Keteladanan Rasulullah SAW Dan Para Sahabat Dalam Peristiwa Hijrah (Refleksi Tahun Baru Hijriyah 1442)

Marhaban Yaa Muharram, bagi semua makhluk Allah SWT. Hari ini bertepatan Tanggal 1 Muharram 1442 Hijriyah, dengan bergantinya tahun ini semoga segala musibah yang menimpa dunia khususnya pandemi Covid-19 segera berakhir. Dan, kita kaum muslimin selayaknya musahabah, tabah dan bersabar, serta menahan diri dalam menghadapi segala carut-marut sebagai efek riak air dari kondisi yang disebabkan pandemi akhir-akhirnya. Sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat yang sudah memberi teladan dalam peristiwa hijrah dari Mekkah menuju Madinah pada Tahun 622 Masehi. Tonggak bersejarah inilah yang dikenal dan kita semua peringati sebagai Tahun Baru Hijriyah.

Memaknai peristiwa hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat penting untuk kita lakukan, karena sejarah sejatinya selalu berulang, maka kita wajib mengkaji tiap-tiap makna yang tersirat maupun tersurat dalam peristiwa tersebut. Kala itu, Rasulullah Muhammad SAW berhijrah selain karena mendapatkan wahyu, juga adanya sikap penolakan penduduk mayoritas Mekkah yang tidak berkenan dengan dakwah Islam. Rasulullah Muhammad SAW tabah dengan ketetapan yang Allah SWT berikan, yaitu menghadapi kenyataan bahwa kampung halamannya bukanlah tempat yang baik. Selayaknya kita yang hidup saat ini di tengah wabah, sekiranya kita tabah seperti yang Rasulullah SAW contohkan dalam penyebab peristiwa hijrah, kita wajib menerima ketetapan Allah SWT bahwa Covid-19 ini nyata adanya, (*)kasus dilaporkan 22.419.478 jiwa yang terpapar dan korban meninggal mencapai 786.696 jiwa per Tanggal 19 Agustus 2020 di seluruh dunia menurut catatan worldometers(dot)info (*jumlah ini penulis cantumkan sejak artikel ini ditulis).

Sebelum bergerak meninggalkan Mekkah, Rasulullah SAW menyeru para sahabat untuk meninggalkan kampung halaman beserta harta – atau harta benda berikan kepada kaum papa yang ada di Mekkah dan juga meninggalkan keluaga yang tidak menginginkan hijrah, hal ini menyiratkan makna bahwa keiklasan untuk melepas hal-hal yang kita cintai demi suatu keadaan yang lebih baik mutlak harus kita lakukan. Seperti halnya kondisi awal pandemi ini masuk Indonesia, banyak dari kita kehilangan sumber nafkah atau kehilangan kesempatan mendapatkan penghidupan lebih baik dari tahun sebelumnya atau banyak dari kita yang sanak keluarga dan kerabat berpulang akibat wabah sepatutnya kita harus dan mampu mengiklaskan sesuatu yang terpaksa kita tinggalkan (atau meninggalkan kita). Yang memilukan akibat wabah ini sampai sekarang bagi saya, dua saudara juga seorang dosen, dan seorang sahabat (beserta istri dan putranya) wafat akibat Covid-19, semoga Allah SWT merahmati beliau semuanya.

 Suasana dan situasi yang tidak kondusif di Mekkah saat itu selayaknya sekarang ini, situasi yang membuat kita cemas (bahkan cenderung stress yang mengarah ke depresi secara mental) akan penularan di lingkungan sekitar kita. Penutupan sekolah-sekolah dan tempat ibadah termasuk pelarangan aktifitas ritual keagamaan, juga kewajiban mematuhi protokol kesehatan adalah tindakan pencegahan dari pemerintah semata-mata demi kebaikan kita semua. Sekali lagi, Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat telah memberi tauladan dengan selalu bersabar serta menahan diri dan berikhtiar semampu yang dapat dilakukan untuk bertahan hidup dengan situasi-kondisi yang sulit sekalipun. Tidak ada keraguan apalagi ketakutan yang ditampakkan oleh meraka, sikap optimis dan tawakal kepada Allah SAW yang senantiasa berkeyakinan cepat maupun lambat akan datang pertolongan Allah SWT.

Penulis berharap kepada segenap muslim Indonesia khususnya para ustadz-ustadzah, santri, dan satriwati di lingkungan MTs. Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul mengikuti teladan Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat di peristiwa hijrah sebagai bekal menghadapi pandemi yang melanda seluruh dunia ini.

Oleh: Danang Satrio P, S.Psi (Guru MTs. Miftahul Ulum 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *