Tahun Baru Islam: Saat Tepat Meng-Upgrade Akhlak

Oleh : Muhammad Faisol Ali *)

Sudah maklum, celebrate dalam tahun baru Islam tidak semeriah dan semegah perayaan tahun baru masehi. Tak ada bunyi terompet melengking, pesta kembang api membubung menghiasi langit, perayaan di tengah lapangan dengan konser meriah sambil berteriak-teriak, atau aktifitas berkumpul dengan keluarga besar menunggu detik pertama tahun baru. Malah sebaliknya, suasana tampak lengang. Tak ada perayaan. Tampak adem-ayem.

Ironisnya, celebrate tahun baru masehi lebih dinanti kedatangannya. Perayaan yang sama sekali tidak ada edukasi, lebih diminati dan digandrungi oleh kawula muda. Perayaan tahun baru Masehi menjadi obsesi. Padahal setiap perayaan tidak harus dirayakan dengan menciptakan hura-hura di tengah jalan atau berkoar tak karuan demi melangsungkan pesta penuh kenistaan.

Dalam Islam memang tidak ada intruksi mengadakan perayaan tahun baru seperti yang dilakukan oleh kebanyakan non muslim. Tentunya, bila kita masih merayakan sama halnya kita melakukan imitasi pada suatu kaum. Dan kita termasuk golongannya. Namun masih ada beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam menyambut tahun baru hijriyah. Adalah melakukan introspeksi diri selama setahun; bahwa dalam kehidupan ini kita harus memilik 2 cermin: cermin pertama, untuk dibuat kaca diri sendiri, cermin kedua, untuk melihat kelebihan orang lain sebagai tauladan. Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Carilah kekurangan diri sendiri dan perhatikan kelebihan orang lain.

Sebagai upaya tafakkur dalam tahun baru hijriyah adalah melalukan sesuatu yang lebih baik lagi. Lebih baik dari tahun sebelumnya. Yuk, hijrah to be better dengan akhlak yang baik.

Bila kita kembali pada esensi terutusnya Nabi Muhammad SAW di dunia, tentunya kita tahu bahwa beliau semata-mata diutus untuk melakukan perbaikan terhadap akhlak manusia. Mulai dari akhlak terhadap sesama manusia atau terhadap Tuhan.

Seorang pemimpin asal Mesir, Sa’ad Zaghlul Pasya pernah berkata begini: “kami tidak membutuhkan banyak ilmu, tetapi kami membutuhkan banyak akhlak yang mulia’.” Dalam penuturannya bisa disimpulkan bahwa sebuah bangsa akan maju dan berkembang bila dalam sebuah bangsa hidup dengan akhlak yang mulia bukan ilmu yang banyak. Sudah barang tentu orang yang berakhlak pasti berilmu tapi sungguh banyak orang berilmu tapi tak berakhlak. Karena memang akhlak sangat penting bagi tegaknya kehidupan individu dan masyarakat.

Kejahatan, peperangan, aksi saling jegal soal pangkat dan jabatan, hingga kejahatan yang tak terekspos oleh media  acap kali memenuhi ruang pandang dan ruang dengar kita akibat akhlak yang buruk. Begitulah bila pada suatu bangsa tidak berakhlak yang baik. Sebagai manusia, kita sangat membutuhkan akhlak yang baik sebagaimana yang sering diserukan oleh Islam.

Imam as-Syafi’i dalam salah satu tuturnya menyampaikan demikian: ”tidaklah Allah memberi manusia suatu karunia yang lebih baik daripada akal dan adabnya, keduanya adalah sumber hidup manusia, dan jika hilang maka kematian lebih baik baginya.” Pernyataan tegas yang disampaikan beliau tentunya merupakan bentuk perhatian Islam terhadap umat secara intensif. Dan memang betapa pentingnya berkehidupan dengan akhlak yang mulia.

Sebagai wujud nyata dalam tahun baru Islam, kita harus terus memperbarui (upgrade) akhlak sesuai dengan ajaran Nabi. Karena bila menilik makna hijrahnya Nabi, keberangkatan beliau selain titah Tuhan juga karena beliau memiliki rasa optimisme yang tinggi, yaitu semangat berhijrah dari hal-hal buruk menuju hal-hal yang baik dan dari hal-hal yang baik menuju yang lebih baik lagi.

*) Guru SKI MTs. Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *