Apapun Resolusi Tahun Baru, Tetap Ihdinaa As-Shiraata Al-Mustaqiim

Oleh: Muhammad Faisol Ali *)

Sepekan yang lalu, saya sowan ke rumah salah satu guru saya. Seperti biasa, setiap kali ke sana, jamuan beliau seperti hubungan antar sahabat lama yang tidak pernah jumpa. Akrab. Penuh kekeluargaan. Hubungan antar murid dan guru seolah sengaja beliau hilangkan hingga tidak ada sekat sama sekali.

Beliau adalah al-Habib Fahmi bin Muhsin Alaydrus. Masih ada hubungan famili dengan Habib Sholeh, Tanggul.

Seperti pada umumnya, kita ngobrol santai, tanya-tanya kabar berikut kegiatan kami setiap harinya. Obrolan semakin asyik ketika dua gelas kopi menghampiri kami berdua.

Baca Juga

KEGUNDAHAN RASULULLAH DI SAAT MALAM PERGANTIAN TAHUN BARU

Singkat cerita, obrolan kami sudah memasuki puncak. Lalu beliau menanyakan ini pada saya: Ustaz (sapanya) sepekan lagi tahun baru masehi, apa kira-kira resolusi Njenengan untuk tahun 2024?

Saya diam. Menganggukkan pertanyaan beliau sekaligus merenung dan muhasabah diri apa yang ingin saya capai untuk tahun 2024 dan introspeksu diri kesalahan yang telah dilalui. Seraya dengan nada rendah, saya menjawab: jujur Habib, saya tidak kepikiran pada itu. Saya kira ke depan apa yang ingin saya raih itu-itu saja. Sudah cukup. Alhamdulillah. Mohon arahannya dan bimbingannya Habib. Pintaku.

“Jadi begini ustaz, inti hidup di dunia ini bagi kita adalah ayat: اهدنا الصراط المستقيم . Apapun resolusinya, apapun yang ingin kita capai, dan apapun yang ingin kita raih, tetaplah selalu minta petunjuk pada Rabb.” Tutur beliau sambil senyum

“Detailnya begini: mari kita runut satu-satu. Manusia diciptakan tujuannya hanya untuk ibadah. Ibadah yang paling ditekankan bagi umat muslim adalah shalat. Bahkan dalam kondisi tubuh lumpuh total sekalipun namun masih sadar, kewajiban tersebut tetap berlangsung. Dan kelak, amal yang pertama dihisab adalah shalat.” Imbuhnya.

“Dalam shalat, salah satu rukunnya adalah membaca surat al-Fatihah. Sehingga bila ini tertinggal, tidak dibaca, maka shalatnya batal.” Tambahnya.

Saya mengangguk-anggukan kepala dengan seksama menyimaknya.

“Nah, dalam surat al-Fatihah terdapat doa yang terstruktur. Strukturnya sebagai berikut: ayat 1-4 pujian bagi Allah (intro). Ayat 5 merupakan ikrar pengakuan kelemahan diri (bridging masuk doa). Lalu ayat 6 ini ustaz, isinya daging suratnya. The Doa. Permohonan kita ada di ayat ini. Ayat 7 adalah deskripsi lebih lanjut dari apa yang kita minta.” Jelasnya.

“Jadi Ustaz, apapun resolusi kita, tujuan hidup kita ya “ihdinaa as shiraata al mustaqiim”. Mau kerja “ihdinaa as shiraata al mustaqiim”. Mau berkarya “ihdinaa as shiraata al mustaqiim”. Mau jadi guru “ihdinaa as shiraata al mustaqiim”. Mau jadi apapun -yang baik- “ihdinaa as shiraata al mustaqiim”. Jelasnya sambil memegang pundak saya.

Benar memang salah satu tombo ati itu adalah berkumpul dengan anak shaleh. Dari awal obrolan dengan orang alim itu isinya daging semua.

Semoga apapun resolusi kita tahun 2024 ini senantiasa selalu mendapatkan petunjuk dari-Nya. “ihdinaa as shiraata al mustaqiim”

*) Guru MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *