Memaknai Perintah Puasa Perspektif Ilmu Nahwu

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٨٣

Masih tentang ayat puasa. Dalam ayat tersebut di atas, dari kacamata bahasa dan ilmu tasrif, sama sekali tidak ada lafadz (kata) yang tegas yang mengandung perintah langsung berpuasa. Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata ‘kutiba’ (كتب) bentuk fi’il madli dengan shighat mabni lil majhul. Dalam bahasa sederhana, kutiba diartikan “telah dicatat”.

Berbeda dengan perintah-perintah yang lain seperti perintah sholat dan zakat. Allah memerintahkan keduanya dengan bentuk fi’il amar/kata perintah (أقيموا الصلوة وأتوا الزكوة) “dirikanlah sholat dan tunaikan zakat”; begitu juga perintah haji (وأتموا الحج والعمرة لله) “Sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah”.

Dalam ilmu Nahwu, fi’il yang dimabnikan lil majhul, fa’ilnya ditiadakan, kemudian posisi fa’il digantikan oleh maf’ul dengan segala konsekwensi hukumnya. Peniadaan fa’il tersebu memiliki beberapa maksud dan tujuan, salah satu di antaranya adalah lil i’lam (fa’ilnya sudah diketahui), lit ta’dzim (mengagungkan fa’il), lil khaufi minal fa’il (karena takut kepada fa’il) dll.

Kalau kita terjemahkan ayat tersebut secara sederhana menurut arti perkata, maka artinya:

Wahai orang-orang yang telah menyatakan dirinya beriman kepada Allah dan Rasul-nya, telah dicatat atas kamu puasa sebagaimana telah dicatat bagi orang-orang (ummat) sebelum kamu, semoga kamu bertaqwa kepada Allah” (QS. Al-Baqarah: 183)

Kalau kita pahami dan hayati ayat ini, maka kita akan mendapatkan pesan bahwa sebagai orang yang beriman harus sadar dan tahu diri, kalau sudah masuk catatan dan jadwal, kita tidak menunggu perintah. Laksanakan dan ikutilah catatan dan jadwal tersebut dengan penuh rasa ta’dzim dan takut kepada Allah.

Baca Juga : PRODUKTIF MENEBAR AKHLAK KEBAIKAN

Dengan kata lain Allah ingin memerintah kita berpuasa tapi dengan penuh kelembutan dan kasing sayang, seperti perkataan orang tua kepada anak-anaknya yang ingin anaknya menjadi orang yang disiplin, cerdas dan sukses: “Anakku sekarang waktunya belajar loch, nich coba lihat catatan dan jadwalmu. Belajar ya….! Kalau kamu rajin belajar, tepat waktu dan disiplin insya Allah kamu akan menjadi orang yang cerdas dan sukses”.

Seakan-akan dalam ayat tersebut di atas, Allah ingin memerintahkan berpuasa kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dengan penuh kelembutan dan kasih sayang: “wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, sekarang ini kamu sudah masuk catatan di dalam orang-orang yang seharusnya berpuasa. Kerjakan ya…!Apabila kamu melaksanakannya, maka kamu akan menjadi orang yang bertaqwa. Kalau kamu bertaqwa, maka Aku jamin kamu akan hidup bahagia di dunia dan akhirat.
Sebagaimana Firman-Nya:

إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِى جَنَّٰتٍ وَعُيُونٍ 

Sesungguhnya orang yang bertakwa itu berada dalam surga-surga (taman-taman), dan (di dekat) mata air (yang mengalir).” (Q.S. Al-Hijr:45)

Ayat di atas diulang sebanyak 4 kali Al-Qur’an. Ayat yang sama dapat kita temukan di dalam surat As-Syu’aro : 147, Ad-Dukhan: 52 dan Ad-Dzariyat: 15. Allah A’lam.

Ditulis oleh : Kepala MTs. Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *