Elemen Energi Spiritual Ulama Salaf

Oleh : Muhammad Faisol Ali, S.H *)

Suara gemuruh santri yang sedang belajar sesekali melewati telinga saya di gedung madrasah pesantren. Obrolan saya dengan beberapa sahabat semakin mencapai puncak klimaks keseruan. Dalam hati saya: betul pepatah lama; berkumpul dengan orang-orang baik sedikit banyak kita mendapatkan kebaikan pula.”

Obrolan santri itu lebih keren daripada obrolan pemuda-pemudi sambil duduk di meja cafe ditemani secangkir kopi dan hilir-mudik pengunjung cafe lainnya. Meski sama-sama ditemani seruputan kopi, hal yang membuatnya beda adalah obrolan santri selalu melibatkan mubtada-khobar dalam diskusinya. Bagi pemuda atau pemudi berlatar sekolah tinggi di luar pesantren itu hal sepele, mungkin. Namun, setiap bidang pendidikan memiliki elemen energi tersendiri yang selalu khas antar pendidikan yang lain. Sepanjang obrolan atau diskusi yang dilakukan memberikan dampak positif, itu sah-sah saja. Selaras dengan cerita di atas, Ibn Rusyd berargumentasi begini:

ومجرد الحفظ وتكرار العلم من غير عمق في الفهم لا يعطي ملكة فيه لا بد من المناقشة والمطارحة وتبادل الرأي فيما يتم تحصيله مع أهل الفن

Kapasitas keilmuan akan diperoleh dengan berdiskusi dan sharing bersama ahlinya, tidak (cukup) hafalan semata dan takrar ilmu tanpa penguasaan yang holistik.

Sesekali di antara kami terdiam. Bahkan di antara kita ada yang mengernyitkan dahi, menyambungkan sekat kedua alis yang sejak lahir tercipta terpisah, mengubah posisi kopyah yang semula sudah benar sedikit dimiringkan seraya mengeluarkan jambul rambut depan, tepuk jidat memahami kalimat demi kalimat kitab turats yang didiskusikan. Sesekali suara gemuruh santri belajar di kelasnya masih mendengung di setiap sudut ruang telinga. Namun, kita masih terdiam dalam semedi otak masing-masing; menggabungkan beberapa elemen energi spiritual dari setiap para mushannifin yang terus bergelayut di setiap sel otak.

Diskusi terus berlanjut. Makin seru. Acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang diprakasai Bang Karni Ilyas kalah seru. Namun bukan ini orientasinya dari paragraf demi paragraf di atas.

Ada hal mendasar sebenarnya yang dapat kita telisik lebih dalam. Ibarat buah kelapa, hal yang paling penting dan kaya faedah adalah patinya.

Saya punya cerita keren. Menarik dikisahkan. Sebagai orang NU saya selalu menjaga tradisi orang-orang NU: sowan. Sekitar empat tahun lalu di sore hari di bulan Ramadhan saya pergi sowan pada Gus Amin, salah satu tokoh Kiyai muda NU Pasirian, Lumajang.

Seperti kiyai-kiyai muda NU lainnya, beliau menyambut saya dengan senyum semringah seraya menepuk-nepuk bahu saya penuh keakraban. Jauh sebelumnya, saya memang bolak-balik pergi sowan pada beliau, selain tabarrukan, saya juga, minta doa dan arahan melalui petuah bijak beliau. Bukankah meminta nasihat kepada orang yang lebih tua dan alim bagian dari akhlaq yang baik dan kelaziman?

Setelah melalui beberapa drama yang biasa diperankan oleh warga sekitar dalam menyambut tamunya; mempersilakan duduk, menawarkan minuman, dan bentuk suguhan lainnya, saya diajak diskusi layaknya seperti diskusi di atas tapi dalam porsi murid dengan kiyai bukan sesama santri dengan gaya bebas, sebebas santri terjun jeburkan diri ke sungai sepaket dengan sarung melingkari tubuhnya. Inilah kenapa saya membanggakan tradisi NU? Karena orang-orang NU tau bagaimana menginterpretasikan etika dalam setiap porsinya.

Kembali pada plot cerita paragraf di atas. Seketika Gus Amin bertanya pada saya: Njenengan belajar berbagai disiplin ilmu di pondok sebenarnya orientasinya apa? Saya terdiam. Menunduk. Sesekali saya melihat wajah beliau sambil senyam senyum sembari menyeruput teh hangat di meja. Dengan takdim saya menjawab: bothen smerap Gus (saya tidak tahu Gus).
Begini, beliau menjawab dengan tenang: Panjenengan belajar berbagai disiplin ilmu di pondok mulai dari belajar ilmu tajwid, Nahwu (gramatika), Sharaf (morfologi), Balaghah (sastra), fiqh, ushul fiqh, dan lain-lainnya orientasinya hanya satu: akhlaq; bagaimana cara kita beretika dengan baik (bi husnil khuluq) pada Tuhan dan sesama mahkluk Tuhan.

Berbanding lurus dengan orientasi mendasar dalam setiap disiplin ilmu yang dikaji: akhlaq, menurut perspektif Gus Amin, tentu ada hal yang tak kalah penting yang terselip dari diskusi saya dengan sahabat-sahabat saya di siang bolong tersebut, dan ini yang akan menjadi pokok pembahasan: menyatukan beberapa elemen energi spiritual para ulama salafuna as-shaalih dalam setiap karya yang tak lekang oleh waktu. Itulah kenapa karya-karya ulama terdahulu masih bisa berbanding lurus dengan semua aspek kehidupan umat saat ini dan masih faktual dijadikan rujukan. Sebab, sependek pengetahuan saya, mereka selalu menyatukan elemen energi spiritual dalam setiap langkah kecil yang dilaluinya.

Langkah-langkah kecil itu dimulai dari surau-surau kecil di pedesaan berlanjut ke jenjang pesantren dan terus berkelanjutan. Ini bukan perkara perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Lebih dari itu, ini tentang bersambungnya tali sanad (transmisi) antar guru dengan guru lainnya. Sehingga hal inilah yang nantinya akan membentuk elemen energi spiritual dalam hati dan otak kita ketika memahami dari sebuah kitab yang dibaca baik secara tekstual atau kontekstual. Bila divisualkan begini, para ulama yang telah memberikan ilmu serta para ulama mushannifin yang menyalurkan ilmunya melalui sebuah karya bersatu-padu membentuk sel-sel kecil bergelayut di setiap inci otak untuk menghasilkan sebuah pemikiran yang hebat.

Oleh karenanya bersyukurlah seseorang yang mempunyai garis dan sanad keilmuan jelas dari guru-guru yang baik dan berakhlak mulia. Apalagi yang ilmunya menyambung hingga Nabi Muhammad SAW. Karena Allah menghendaki Nabi Muhammad menjadi hambanya yang terpilih dan menjadi yang terdepan dari nabi-nabi.

Rasulullah juga merupakan sosok ma’shum (terpelihara dari dosa), tidak pernah lahn, yaitu melakukan kesalahan di dalam menerapkan hukum, baik dalam berdakwah maupun di dalam canda dan gurauannya.

*) Guru MTs. Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul

Leave a Reply

Your email address will not be published.