Homeophaty Selama Ramadhan

Oleh: Abdul Rozaq, S.Sos *)

Menurut konsep psikologi ada istilah homeophaty, yaitu menciptakan suatu kondisi yang kontras dengan keadaan agar mencapai suatu keseimbangan psikologis. Jika manusia mengalami kondisi stres secara otomatis tubuh menciptakan realitas berlawanan yang sifatnya menenangkan dengan suatu sugesti. Misalnya, kita mengalami cacian dan hinaan yang menyakitkan, maka kita balas cacian dan hinaan itu dengan kalimat pujian dan penghargaan tujuannya secara psikologis agar membentuk keseimbangan. Respon tersebut sulit di lakukan, namun jika kita berhasil melakukannya maka secara psikologis kita akan jauh lebih sehat dan dapat berfikir positif.

Ada sebuah kisah terkait homeophaty yang telah diajarkan Rasulullah Muhammad SAW, Ubadah bin Al Shamit menceritakan: pada suatu hari Rasulullah Muhammad SAW menceritakan: “Maukah aku tunjukkan hal-hal yang menyebabkan Allah mengangkat derajatmu?”. Ketika sahabat-sahabatnya berkata “Na’am Yaa Rasulullah”, kemudian Rasul berkata: “Engkau maklumi orang yang menentangmu karena ketidaktahuannya, engkau maafkan orang yang menganiayamu, engkau berikan rezekimu kepada orang yang mengharamkan hartanya untukmu dan engkau sambungkan persaudaraan dengan orang yang memutuskannya.

Dalam realitas sosial manusia akan sulit kita memaklumi orang yang menentang kita, memaafkan orang yang justru telah menganiaya kita, atau memberikan rezeki kepada orang yang telah mengharamkan hartanya untuk kita dan kita menyambungkan persaudaraan kepada orang yang sudah memutuskannya. Justru karena kesulitan itulah kemudian Allah akan mengangkat derajat manusia. Kesehatan jiwa karena tindakan dan ucapan diri kita sendiri bukan sebagai pemberian dari orang lain, melainkan kita sendiri yang menciptakan, membangun dan kita pelihara. Para motivator atau psikolog melalui seminar maupun konten media sosial seringkali memberikan sugesti positif agar kita selalu berfikir positif dan optimistis, padahal sejak 1500 tahun lalu Rasulullah telah mengajarkan nilai-nilai positif ini dalam keseharian kita dengan prinsip homeophaty ini.

Menciptakan-membangun-memelihara kondisi positif atas suatu keadaan negatif dengan dasar sugesti positif hakikatnya adalah proses pelatihan dan pendidikan untuk mencapai fitrah manusia dengan prinsip keseimbangan. Allah SWT yang memuliakan Ramadhan sebagai bentuk penempaan spiritual – psikis – biologis agar manusia membentuk keseimbangan hidup yang berlandaskan akal pikiran positif (akhlakul karimah). Indikator keberhasilannya yaitu, manusia akan jauh lebih sehat secara spiritual – psikologis – biologis, termasuk dalam perilaku komunikasi kita dengan orang lain setelah menjalani puasa Ramadhan. Selain menjadi yang disebut di atas, kita menjadi orang yang berhasil membiasakan mengucapkan kata-kata santun kepada orang yang menentang visi kita; mengungkapkan kebaikan hati kepada mereka yang menganiaya dan menyakiti diri kita; mendermakan harta kepada orang yang mengaharamkan hartanya untuk kita; dan menebarkan kasih sayang kepada orang yang memutuskan silaturahim dengan diri kita adalah hasil kelulusan kita menempuh pendidikan keseimbangan selama Ramadhan. Allah SWT pun senantiasa mengangkat derajat diri kita sebagai balasan amal seperti yang dijelaskan Rasulullah Muhammad SAW.

*) Guru BK MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *