Gus Dur Sang Mujaddid Nahdlatul Ulama

Oleh : Abdul Halim *)

Modern dalam Kamus Besar Bahasa indonesia (KBBI) berarti sikap dan cara berpikir serta cara bertindak yang sesuai dengan tuntutan zaman. Dan kata modern apabila disandingkan dengan Nahdlatul Ulama (NU) tidak bisa lepas dari sosok Abdurrahman Wahid atau akrab dikenal Gus Dur (1940-2009), sosok mujaddid (pembaharu) NU yang juga merupakan cucu KH. Hasyim Asyari, salah seorang muassis (pendiri) NU. Hampir seluruh kaum modern lahir di tubuh NU itu karena terinspirasi oleh Gus Dur, misalnya saja Kyai Hasyim Muzadi.

Gus Dur mempunyai nama kecil Abdurrahman Addakhil, lahir dari pasangan KH. Abdul Wahid dan Ny. Sholichah pada 7 September 1940 M. Sebagaimana kebanyakan masyarakat Islam, Gus Dur menyertakan nama ayahnya setelah namanya sendiri. Sehingga masyhurlah beliau dengan nama Abdurrahman Wahid.

Sepulangnya Gus Dur dari belajar di Timur Tengah, selain mengajar di pesantren beliau juga aktif di Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Lembaga Pengkajian Pengetahuan Pendidikan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Melalui LSM inilah, Gus Dur mengelola proyek pemberdayaan pada masyarakat pesantren. Gus Dur memperkenalkan kehidupan pesantren kepada khalayak luas sehingga tidak terjadi salah paham hanya persoalan kata “tradisional dan kolot”. Sementara, kepada kalangan pesantren juga dikenalkan tata kelola kehidupan dan pemberdayaan ekonomi secara modern sehingga mereka tidak terkungkung dalam budaya dan tradisi pengelolaan ekonomi yang hanya sederhana saja.

Dalam sebagian literatur disebutkan bahwa Gus Dur sebenarnya mempunyai keinginan untuk terus mengembangkan diri sebagai cendekiawan publik dan aktif terlibat dalam gerakan politik serta untuk tidak terikat pada struktur organisasi NU, hingga pada akhirnya beliau pun mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa sebagai jalan perjuangannya. Namun karena KH. Bisri Sansyuri, kakek Gus Dur dari jalur ibu, meminta Gus Dur untuk masuk ke dalam struktural NU sampai tiga kali maka Gus Dur pun berkenan masuk ke dalam struktural NU sampai mengantarkannya menjadi Ketua PBNU.

Sebagai intelektual muslim yang selalu berbicara HAM dan demokrasi serta pluralisme, Gus Dur mulai dikenal hingga ke kancah internasional. Dan setiap berkumpul dengan para pakar ilmu sosial, Gus Dur selalu mempromosikan idealisme pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan yang memegang prinsip HAM dan demokrasi serta pluralisme. Tidak ada diskriminasi di pesantren walaupun di dalamnya terdapat banyak santri yang berasal dari berbagai kalangan. Sehingga pesantren yang mulanya dikenal publik dengan citra ‘kolot’ berangsur-angsur semakin berwibawa ketika Gus Dur menduduki Presiden Republik Indonesia dan banyak anggota dewan yang berlatar belakang santri, membuat banyak orang luar negeri tertarik membuat pesantren sebagai bahan pengkajian.

Gus Dur menjadi jendela NU dan pesantren ke dunia modern hingga sampai saat ini, betapa pesantren menjadi alternatif pendidikan yang berpedoman pada ajaran agama. Di satu sisi NU menjadi organisasi yang paling berkarisma dan berwibawa tidak hanya bagi kalangannya sendiri, melainkan juga bagi kancah nasional bahkan internasional. Begitu pula pesantren menjadi lembaga pendidikan yang kian berada dalam posisi kejayaannya terutama karena mampu mengimplementasikan pendidikan sampai pada jenjang perguruan tinggi dan menghasilkan sumber daya manusia berakhlakul kharimah.

Oleh karena inilah, apabila disebut kata NU dan pesantren yang modern tidak bisa dilepaskan dengan jasa Gus Dur dalam membangun citra baik tersebut, kemudian melahirkan banyak intelektual NU yang terinspirasi dan mengikuti jejak langkah Gus Dur. Penulis merasa berani untuk berkata, bahwa Gus Dur adalah sang mujaddid Nahdlatul Ulama dengan pemikiran yang elegan dan perjuangannya yang pantang menyerah mengibarkan bendera NU sebagai organisasi aswaja.

Harlah NU ke-95 tahun ini bisa untuk menjadi tonggak bagaimana seharusnya santri kekinian belajar dari sosok-sosok pendahulu tentang kesabaran dalam berjuang maupun mengkolaborasikan potensi umat untuk kebaikan bersama. Selamat Hari Lahir untuk Nahdlatul Ulama, berkibarlah selalu menangungi Indonesia.*

*) Staf Tata Usaha MTs. Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *