi tim unggulan, tapi Gli Azzuri adalah tim yang kuat, memiliki strategi pertahanan yang tidak dimiliki oleh tim manapun, itu sebabnya kenapa italia sangat ditakuti oleh rivalnya di putaran final , sejarah mencatat itu, termasuk ketika melawan Jerman (tuan rumah) di semi final dan Prancis di final Piala dunia 2006, dua² tumbang melawan Italia. Di tubuh Gli Azzurri sendiri tidak pernah ada rasa takut sama sekali dengan final, karena Gli Azzurri telah terbiasa dengan atmosfer itu, hal yang belum dirasakan Inggris, terutama di ajang Piala Eropa. Ini adalah kali pertama Inggris mencapai final Piala Eropa dan pertama kali sejak 1966 Piala Dunia…
    Forza Italy 😁
    __________________________
    Sekilas tentang sepak bola

    Selanjutnya ….
    Semangat MTs.MU 2. Semoga semakin sukses berkah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *