Hari Kedua MATSAMA Putra: Pencegahan Bullying & Kekerasan Oleh Anggota Dewan Komisi C DPRD Kab. Lumajang

MATSAMA (Masa Ta’aruf Siswa Madrasah) hari kedua dirasa sangat spesial, pemateri-pemateri yang dihadirkan cukup memiliki kapabilitas di bidangnya masing-masing. Setelah Ketua LPM STIS Miftahul Ulum Lumajang dan Pimpinan Redaksi Publis.id, panitia mengundang salah seorang Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Lumajang yang berlatarbelakang santri, yaitu Usman Afandi, S.Pd.

M. Fathurrosi, S.H beralasan, dengan adanya anggota dewan yang berlatarbelakang santri sebagai pemateri diharapkan memotivasi siswa baru, bahkan siswa Anggota OSIM yang kini terlibat berkolaborasi dengan para guru di kepanitiaan pun termotivasi untuk belajar lebih giat agar sukses seperti halnya figur Anggota DPRD. Anggapan itu tidak salah, karena Cak Usman (sapaan akrab Usman Afandi, S.Pd) semasa anak-anak hingga pra-remaja dihabiskan di Pesantren Miftahul Ulum, hal ini beliau ceritakan kepada siswa baru agar menumbuhkan emosional senasib sepenanggungan. Impact dari perasaan tersebut akan menghasilkan motivasi bagi siswa yang jika ditulis dalam sebuah kalimat: Pak Usman dulunya adalah santri yang menghabiskan waktu untuk belajar, kini setelah dewasa menjadi anggota dewan yang profesinya adalah mewakili rakyat dan membantu rakyat dengan ilmu yang didapat dari madrasah dan pesantren; Jika Pak Usman bisa, maka aku pun bisa – begitu kira-kira yang diharapkan terlintas di benak siswa.

Sekitar 30 menit pria yang berada di Komisi C DPRD Kab. Lumajang ini memberikan motivasi-motivasi, tidak hanya kepada para siswa tetapi kepada guru yang diwakili Fathur Rahman, S.Pd dan staf yang diwakili Sugianto. Dihadapan peserta MATSAMA beliau berterimakasih kepada seluruh tenaga kependidikan MTs. Miftahul Ulum 2 Bakid yang mau berinovasi secara mandiri maupun kelembagaan demi membimbing putra-putri generasi penerus bangsa agar tidak tertinggal di era yang serba cepat ini. Keikhlasan para guru dan semua staf semoga dicatat amal kebaikan oleh Allah SWT.

Pencegahan perundungan dan kekerasan adalah program wajib madrasah yang sudah berjalan kurang-lebih 2 tahun. Hal ini disampaikan oleh Fathur Rahman, S.Pd di sesi jeda sebelum materi utama. “Kami para guru dalam setiap kesempatan utamanya saat KBM berlangsung diintruksikan oleh kepala madrasah untuk memberikan asesmen pencegahan perundungan dan kekerasan. Madrasah memiliki Program APK untuk asesmen tersebut dan saling bekerjasama antara Bidang Kesiswaan, BK, Guru-Staf, dan OSIM agar dapat mencegah timbulnya hal-hal negatif”, terang Ketua Kopontren Se-kabupaten Lumajang.

Kegiatan yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Madrasah ini mengulas mengenai pencegahan tindakan perundungan dan kekerasan. Mulai definisi perundungan hingga perilaku sepele yang masuk kategori perundungan pun dijelaskan terperinci melalui slide proyektor yang beliau buat sendiri. Gaya komunikasi khas ustadz pesantren (kalem dan santai namun serius) yang beliau sampaikan memudahkan siswa memahami materi. Pengalaman-pengalaman selama menjadi santri pun beliau ceritakan, menurutnya, hal tersebut perlu diketahui oleh siswa agar mereka mengetahui batasan-batasan entah dalam hal bercanda maupun di aktivitas lainnya.

Sugianto yang duduk di barisan siswa tampak menikmati materi yang disampaikan sepanjang satu jam tersebut, “Di awal materi saat beliau menceritakan kisahnya selama menjadi santri itu saya kagum. Begitu menikmatinya tak terasa satu jam lebih materi utama telah disampaikan”.

Kegiatan MATSAMA hari kedua ditutup tepat pada pukul 13.00 WIB, dilanjutkan esok hari dengan pemateri lainnya yang semoga dapat memberikan bekal kepada civitas madrasah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.