Ilmu Pengetahuan di Balik Peristiwa Isra’ Mi’raj

Oleh : Danang Satrio Priyono, S.Psi *)

Di abad ke-7 Masehi silam, Rasulullah Muhammad diperjalankan oleh Allah tidak hanya perjalanan di bumi saja namun disinyalir perjalanan lintas dimensi menurut pemahaman fisika modern yang baru-baru ini kita pahami. Di masa itu, pernyataan Rasulullah tentang isra’ mi’raj menjadi perdebatan serius baik bagi kalangan kafir maupun kalangan muslim, bahkan banyak dari kaum muslimin yang murtad karena hasutan kaum kafir yang menganggap Muhammad SAW sudah gila.

Menurut ilmu psikologi, selain percaya (keimanan) manusia membutuhkan bukti untuk mendukung apa yang dipercayainya, namun di saat isra’ mi’raj itu terjadi perkembangan ilmu pengetahuan belum mapan jika dibandingkan masa sekarang. Bagi muslim yang sudah bulat keimanannya tidak ada sanggahan sekalipun pada ucapan Rasulullah, lain bagi kaum kafir dan muslim yang baru saja mengenal Islam, cerita isra’ mi’raj hanyalah halusinasi.

Muslimin yang beriman meyakini Al-Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan, tidak ada pemisahan antara agama & science – ilmu pengetahuan sejatinya bagian dari agama dan Islam sebagai agama sempurna dapat diartikan agama ini tidak hanya bersifat spiritual semata namun juga bersifat universal meliputi segala aspek kehidupan alam semesta, melalui Al-Qur’an yang sebaik-baiknya kitab (buku) merupakan mukjizat kenabian Muhammad SAW maka layaklah Al-Qur’an sebagai penerang (sumber ilmu) bagi manusia. Tafsir Al-Qur’an memiliki tiga komponen struktural, yaitu sebagai penjelas makna; sebagai upaya eksplorasi paradigma; dan sebagai pemahaman filosofis. Hal ini sudah banyak diterapkan ilmuwan-ilmuwan besar Islam di masa lampau dengan merumuskan hipotesis hingga menjadi teori berangkat dari Al-Qur’an. Beberapa teori terkait isra’ mi’raj, yaitu: Teori Annihilation; Teori Relativitas Kuantum; Teori Teleportasi; dan Modulasi Gelombang.

Kejadian isra’ mi’raj menggelitik banyak kaum yang berpikir baik itu dari kalangan kafir maupun muslim, rekayasa ujicoba banyak dilakukan namun belum sampai melibatkan materi kompleks seperti tubuh manusia, hanya dengan elektron (salah satu partikel penyusun materi) dan photon (zat penyusun cahaya) beberapa ilmuwan mendapati kesimpulan bahwa kisah isra’ mi’raj (serta kisah lainnya di Al-Qur’an) bukan hanya sekedar dogma agama belaka namun benar adanya dan dapat dibuktikan secara ilmiah. Relativitas Einstein yang mengatakan bahwa “waktu, jarak, dan massa sifatnya relatif sedangkan yang sifatnya konstan adalah kecepatan cahaya” merupakan juga pembuktian isra’ mi’raj.

Kejadian isra’ mi’raj Rasulullah sangat penting bagi ummat Islam karena adanya perintah sholat, namun juga akan berimplikasi pada perkembangan peradaban dan teknologi tingkat lanjut diluar jangkauan imajinasi manusia. Maha Besar Allah dengan kekuasaan yang meliputi semesta alam seperti yang tercantum di Surat Ath-Thalaq ayat 12. Manusia abad ini masih berlomba-lomba mengungkap rahasia besar Allah SWT di balik peristiwa tersebut, dan sepertinya fisika modern yang kita pahami akan berubah paradigmanya.

*) Guru MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *