Majas Dalam Gerakan Literasi

Oleh : Soleh, S.Pd (Guru Bahasa Indonesia MTs. Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul)

MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid sedang menggagas gerakan literasi bagi ustadz-ustadzah termasuk pula tenaga tata usaha dan para santri/murid sebagai bentuk apresiasi juga aktualisasi penggiat pendidikan kepada ilmu pengetahuan. Gerakan literasi yang dimaksud yaitu mendorong minat baca yang kemudian menciptakan kelompok-kelompok diskusi tidak hanya di kelas-kelas bersama para murid tetapi juga para ustadz pun termotivasi melakukannya, selanjutnya dari forum-forum diskusi ini timbul ide tulisan baik berupa esai, puisi, cerpen, novel, maupun jurnal ilmiah ke depannya.

Apa artinya memiliki kedigdayaan jika tidak dapat diwariskan dalam sebuah karya tulis, begitulah semangat civitas Mts. Miftahul Ulum 2 Bakid jika dituangkan dalam bentuk majas. Gerakan karya tulis yang hendak dibudayakan ini perlu adanya pemahaman terhadap kaidah-kaidah penulisan, selain itu karya tulis juga dianggap seni budaya suatu entitas kelompok masyarakat maka unsur seni memiliki peran penting yang tidak dapat dikesampingkan. Misalnya saja, penggunaan rima yang mengatur intonasi pembacaan dengan memainkan huruf vokal maupun konsonan; bisa pula penggunaan majas atau gaya bahasa yang memiliki fungsi untuk mempertegas dan memperjelas kesan serta pesan dalam muatannya.

Umumnya seorang penulis memakai majas semata-mata sesuai dengan fungsi majas itu sendiri, selain memperindah gaya penulisan juga sebagai kekhasan yang mewakili diri penulis. Dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dijelaskan majas memiliki banyak ragam, seperti metafora, personifikasi, hiperbola, simile, litotes, dan lain-lain. Oleh karena setiap karya tulis mengandung pesan atau gagasan yang hendak disampaikan kepada pembaca, tentunya penerapan majas ini perlu kehati-hatian agar isi tidak mengalami pergeseran makna atau menciptakan ambiguitas menurut pemahaman pembaca. Langkah awal penulisan setelah mendapat tema, yaitu merangkai kata menjadi kalimat dan menautkannya kembali antar kalimat dengan menggunakan sisipan majas-majas berguna untuk merangsang ingatan terhadap pemilihan diksi yang sesuai dengan tema. Pembiasan penggunaan majas secara alamiah juga menimbulkan keinginan untuk menulis karya berikutnya dengan tema yang selaras atau malah sebaliknya, tentu hal tersebut akan berbanding lurus dengan jumlah karya tulis guna mendukung gerakan literasi di lingkungan Pesantren Miftahul Ulum Bakid khususnya di MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid.

Gagasan literasi yang sedang dibangun pondasinya oleh Kepala MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid ini sudah tampak bersinergi dengan semangat civitas akademika (ustadz-ustadzah, tata usaha, santri) untuk proses perwujudannya. Setiap esai buah hasil forum-forum diskusi serta ide juga wacana pun hasil respon interaksi dengan fenomena sosial-budaya-pendidikan semuanya terindeks di website lembaga. Jika budaya baca-tulis (karya seni literasi) ini tumbuh baik di lingkungan yang mendukung seperti halnya musim penghujan yang identik dengan jamur berkembang tentunya kumpulan artikel tersebut dapat dibukukan setiap semester. Dan pengembangan gaya penulisan, pemilihan tema, penggalian narasumber dalam waktu ke depan akan semakin mapan pula. Hal baik ini penulis rasa perlu mendapat dukungan dari semua pihak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *