Kurikulum Pendidikan di Bulan Ramadhan

Oleh : Sahroni, S.Pd.i., M.Pd *)

Dalam dunia pendidikan, kurikulum memegang peran penting demi tercapainya kesuksesan belajar dan tujuan pendidikan. Kurikulum merupakan kumpulan rencana, tujuan, materi pembelajaran, dan bahkan cara mengajar yang digunakan sebagai pedoman oleh para pengajar demi tercapainya tujuan akhir pembelajaran.

Ramadhan merupakan salah satu ibadah dan momentum yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan dani kurikulum pendidikan yang disiapkan oleh Allah untuk mendidik manusia untuk mencapai tujuan hidup dan kehidupan yang sesungguhnya. Sebagaimana kurikulum pendidikan, Ramadhan memiliki landasan, cara, dan tujuan serta evaluasi. Berikut beberapa point yang bisa dipetik dari kurikulum Ramadhan :

Perencanaan

Ramadhan merupakan salah satu bulan dalam Islam yang dapat dapat diketahui kapan waktunya akan tiba. Setiap muslim sudah barang tentu dapat mengetahui kapan ia harus melaksanakan kewajiban ibadah puasa karena sudah termaktub dalam kalender-kalender hijriyah. Dengan demikian, dia akan mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadhan yang mulia itu. Sebagaimana Rasulullah saw sudah mempersiapkan diri sejak bulan Rajab 2 bulan sebelum hari H. Dalam doanya, Rasulullah saw bersabda :

اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان

“Ya Allah berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’bah dan sampaikan umur kami ke bulan Ramadhan.”

Dengan doa tersebut, Rasulullah saw mengajarkan agar kita dapat sedini mungkin melakukan persiapan-persiapan (planning) untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan dzahir maupun batin.

Karena itu, dalam Al-Qur’an : 183 perintah kewajiban ibadah puasa menggunakan kata كتب yang secara etimologis bermakna dicatat, dijadwalkan, ditentukan waktunya dll.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (Q.S. Al-Baqarah:183)

Puasan Ramadhan merupakan kurikulum Allah yang telah direncanakan secara matang untuk melatih, mendidik, memberikan pembelajaran kepada orang yang beriman dalam rangka mencapai tujuan utama penciptaan manusia, yaitu menjadi pribadi yang bertaqwa.

Tujuan

Sebagai alat pendidikan, tentu kurikulum diciptakan bukan tanpa tujuan. Menurut para pakar pendidikan tujuan utama kurikulum adalah untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat menjadi pribadi serta warga negara yang kreatif, inovatif, beriman, dan juga afektif ketika dia berada pada lingkungan masyarakat kelak.

Pun demikian, puasa Ramadhan bukanlah rutinitas tahunan atau ritual belaka yang tidak bermakna dan tidak memiliki tujuan. Faktanya banyak yang menganggap puasa Ramadhan biasa saja. Ramadhan hanya dianggap merubah jadwal makan dan minum saja. Sehingga Ramadhan tidak berdampak positif sebagai ibadah yang transformatif substantif tetapi hanya ibadah normatif.

Idealnya, seorang mukmin sebelum memasuki Ramadhan diharapkan mampu membuat program ibadah Ramadhan secara komprehensif dan terpadu, baik ibadah yang wajib seperti shalat lima waktu maupun yang sunnah seperti shalat sunnah rawatib, shalat tarawih, shalat witir, tadarus Al-Qur’an bangun malam untuk santap sahur dan qiyam al-lail (salat tahajud) dan sebagai. Ibarat kurikulum, Ramadhan harus disiapkan dengan baik, terukur, dan humanis.

Pelajaran apa saja yang direncanakan untuk diperoleh dan didalami selama Ramadhan perlu direncanakan dan diprogramkan sedemikian rupa sehingga tujuan akhir Ramadhan dapat tercapai secara optimal, yaitu menjadi orang-orang bertakwa sebagaimana termaktub dalam QS Al-Baqarah: 183 di atas.

Baca Juga : MEMAKNAI IDUL FITRI 1442 H DI TAHUN KEDUA PANDEMI

Evaluasi

Evaluasi pada kurikulum ditujukan untuk memeriksa apakah kurikulum yang diterapkan tersebut efektif dan mampu mencapai tujuan pendidikan.

Sebagai salah satu ibadah yang sudah bisa diprediksi sebelumnya, seyogyanya dan selayaknya kita bisa melakukan introspeksi diri dan evaluasi terhadap pelaksanaan ibadah Ramadhan tahun sebelumnya. Kekurangan dan kelebihan Ramadhan sebelumnya dianalisis secara kritis dengan baik sehingga dapat melakukan upaya reflektif sembari menyiapkan program-program strategis untuk memasuki Ramadhan setelahnya. Dengan evaluasi tersebut, seorang mukmin mampu membuat perencanaan dan program yang matang terkait sesuatu yang harus diperbaiki, ditingkatkan, dan disempurnakan.

Bagi orang telah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan hanya ada dua pilihan; beruntung atau buntung (dalam ketakwaan).

Ramadhan bukan momentum kesalehan musiman, kemudian “tidak perlu” saleh lagi di bulan-bulan lainnya, dan hanya akan (kembali) beramal saleh pada Ramadhan tahun berikutnya. Karena sejatinya Tuhan yang disembah di Bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan adalah Tuhan yang sama, Allah.

اليس رب رمضان رب بقية الشهور

“Bukankah Tuhan yang memiliki bulan Ramadhan adalah Tuhan bulan-bulan yang lain?”

Al-Qur’an yang kita baca tetaplah sama, Sedekah yang kita dermakan di bulan Ramadhan juga dianjurkan di setiap saat. Witir pun tidak hanya disunnahkan di bulan Ramadhan. Tarawih bisa kita ganti dengan shalat sunnah yang lain. Bukankah di setiap bulan juga ada puasa sunnah, Senin Kamis, Ayyamil Bidl dan lain-lain.

Idul Fitri merupakan awal kembali suci, setelah segala noda, dosa, dan sifat-sifat tak terpuji dibersihkan dalam madrasah Ramadhan. Oleh karenanya, sudah seharusnya manusia menjaga kesucian tersebut pasca Ramadhan sampai dengan datangnya Ramadhan berikutnya.

Diharapkan setelah Ramadhan, takwa itu kemudian melekat pada kepribadian orang-orang beriman, yang secara estafet akan melahirkan hal-hal positif dan unsur-unsur kemanfaatan dalam kehidupan si muttaqin (orang bertakwa). Karena pada hakikatnya ketaqwaan itulah yang akan menjadikan hari-hari kia sebagai bulan Ramadhan

تقوى المسلم يجعل ايامه رمضان

Ketaqwaan seorang muslim lah yang dapat menjadikan hari-harinya laksana bulan Ramadhan.

Inilah makna kata تَتَّقُونَ yang dalam ilmu tata bahasa Arab disebut dengan fi’il mudhari’ yang menunjukkan zaman hal (sekarang) dan zaman mustaqbal (waktu yang akan mendatang). Orientasi ketaqwaan bukanlah hanya di bulan Ramadhan saja tetapi jauh menatap masa depan hingga menghadap sang Khaliq

*) Kepala MTs. Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul Jatiroto Lumajang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *